NASIONAL

Dukung Sandiaga Soal Wisata Halal, Fahri Hamzah: Itu Tren Gaya Hidup Global

Jakarta (SI Online) – Wakil Ketua DPR RI, Fahri Hamzah menyambut baik gagasan calon presiden (capres) nomor urut 02, Sandiaga Uno soal wisata halal yang ditolak oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali. “Itu tanda bahwa pak Sandi Uno tidak punya trauma agama. Beliau hanya ingin naikkan pasar wisata Bali. Demi rakyat Bali,” ujar Fahri melalui pernyataan tertulisnya, Rabu (27/2/2019).

Menurutnya, wisata halal itu digemari diseluruh dunia bukan karena halal istilah agama tapi karena identik dengan bersih dan sehat. Halal itu artinya “Green lifestyle”. Dan yang trauma dengan kata halal di negara ini adalah pengidap Islamophobia sejati. Mereka tidak paham Islam, tidak paham NKRI, mereka sejatinya adalah kelompok sakit hati dengan Ketuhanan Yang Maha Esa. Mereka ini punya masalah dengan NKRI. Halal itu bersih dan sehat.

“Mereka yang anti NKRI dan Pancasila ini tidak suka dengan kata Halal, Syariah, Jamaah, Jihad, Ummat, dll. Mereka punya penyakit Islamophobia dalam hati. Itu tersimpan rapi. Mereka tidak mau Indonesia besar dan maju dengan kenyataan adanya Islam sebagai komponen besar di sini,” jelas Fahri.

Pendiri partai Gerakan Arah Baru Indonesia (Garbi) itu mengatakan, halal sekarang telah menjadi gaya hidup yang tinggi. Di Eropa, halal pada semua hal semakin digemari sebab itu ijazah bagi kualitas yang tinggi; halal identik dengan bersih, sehat, hijau, peduli lingkungan, hemat energi, bergizi, dll. Konotasi yang baik. Di Eropa juga, penikmat daging halal semakin tinggi padahal lebih mahal, karena daging halal dijamin tidak saja penyembelihan yang sesuai syariah tetapi artinya memenuhi standar higienis yang tinggi. Hewan masuk perhitungan halal melalui sertifikasi yang ketat. Para pencinta hewan di negara-negara barat semakin mengemari dan merekomendasikan daging halal karena proses penyembelihannya yang dianggap paling “sedikit unsur/rasa sakit pada hewan”. Itulah pelaksanaan Sunnah dalam penyembelihan hewan.

“Di Amerika orang-orang Yahudi yang mengkonsumsi daging dengan prinsip kosher pergi ke toko halal, di Jepang saya pernah berkunjung ke industri halal Jepang yang semakin maju. Indonesia tidak saja tujuan wisata halal juga konsumen wisata halal. Halal Life Style di dunia adalah peluang. Lalu apa salahnya Indonesia menjadi tujuan wisata halal seperti London menjadi tempat dan pusat bisnis keuangan syariah? Apa yang salah dengan konsumen Halal Life Style yang ingin pergi ke Bali lalu memakan makanan halal? Kenapa mereka tidak dilihat sebagai pasar?” ungkap Fahri.

Menurutnya, Islamophobia di negeri ini telah membuat kita terhimpit di sudut yang salah. Malu menjadi negara muslim dan tanggung ingin sok moderen, ingin maju dengan meninggalkan identitas dan lupa diri dan lupa identitas. Akhirnya jadi pecundang dan jadi embel-embel negara lain. “Kelompok politik atau calon presiden yang memelihara Islamophobia dalam dirinya akan terungkap. Kamuflasenya akan tersingkap dan rakyat takkan mau lagi ditipu dengan kosmetika. Lihat saja nasib mereka, ini akhir dari dusta mereka. Cukuplah, cukup!” kata dia.

Ia menambahkan, sewaktu sertifikasi “keuangan dan perbankan syariah” sedang ramai, ia melihat fakta bahwa konsep ini lebih dahulu berkembang di negara-negara mayoritas non muslim diluar Indonesia, termasuk China. Ternyata, konsep ini menguntungkan. Sekarang, mereka anggap skema syariah itu bagus dan makin banyak yang percaya ini adalah skema yang lebih adil bagi pemilik uang dan pemilik usaha. Maka berjamuran lah “Islamic window” di hampir seluruh negara. Kenapa diterima, karena baik. Tapi kenapa kita takut, karena pengecut.

“Kita ini sudah lama dihinggapi oleh kelompok yang tidak bisa mencerna Sila Ketuhanan Yang Maha Esa dan Pancasila sebagai falsafah negara. Mereka sok modern padahal dungu (mengutip Rocky Gerung) dan inferior akibat penjajahan yang lama. Di tangan merekalah bangsa ini mundur,” tutur Fahri.

“Indonesia, mustahil maju dengan inferiority complex dan Minderwaardigheids complex. Indonesia hanya akan maju dengan kebanggaan dan kepercayaan diri sebagai bangsa merdeka dan berdaulat. Itulah masa depan Indonesia Raya kita,” tandasnya.

red: adhila

Artikel Terkait

Back to top button