SURAT PEMBACA

Kekeringan Melanda, Ini Solusinya

Kekeringan merupakan siklus tahunan. Puncaknya Juni, Juli, Agustus. Oktober normal lagi karena sudah mulai hujan. Sekalipun begitu, solusi yang mengakar belum ditemukan untuk mengatasi kekeringan. Padahal kekeringan berdampak besar bagi kehidupan umat. Sebab air yang merupakan kebutuhan vital, tidak saja bagi manusia tapi makhluk lain di muka bumi.

Berdasarkan data Dinas Tanaman Pangan dan Holtikura Jabar per 28 Juni 2019, saat ini tercatat 12.048 hektare lahan telah mengalami dampak. Dari 573.842 hektare lahan pertanian di Jawa Barat sebanyak 52.983 hektare terancam kekeringan, sedangkan 82 hektare lahan sudah mengalami puso. Kerusakan irigasi memperluas potensi gagal panen lahan pertanian di Jawa Barat pada musim kemarau.

Rinciannya, kata Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura Jawa Barat Hendi Jatnika, , yakni dari 1.108 hektare lahan pertanian di Sukabumi mengalami puso 38 hektare, di Cianjur ada 757 hektare (lahan) dan puso 17 hektare, sedangkan di Cirebon dari luas 871 hektare lahan terdapat 22 hektare mengalami puso.(Republika.co.id, 2/7/2019).

Hendi mengatakan, kerusakan sejumlah irigasi tersebut mengakibatkan aliran air tidak mencapai sawah yang letaknya jauh di desa-desa. Sebanyak 82 hektare telah mengalami gagal panen tersebut terjadi di Sukabumi, Cianjur dan Cirebon. Sawah tadah hujan, debit air yang menurun, perebutan air di sektor hulu, serta ketidakdisiplinanan petani mengikuti jadwal tanam merupakan faktor lain yang berpengaruh.

Pihak Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura telah melakukan optimalisasi peranan brigade Alsin atau Unit Pelayanan Jasa Alat (UPJA) Mesin Pertanian. Khususnya dalam memobilisasi bantuan pompa air di wilayah yang terdampak kekeringan. Menanam palawija sebagai alternatif dengan kondisi keterbatasan air.

Kekeringan juga terjadi di beberapa wilayah. Bendungan Katulampa di Kota Bogor Jawa Barat pun kering. Karena debit hujan berkurang, ia berada di titik terendahnya. Debit air Katulampa yang tersalurkan ke saluran irigasi menuju Ciliwung. Jika Ciliwung kering, maka berdampak ke sawah, rumah tangga, pabrik dan lainnya. (Republika.co.id, 1/7/2019)

Berbagai upaya mengatasi dampak kekeringan telah dilakukan pemerintah daerah. Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Majalengka bekerja sama dengan Polres telah mengirimkan 5 ribu liter air bersih ke Desa Heuleut, Blok Ahad, Kecamatan Kadipaten, Kabupaten Majalengka. Sebanyak 132 desa yang tersebar di 12 kecamatan di Kabupaten Majalengka yang berpotensi mengalami kekeringan. (Republika.co.id, 3/7/2019).

Akademisi pun menyumbangkan idenya dengan cara melakukan antisipasi melalui sumur membuat resapan. Setiap rumah dianjurkan memilikinya, agar air hujan meresap dan tersimpan, tidak langsung terbuang ke sungai. Sumur resapan tersebut bersifat sebagai cadangan air. Menghambat laju kekeringan, sebab air tanah bertahan lebih lama.

Solusi Islam Mengatasi Kekeringan

Para ahli hanya melakukan tindakan kuratif ala kadarnya, preventif belum tersentuh. Mencari akar permasalahan timbulnya kekeringan belum dilakukan dalam skala kehidupan bernegara. Beberapa bahkan melihat faktor ledakan jumlah penduduk penyebab terganggunya daur air. Mereka menganggap jumlah manusia yang banyak yang menghabiskan debit air.

Padahal masalahnya ada pada ideologi yang diemban sebuah negara. Liberalisme sebagai sumber petaka. Melalui tangan pengusaha, liberalisasi sumber daya alam kehutanan, pertambangan, hingga pembangunan kawasan ekonomi khusus dan energi baru terbarukan, tak pelak berpengaruh besar dalam merusak siklus air.

Eksploitasi alam merusak cadangan air. Penebangan dan pembakaran hutan, membuat CO2 menumpuk di atmosfer. Akibatnya panas matahari yang dipantulkan bumi terjebak sehingga temperatur bumi dan atmosfer akan meningkat. Inilah yang disebut pemanasan global atau global warming. Pemanasan global dapat memperlambat proses evaporasi dan kondensasi.

1 2Laman berikutnya
Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button
Close
Close