OPINI

Kualitas Pemilu 2019: Tanpa Visi Misi Penuh Kisi-Kisi

Pemilihan umum tahun 2019 adalah pemilu serentak untuk memilih Anggota DPR, DPRD, DPD, Presiden dan Wakil Presiden. Dalam pemilu ini semua kontestan dipilih dalam satu kali pencoblosan.

Sistem pemilihan langsung dan serentak ini baru pertama kali dilaksanakan di Indonesia semenjak negara ini berdiri. Karena itu butuh kualitas penyelenggara yang paham dan mengerti tentang pemilu, bukan hanya berkaitan dengan prosesnya tapi juga substansi dari pemilu itu.

Substansi pemilu pada umumnya adalah memperbaiki kualitas kepemimpinan, guna memajukan bangsa sebagaimana yang dicita-citakan oleh Pancasila dan UUD 1945. Berkaitan dengan pemilu ini saya khususkan tentang masalah pemilihan Presiden dan Wakil Presiden. Dalam sistem negara Indonesia, pemilihan Presiden dan Wakil Presiden dilaksanakan secara langsung, bebas, rahasia dan dipilih secara langsung oleh rakyat.

Istilah “one man, one vote” dalam pemilu Indonesia, berarti setiap rakyat memiliki hak untuk memberikan satu suara untuk pasangan calon. Tidak ada perbedaan hak bagi orang yang tidak sekolah dengan yang profesor, bagi elit dan rakyat, bagi miskin dan kaya, dalam memilih presiden, semua sama, punya hak satu suara. Kebebasan berdemokrasi yang dalam memilih pemimpin tertinggi di Indonesia, bagi saya sudah jauh dari konsep negara Indonesia yang dldicita-citakan oleh founding fathers kita.

Pancasila dan UUD tidak menghendaki pemilihan secara langsung, yang bebas seperti ini. Melainkan pemilihan itu melalui sistem keterwakilan. Karena itu Perlu ada desain pemilu yang baik dalam aspek demokrasi, efektivitas dan efisiensi. Sehingga mampu menghadirkan pemimpin kompeten, baik di eksekutif maupun legislatif dengan kapabilitas, integritas, dan loyalitas kepada bangsa dan negara.

Demokrasi dan pemilu kita terlalu liberal akibatnya proses pemilu dan kepemimpinan yang dihasilkan belum mencerminkan karakter bangsa yang ber-Ketuhanan, perikemanusiaan, yang kedepankan persatuan dan keutuhan NKRI. Benih-benih kegaduhan selalu muncul ketika pemilu diselenggarakan, karena sistem Indonesia tidak mencari formula sebagaimana yang menjadi kultur politik Indonesia.

Sebagai perbandingan, pemilu Amerika Serikat yang kita anggap sebagai pemilu yang liberal, memiliki sistem pemilihan yang disebut sebagai electoral college. Suatu sistem yang rumit dan unik, dikatakan langsung juga tidak, dikatakan sistem perwakilan seperti Indonesia di zaman orde baru atau orde lama pun tidak.

1 2 3 4 5 6Laman berikutnya

Artikel Terkait

Back to top button