RESONANSI

Anies Menyoal Kemandirian Kedaulatan NKRI

Tahun politik 2023 ini menimbulkan kemirisan. Perasaan miris, kemudian kuatir dan berlanjut ke ketakutan itu muncul, manakala kita melihat situasi “perang udara” komunikasi di media sosial.

Antardua kubu semenjak Pilpres 2019 yang sudah terdifraksi, ditambah dikarenakan oleh polarisasi yang terjadi, sengaja dipelihara oleh rezim penguasa untuk kepentingan politik pemecah belah. Sungguh sudah sangat kritikal situasinya dan sudah pasti merusak tatanan demokrasi yang sehat.

“Perang udara” komunikasi berseliweran di medsos itu berupa adu informasi yang diragukan validasi dan faktualisasi kebenarannya: hoax, ujaran kebencian, narasi provokasi, agitasi bahkan seringkali fitnah.

Jika tidak disadari bahwa itu ulah dan narasi jualan dan permainan ujaran politik para buzzeRp, mungkin perang komunikasi udara bisa jadi me-landing dengan tajam ke darat menjadi pertempuran sesungguhnya. Inilah yang paling berbahaya bisa menimbulkan tindak anarki dan chaos yang tidak kita inginkan.

Betapa tidak! Bayangkan, ketika Anies menjabat Gubernur, tak ada satu pun prestasi yang diakui, apalagi yang dibanggakan oleh kubu lawan.

Bahkan, Anies dalam praksis dianggap zonk, kecuali katanya hanya “pintar” bermain narasi makna kata dan kata-kata.

Padahal, kita banyak saling tahu, lembaga ekspertisme independen dan internasional di bidang pembangunan kota megapolitan modern mengapresiasi Anies membangun memajukan Jakarta dengan luar biasa.

Salah satunya yang paling keren dan meraih award peringkat pertama dan terbaik dunia, adalah program JakLinko yang mampu mewujudkan integrasi transportasi massa: murah, menjangkau banyak wilayah tujuan hingga periferialnya, dan ini mengandung azas keadilan dalam struktur strata masyarakat pengguna jasa maupun infrastruktur transportasinya.

Sekarang ketika tuntas menjabat Gubernur dengan nyaris sempurna menunaikan seluruh janji-janji kampanyenya, dilanjut Anies “dilamar” partai Nasdem menjadi bacapres di Pilpres 2024 dan sudah menjadi calon Presiden paling potensial —seperti diutarakan editorial koran Singapura The Street Time, terbitan 20 Januari 2023 lalu, Anies sudah dihujat, dituduh dan difitnah dengan apa yang belum dan tak akan pernah dilakukannya.

Bahkan, dipikirkan dan direncanakan pun tidak!

Jelas ini berulang-ulang bullyan kepada Anies ujaran berbau kebencian, bersifat provokatif dan agitatif, lebih nyata disebut sebagai fitnah tak berdasar, namun jelas beda level dan inilah puncak fitnah yang tertinggi dikarenakan Anies memang calon kuat dan potensial Presiden.

1 2 3 4Laman berikutnya

Artikel Terkait

Back to top button