NUIM HIDAYAT

Buku dan Pesantren

Hari-hari ini saya diberikan amanah untuk memberikan motivasi anak-anak santri SMA Pesantren El Kisi Mojokerto. Motivasi agar para remaja itu menyelesaikan buku yang ditugaskan pesantren.

Saya terus terang bangga dengan mereka. Karena saya melihat wajah yang optimis dalam menyelesaikan tugas berat itu. Membuat sebuah buku bagi anak-anak seusia mereka bukanlah hal mudah.

Tapi mereka bisa melakukannya. Selama ini santri Elkisi kelas 12 beberapa angkatan telah menyelesaikan bukunya.

Mereka membuat buku ilmiah popular yang mudah dipahami pembaca. Topiknya beragam, mulai masalah dakwah di era internet, tantangan pemuda Islam, sekulerisme dan lain-lain.

Para remaja itu bisa menulis dengan perspektif Islam, tentu menjadi kebanggaan tersendiri. Pihak pesantren dan orang tua tentu bangga ketika para santri SMA itu sanggup menyelesaikan bukunya.

Buku di era sekarang adalah termasuk barang yang langka. Masyarakat kita yang kebanyakan pegang handphone, lebih tertarik baca WA daripada buku. Lebih tertarik baca medsos daripada menelaah buku secara serius.

Padahal buku memberi pemahaman yang lebih mendalam. Buku memberi perspektif yang luas terhadap suatu masalah. Buku membuat otak lebih berfikir serius daripada membaca medsos.

Para ulama dulu agar pemikiran dan dakwahnya menyebar luas mereka selain berceramah juga membuat buku. Mulai dari Imam Ghazali, Ibnu Katsir, Ibnu Taimiyah, Raja Ali Haji, Nuruddin Ar Raniri, Hamzah Fansuri, Hasyim Asy’ari, Hamka hingga Mohammad Natsir.

Buku-buku karya santri Pesantren Elkisi Mojokerto.

Selain dilatih membuat buku, para santri di sini juga dilatih untuk berdakwah langsung di tengah-tengah masyarakat. Sebulan penuh dalam bulan Ramadhan mereka disebar ke perbagai pelosok wilayah Indonesia untuk berdakwah. Dan alhamdulillah hasilnya menggembirakan.

Tentu sebelum berdakwah mereka dibekali dengan hafalan Al-Qur’an, Hadits dan pemikiran-pemikiran Islam yang dibutuhkan oleh seorang pemuda.

Mereka dilatih menjadi da’i sejak dini. Mempunyai kemampuan menulis dan berbicara di depan publik.

Semoga mereka bisa menjadi para pejuang atau pemimpin Islam nantinya. Seperti amanah tokoh besar Islam Tjokroaminoto, “Jika kalian ingin menjadi pemimpin besar, maka menuliskan seperti wartawan dan bicaralah seperti orator.”

Wallahu alimun hakim.

Nuim Hidayat, Direktur Akademi Dakwah Indonesia Depok.

Artikel Terkait

Back to top button