NUIM HIDAYAT

Ketika Yusuf Qaradhawi Menyimak Ceramah Hasan al-Banna

Pada tahun pertama masuk di sekolah Ibtidaiyah, kami mengalami dua peristiwa sangat penting. Pertama, pada tahun tersebut pertama kali kami mengenal asy Syahid Hasan al-Banna. Mengenai hal ini, akan kami kisahkan sebagai berikut.

Biasanya setiap memasuki tahun baru Muharram, banyak masyarakat yang berkumpul bersama dalam rangka memperingati hijrah Rasulullah Saw. Mereka datang berduyun-duyun dari berbagai pelosok. Salah satu organisasi yang sering mengadakan acara seperti ini adalah Ikhwanul Muslimin Thantha.

Pada suatu malam, saudara sepupu kami bekata kepada kami, ”Kami akan pergi menghadiri pengajian Syekh Hasan al-Banna dalam rangka tahun baru hijrah. Sebaiknya kamu tak perlu ikut, tunggu rumah saja.”

Kami bertanya penasaran padanya, ”Kenapa saya tidak boleh ikut menghadiri pengajian tersebut bersama kalian?” Ia menjawab, ”Karena kamu masih kecil, padahal acara pengajian seperti ini biasanya sangat lama dan selalu berdesakan.” Kami menjawab kembali, ”Tetapi saya sangat ingin mendengarkan ceramah Syekh Hasan al Banna.”

Kemudian saudara sepupu kami tersebut berkata pada rekan-rekannya yang sudah senior di sekolah, ”Bagaimana menurut kalian, anak ini sangat ingin mendengarkan ceramah Syekh Hasan al Banna?”

Mereka menjawab, ”Bawa saja, semoga saja ia dapat mendengarkan hal-hal yang akan bermanfaat untuk masa depannya nanti.”

Kemudian kami pergi bersama ke lokasi pengajian yang tiada lain adalah kantor cabang Ikhwanul Muslimin, samping lapangan besar Thantha. Sebelum Syekh Hasan al Bana menyampaikan ceramahnya, acara tersebut diawali dengan penampilan para sastrawan terkemuka. Ceramah Hasan al Banna, banyak dinanti-nanti semua yang hadir. Mereka rela menunggu dengan penuh kesabaran, persis seperti orang haus yang menunggu diberi air minum atau seperti orang sakit yang menunggu diberi obat.

Tibalah giliran Syekh Hasan al Banna menyampaikan ceramahnya. Beliau menguraikan arti perpisahan bagi tahun yang akan berlalu. Beliau mengumpamakan tahun yang akan berlalu tersebut sebagai lembaran kertas seorang siswa yang telah banyak dicoret-coret, sedang halamannya akan segera habis. Kemudian akan segera diganti dengan kertas baru yang masih bersih, utuh dan selalu dijaga, sampai Allah SWT menghampirinya dengan penuh keridhaan.

Perumpamaan yang dibuat sangat pas dengan profesinya sebagai guru. Beliau lantas berbicara panjang lebar mengenai hijrah Rasulullah saw. Beliau mengatakan, ”Sesungguhnya sifat hijrah yang paling lengkap adalah yang tercantum dalam sebuah kisah yang terdapat dalam Al-Qur’anul Karim,

“Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita”. Maka Allah menurunkan ketenangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Al-Quran menjadikan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS at Taubah 40)

Kemudian Syekh al Banna melanjutkan pembicaraannya, ”Akan tetapi kami akan berbicara mengenai hijrah sebagai sebuah pembatas yang sangat jelas (dalam proses dakwah Rasulullah) antara dua periode berbeda, yaitu masa-masa pembentukan pribadi dan jiwa masyarakat di Makkah dan masa pembentukan masyarakat seutuhnya di Madinah.”

1 2 3 4Laman berikutnya

Artikel Terkait

Back to top button