SIRAH NABAWIYAH

Makar Kaum Kafir Gagal Total

Setiap rencana dan usaha untuk menghadang laju gerak dakwah Islam pasti menemui kegagalan. Karena Allah lah yang melindungi Islam dan para pejuang Islam.

Ibnu Hisyam dalam kitab Sirah Nabawiyah-nya menuliskan bahwa Ibnu Ishaq berkata, “Ketika orang-orang Quraisy mengetahui bahwa Rasulullah Saw mempunyai banyak pengikut, sahabat-sahabat di negeri lain dan melihat hijrahnya sahabat-sahabat beliau dari kaum Muhajirin ke sahabat-sahabat dari kaum Anshar, mereka pun sadar bahwa kaum Muslimin telah mendapatkan negeri dan mendapatkan perlindungan. Oleh karena itu, mereka mewaspadai hijrahnya Rasulullah SAW ke Madinah. Mereka juga sadar bahwa kaum Muslimin telah bersatu padu untuk memerangi mereka. Karena itulah, mereka segera menggelar rapat di Daar An-Nadwah membahas Rasulullah Saw.”

Inilah latar belakang makar yang akan dilakukan kaum kafir terhadap Rasulullah Saw. Mereka ketakutan dengan terus menyebarnya risalah Islam dan makin bertambahnya jumlah kaum Muslimin.

Hari saat mereka membuat makar itu disebut dengan Hari Az Zahmah. Pada hari itu, Iblis yang menjelma menjadi seorang kakek tua memasuki Daar an-Nadwah untuk mengikuti rapat. Ibnu Ishaq menceritakan, “Pada hari tersebut, mereka berpapasan dengan iblis -semoga Allah mengutuknya- yang menjelma menjadi orang tua yang berwibawa dan mengenakan pakaian tebal, kemudian ia berdiri di depan pintu Daar An-Nadwah. Ketika orang-orang Quraisy melihatnya, mereka bertanya kepadanya, ‘Bapak berasal dari mana?’ Iblis menjawab, ‘Aku warga Nejed yang mendengar bahwa kalian berjanji rapat untuk membahas Muhammad. Aku ingin hadir bersama kalian dan mendengar apa yang kalian katakan. Mudah-mudahan kalian mendapatkan pendapat dan nasihat dariku.’ Orang-orang Quraisy berkata, ‘Baik, masuklah.’ Iblis pun masuk bersama mereka.”

Rapat pun dimulai dengan pengantar salah satu dari mereka. “Sesungguhnya persoalan orang ini (Rasulullah Saw) adalah seperti yang kalian lihat. Demi Allah, kita tidak merasa aman jika para pengikutnya yang berasal dari selain kita menyerang kita. Oleh karena itu, buatlah kesepakatan tentang dia.” Setelah rapat dibuka, muncullah beragam pendapat. Ada yang mengusulkan supaya Rasulullah di penjara, sementara yang lain mengusulkan agar Beliau diusir dan diasingkan ke negeri lain. Tetapi kedua usulan itu dimentahkan oleh Iblis berwujud manusia itu.

Abu Jahal kemudian berbicara. “Demi Allah, sesungguhnya aku mempunyai usulan yang belum kalian lontarkan.” Para peserta rapat bertanya, “Usulan seperti apa, wahai Abu Al-Hakam.” Abu Jahal menjawab, “Aku berpendapat bagaimana kalau kita ambil dari setiap kabilah seorang pemuda yang tangguh, berasal dari keluarga bangsawan dan orang yang paling baik nasabnya di antara kita, kemudian setiap orang dari mereka kita beri pedang tajam, kemudian mereka semua pergi kepada dia (Muhammad SAW, pen), kemudian menebusnya seperti tebusan satu orang hingga dia tewas, kemudian kita merasa tenang setelah kematiannya. Jika para pemuda tersebut melakukan hal ini, darah Muhammad akan tercecer di banyak kabilah dan Bani Abdul Manaf tidak mampu memerangi semua kaumnya. Jika mereka meminta uang ganti rugi (diyat), mereka kita beri uang ganti rugi.”

Iblis dalam bentuk orang tua Nejed menimpali, “Usulan yang tepat adalah usulan orang ini. Inilah pendapat yang paling tepat.” Setelah itu orang-orang Quraisy bubar dan menyepakati usulan Abu Jahal. Itulah hasil rapat kaum kafir di Daar an-Nadwah pada hari itu. Mereka merencanakan pembunuhan terhadap Rasulullah Saw. Apakah makar itu berhasil?.

Allah Membalas Makar Mereka

Malaikat Jibril datang kepada Rasulullah Saw memberitahukan perihal makar yang telah disusun orang-orang kafir di Daar an-Nadwah. Jibril mengabarkan agar Beliau pada malam itu tidak tidur di tempat yang biasanya beliau pakai tidur. Malam itu posisi tidur Rasulullah digantikan oleh pemuda pemberani, Ali bin Abi Thalib. Rasulullah keluar rumah saat puluhan pemuda kafir dengan pedang terhunus di bawah pimpinan Abu Jahal mengepung rumah Beliau. Allah SWT ‘mengambil’ mata mereka hingga mereka tidak bisa melihat beliau. Rasulullah menemui mereka, mengambil segenggam tanah dan ditaburkan diatas masing-masing kepala mereka, seraya membaca firman Allah SWT:

“Sesungguhnya kami telah memasang belenggu dileher mereka, lalu tangan mereka (diangkat) ke dagu, maka karena itu mereka tertengadah. Dan kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding (pula), dan kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat.” (QS. Yaasin: 8-9).

Esok harinya, para pemuda kafir itupun terbelalak. Semalaman mereka menjaga rumah Rasulullah Saw, tetapi tak berhasil mendapatkan mangsanya. Mereka hanya menemukan Ali bin Abi Thalib yang sedang berbaring di ranjang Rasulullah.

Pada tengah harinya, Rasulullah Saw mendatangi Abu Bakar As Shiddiq di rumahnya. Setelah itu keduanya keluar Makkah menuju Gua Tsur. Serangkaian perencanaan hijrah telah disiapkan secara matang. Setelah tiga hari berada di Gua Tsur, Rasulullah pun berhasil hijrah ke Madinah. Terbukti, makar kaum kafir untuk menghabisi Rasulullah gagal total.

Allah Swt berfirman: “dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah Sebaik-baik pembalas tipu daya.” (QS. Al Anfaal: 30)

Hari ini, orang-orang kafir dan orang-orang yang benci dengan Syariat-Nya juga tak lelah membuat makar. Siang malam tanpa mengenal lelah mereka terus menerus menguras pikiran dan tenaga serta mengucurkan dananya yang melimpah untuk menghancurkan laju dakwah Islam. Stigmatisasi terorisme kepada umat Islam yang menginginkan diterapkannya Syariah dan Khilafah, kampanye deradikalisasi untuk melemahkan perjuangan umat Islam dan mengaburkan makna jihad, serta menghancurkan sendi-sendi ajaran Islam adalah bentuk nyata makar/tipu daya yang dilancarkan mereka.

Sampai kiamat nanti, orang-orang kafir pasti akan terus membuat makar untuk mencelakai kaum muslimin, khususnya para pejuang Islam. Tetapi ingat, sedahsyat apapun makar yang mereka buat pasti akan dibalas Allah SWT. Syaratnya, umat Islam tetap beriman, beramal shalih, sabar dan istiqamah di jalan perjuangan ini.

(Shodiq Ramadhan)

Artikel Terkait

Back to top button