NUIM HIDAYAT

Pengalamanku di Dewan Da’wah

Aku mulai terlihat di Dewan Dakwah sekitar November 1997. Saat itu aku membantu mas Aru redaktur senior Media Dakwah. Media bulanan resmi milik Dewan Da’wah.

Saat itu yang menjadi Ketua Dewan Da’wah adalah Anwar Harjono. Mohammad Natsir sudah meninggal dunia 1993. Saya bertemu atau mendengarkan pidato Buya Natsir hanya sekali yaitu tahun 1987. Saat ia meresmikan Pesantren Ulil Albab di Bogor.

Sejak terlibat di Media Dakwah itu aku jadi sering ke Dewan Dakwah. Tugasku adalah reporter. Meliput acara acara dewan dakwah atau meliputi kejadian di sekitar Jakarta. Dari reportase itu aku mengenal Hussein Umar, Muzayyin Abdul Wahab, Ramlan Mardjoned dll.

Sampai sekitar tahun 1999 aku aktif di Media Dakwah. Seminggu bisa dua tiga kali aku ke markas Dewan Da’wah di Kramat Raya 45 Jakarta Pusat. Di sana jadi mengerti aktivitas Dewan Da’wah. Di samping itu aku jadi mengenal tokoh tokoh Masyumi lewat buku buku di perpustakaan.

Perkenalanku cukup akrab pertama dengan ustadz Muzayyin. Aku pernah diperkenalkan temannya dari IIIT. Aku wawancara sebentar dan kemudian ia menyuruhku membuat resensi tentang lembaga Islam yang terkenal di Amerika, Malaysia dan Indonesia ini.

Yang kedua aku cukup akrab dengan Hussein Umar. Aku pernah ngobrol berdua dengannya beberapa kali. Salah satunya tentang keberadaan sebuah jamaah yang sering menggunakan masjid Al Furqon tapi pemikirannya beda dengan Dewan Da’wah.

Pertemuan terakhirku dengan Hussein Umar terjadi di Gedung Nusantara DPR. Saat itu kita ngobrol berdua. Ia cerita dengan bangganya bagaimana bagaimana menggolkan asas Islam dalam partai politik di Indonesia. Ia juga mengeluhkan tentang lemahnya kader-kader partai Islam. Ia mengatakan bahwa banyak kader partai Islam yang tidak berani atau memble dalam bersikap.

Di Media Dakwah itu karena kekurangan orang, selain jadi reporter aku juga jadi redaktur. Jadi tulisan aku edit sendiri. Bahkan beberapa tahun kemudian aku jadi redaktur pelaksana. Aku diserahi tanggungjawab untuk mengedit semua tulisan yang ada dan termasuk memilih foto fotonya.

Tahun 1999 aku direkrut menjadi wartawan tabloid Abadi. Media ini terbit mingguan. Sibuk sekali aku di disini. Karena media ini menyoroti perkembangan politik nasional dan kita harus mewawancara tokoh tokoh nasional. Pemimpin redaksinya saat itu Hadi Mustofa mantan redaksi Republika.

Tahun 2001 aku mulai aktif di Dewan Da’wah Depok. Saat itu aku diangkat menjadi sekretaris umum ustadz Insan Mokoginta. Sekitar sepuluh tahun aku mendampinginya. Aku sering diajak bareng ceramah dan kadang-kadang keluar kota.

Pengalaman yang tidak terlupakan adalah ajakannya berdakwah di Sulawesi Utara. Di Manado dan Bolang Mongondow. Saat itu kita berhasil mengislamkan ratusan orang. Daerah pengislaman itu terletak di bukit dan hanya bisa dilalui dengan kendaraan motor.

1 2Laman berikutnya

Artikel Terkait

Back to top button