NUIM HIDAYAT

Prabowo, Saatnya Berkaca

Bila Prabowo maju lagi sebagai capres 2024, maka ini adalah untuk kelima kalinya. Dan kemungkinan juga akan gagal lagi.

Keinginannya jadi presiden, pertama kali saat ia ikut konvensi calon presiden dari Golkar. Saat itu ia dikalahkan sama Wiranto. Kemudian ia maju kembali sebagai cawapres bersama Megawati, tapi dikalahkan SBY. Dua kali bertanding dengan Jokowi, selalu kalah.

Kini lewat partainya ia ingin kembali bertanding untuk tahun 2024. Nafsu untuk menjadi presiden, rupanya tidak pernah padam dalam dirinya. Prabowo tidak mengambil pelajaran dari Amien Rais. Amien, setelah bertanding dua kali untuk menjadi presiden, kini tahu diri tidak mencalonkan kembali. Padahal cukup banyak orang yang mendesaknya untuk maju ke gelanggang.

Banyak masyarakat yang kecewa terhadap anak Sumitro Joyohadikusumo ini. Bergabungnya ia dalam barisan Jokowi, adalah catatan merah bagi para pendukung setianya. Apalagi kini setelah menjabat sebagai Menteri Pertahanan, Prabowo tidak melakukan terobosan-terobosan yang berarti. Ia diam soal Organisasi Papua Merdeka yang terus membuat teror. Ia diam soal tenaga kerja asing China. Ia diam soal kawan dekatnya Habib Rizieq yang kini dizalimi pemerintah dan lain-lain.

Yang terjadi justru Menhan gembar gembor kehebatan pemerintah China. Ia memuja muji Jokowi berlebihan dan seterusnya.

Melihat track record Prabowo di pemerintahan Jokowi, diprediksi makin banyak pendukungnya yang tidak simpati kepadanya. Mungkin hanya anggota atau simpatisan Gerindra saja yang akan memilihnya.

Maka beberapa partai, seperti Demokrat, Nasdem dan PKS tidak melirik Prabowo sama sekali. Mereka lebih menjatuhkan pilihan kepada Anies Baswedan untuk 2024. Meski beberapa survei mengunggulkan Prabowo untuk capres 2024.

Bila Anies dan Prabowo maju bertanding, Prabowo kemungkinan besar akan kalah telak. Prabowo akan kembali dikuliti masalah keluarganya, masalah ketidakkonsistenannya kepada Jokowi, masalah puja pujinya ke China dan lain-lain.

Ditambah kini masalah pengadaan lumbung pangan yang ditanganinya di Kalimantan. Majalah Tempo terbaru melakukan investigasi terhadap Prabowo dan Moeldoko yang menangani pengadaan lumbung pangan ini. Penanganan proyek tanaman pangan ribuan hektar ini diduga dilakukan tanpa analisa dampak lingkungan yang memadai, menyebabkan kerusakan lingkungan, peraturan pemerintah yang belum selesai dan lain-lain.

Majunya kembali Prabowo untuk 2024 ini juga kesalahan anak buahnya di Gerindra. Mereka yang mengelilingi Prabowo, tidak berusaha untuk mengingatkan agar ia tidak maju lagi untuk capres. Mereka hanya menjadi pak turut dan tidak bersikap kritis kepada pimpinannya. Dan inilah sebenarnya awal mula kerusakan seorang pemimpin. Yaitu bila anak buah hanya ABS, Asal Bapak Senang Belaka.

1 2Laman berikutnya

Artikel Terkait

Back to top button