OPINI

Hibah APBD Rp1 Triliun Tidak Boleh Didasarkan Cinta

Gubernur Ridwan Kamil menjelaskan bahwa benar berdasarkan data ia telah menggelontorkan dana Rp1 Triliun kepada NU Jawa Barat. Menurutnya itu didasarkan pada kecintaan.

“Itu lah kecintaan saya kepada kaum Nahdliyin, sebanyak itulah, sebesar itulah kecintaan saya kepada kaum Nahdliyin. Hanya karena butuh penjelasan ya tinggal dijelaskan”.

Masalah Gubernur jatuh cinta kepada siapapun tentu boleh boleh saja tetapi persoalan kebangsaan dan kemasyarakatan yang berkaitan dengan dana APBD sebenarnya tidak boleh didasarkan pada rasa cinta atau benci.

Alokasi dana APBD Jawa Barat haruslah berdasarkan proporsi rasional dengan akuntabilitas yang bisa dipertanggungjawabkan kepada masyarakat Jawa Barat. Dasarnya adalah hak dan keadilan bukan suka dan tidak suka. Baik untuk sasaran maupun besaran.

Mengapresiasi Gubernur Ridwan Kamil yang siap untuk mengklarifikasi penggelontoran dana hibah APBD kepada NU karena itulah yang diharapkan dan ditunggu publik. Rp1 (satu) triliun selama 4 tahun, sehingga rata-rata Rp250 miliar per tahun untuk satu organisasi adalah jumlah yang sangat besar. Oleh karenanya klarifikasi menjadi sangat penting.

Persoalannya adalah melalui media apa atau mekanisme bagaimana klarifikasi itu akan dilakukan. Apakah Gubernur atau Pemprop sendiri yang berinisiatif membuat press release atau harus melalui penggunakan hak meminta keterangan DPRD? Atau secara khusus Ridwan Kamil menjelaskan kepada NU lalu nantinya PWNU menjelaskan kepada rakyat Jawa Barat?

Publik berharap agar masalah dana hibah 1 Triliun ini tidak begitu saja menguap tanpa kejelasan. Satu informasi penting dari Gubernur Ridwan Kamil adalah bahwa pengungkapan di depan peserta Mukerwil PWNU di Ponpes Muhajirin Purwakarta itu berbasis data. Nah apakah NU mengakui menerima sejumlah itu? Hingga kini sikapnya masih menolak dan dalam posisi minta klarifikasi.

Terbuaikah NU bahwa pengalokasian sebesar itu disebabkan atas kecintaan Ridwan Kamil pada kaum Nahdliyin? Jika sebaliknya bahwa justru itu menghinakan maka langkah tindakan lanjut apa yang akan dilakukan. Pernyataan cinta yang diterima atau cinta bertepuk sebelah tangan?

Teringat quote Ridwan Kamil bahwa dunia itu berat makanya butuh cinta untuk meringankannya.

Adakah untuk meredam kejengkelan NU, sebagaimana yang pernah diungkap oleh Wakil Ketua PWNU “telah merusak nama baik NU dan mempermalukan keluarga besar NU Jabar” perlu digunakan bahasa cinta?

Bahasa cinta juga nampaknya digunakan oleh Zulhas Ketum PAN dan Mendag yang berharap dan berdoa Ridwan Kamil naik jabatan.

1 2Laman berikutnya

Artikel Terkait

Back to top button