NUIM HIDAYAT

Teladan Kepemimpinan Mohammad Natsir

Sekitar April 2020 lalu, saya mendapat hadiah dari sahabat baik saya, Haji Aru Syeif Asaddullah. Saya diberi Majalah Media Dakwah edisi Maret 1993/Ramadhan 1413H. Mas Aru, saya memanggilnya, adalah mantan Pemimpin Redaksi Media Dakwah tahun 90-an. Pemimpin Redaksi Media Dakwah yang pertama adalah Mohammad Roem, ahli diplomasi dan mantan Wakil Perdana Menteri RI.

Edisi Maret 1993 adalah edisi khusus Media Dakwah yang berisi liputan, komentar dan artikel tentang wafatnya pahlawan Islam dan tokoh besar bangsa, Mohammad Natsir. Seperti diketahui, Natsir wafat di RSCM Jakarta, 6 Februari 1993 jam 12.10 tepat saat dikumandangkannya azan Zuhur. Usianya tepat 84 tahun, 6 bulan dan 6 hari. Natsir lahir pada 17 Juli 1908.

Mantan Perdana Menteri Jepang, Takeo Fukuda saat itu menyatakan bahwa kabar meninggalnya Natsir lebih dahsyat dari bom Hiroshima (tahun 1945). Utusan PM Jepang, Nakajima menyatakan bahwa ia diutus Fukuda menemui Natsir di Indonesia sampai 200 kali.

Mengenang wafatnya Natsir, Nakajima menulis artikel khusus dalam Media Dakwah dengan judul: “Kami Banyak Belajar dari Mohammad Natsir”. Ia menyatakan bahwa Mohammad Natsir bagi rakyat Jepang mempunyai arti khusus. “Beliau banyak memberi nasihat kepada pemerintah kami,” tulisnya. Ia menyatakan,”Ketika pada tahun 1980 pecah perang antara Irak dan Iran, kami mengundang Mohammad Natsir, Mohammad Roem, dan Djanamar Adjam. Di Jepang kami berdiskusi selama lima jam dengan ketiga tamu dari Indonesia itu. Perdana Menteri, dan Menteri Luar Negeri Jepang, juga hadir dalam diskusi tersebut. Bekas Perdana Menteri Jepang, Takeo Fukuda, bertindak sebagai tuan rumah. Dalam diskusi tersebut, Mohammad Natsir menyarankan supaya pemerintah Jepang melakukan kontak dengan Ayatullah Hashemi Rafsanjani (Presiden Republik Islam Iran). Atas saran tersebut, pemerintah Jepang kemudian membentuk sebuah komite yang terdiri dari beberapa anggota parlemen. Komite itulah yang melakukan kontak dengan Rafsanjani, sesuai dengan saran Mohammad Natsir.”

Nakajima juga menyatakan bahnawa ia ingin ‘mempropagandakan Mohammad Natsir’ di Jepang. Karena itu ia perlu banyak sekali data tentang Mohammad Natsir. Ia melanjutkan tulisannya,”Ketika saya dan Idris No Madjid (wartawan Indonesia di Jepang –red) menyampaikan berita wafatnya Mohammad Natsir kepada mantan Perdana Menteri Jepang, Takeo Fukuda, dia tampak sangat bersedih. Menurut Takeo Fukuda, dalam situasi dunia sekarang, dimana Uni Soviet sudah hilang, Amerika Serikat tidak begitu kuat dan tidak terlalu pandai, serta kaum Muslim sudah mulai marah melihat ketidakadilan dunia, hanya Mohammad Natsir yang mampu menjembatani kepentingan Dunia Barat dengan Dunia Islam; antara orang-orang kulit putih dengan orang-orang kulit berwarna. Otak Mohammad Natsir tidak ada di Eropa, tidak ada di Asia. “Pemikirannya sangat penting saat ini. Saya sangat sedih,” ujar Takeo Fukuda sambil meminta agar para pembantu Mohammad Natsir meneruskan perjuangannya.”

Memang hubungan Mohammad Natsir dengan Takeo Fukuda sangat dekat. PM Jepang ini perlu nasihat-nasihat Natsir, karena perhatian Natsir yang tinggi terhadap dunia dan bangsanya. Natsir memperhatikan masalah Irak, Iran, Somalia, Chechnya dan lain-lain. Karena itu, PM Jepang itu selau bertanya kepadanya. Menurut Nakajima, Fukuda seperti ‘hamba’ saja dihadapan Natsir. Ia mengakhiri tulisannya,”Adalah atas saran Mohammad Natsir, Takeo Fukuda membentuk Yayasan Bantuan Fukuda untuk Somalia. Dihadapan Mohammad Natsir, Fukuda seperti ‘hamba’ saja. Apapun nasihat nasihat Mohammad Natsir, terus saja dilaksanakan. Dan itu sudah berlangsung sejak lama. Kami banyak belajar dari Mohammad Natsir.”

***

Edisi Khusus Majalah Media Dakwah 1993 itu dimulai dengan puisi yang ditulis Mohammad Natsir di perantauan ‘Medan Jihad’. Puisi itu judulnya Pemimpin Pulang. Ditulis Natsir 24 Agustus 1961/Maulud 1384 H. Saya kutipkan puisinya:

Pemimpin Pulang

Empat cara pulang bagi seorang pemimpin dari perjuangan :

Dia pulang dengan kepala tegak
membawa hasil Perjuangan

Dia pulang dengan kepala tegak
tetapi tangan dibelenggu musuh
untuk calon penghuni terungku
atau lebih dari itu
Riwayatnya akan jadi pupuk
penyubur tanah perjuangan
bagi para Mujahidin seterusnya

Dia pulang. Tetapi yang pulang hanya namanya.
Jasadnya sudah tinggal di medan Jihad.
Sebenarnya di samping namanya, yang turut pulang ruhnya
yang hidup dan menghidupkan
ruh umat sampai tahun berganti musim
serta mengilhami para pemimpin
yang akan timbul di belakangnya

Dia pulang dengan tangan ke atas
Kepala terkulai, hatinya menyerah
kecut kepada musuh
yang memusuhi Allah dan Rasul
yang pulang itu jasadnya
yang satu kali juga akan hancur
nyawanya mematikan ruh ummat
buat zaman yang panjang.

Entah pabila ummat itu
akan hidup kembali
mungkin akan ditukar oleh Ilahi
dengan ummat yang lain
yang lebih baik nanti

Ia “Pemimpin” dengan tanda kutip

***

1 2 3Laman berikutnya

Artikel Terkait

Back to top button