SAKINAH

Keluarga Penuh Cinta di Atas Landasan Mulia

‘Cinta Keluarga, Cinta Terencana’. Sebuah slogan indah yang mengiringi tema ‘Hari Keluarga, Hari Kita Semua’ pada peringatan Hari Keluarga Nasional tahun ini. Nampaknya ada misi tersembunyi di balik slogan indah itu.

Yang pertama, ada narasi yang ditanamkan, bahwa kebahagiaan dan cinta dalam keluarga akan terwujud manakala setiap pasangan mengikuti program KB. Maksudnya, harus ada perencanan sejak awal menikah, yakni hanya memiliki dua anak.

Ada rasa kekhawatiran, jika memiliki banyak anak maka akan jauh dari suasana cinta dan bahagia. Seakan menekankan bahwa rezeki yang dikaruniakan Allah di bumi ini tak akan cukup jika harus dibagi dengan jumlah penduduknya. Semakin banyak populasi yang menginjak bumi, rezeki yang diterima akan semakin kecil.

Sebagaimana yang disampaikan oleh Sahbirin Noor, Gubernur Kalimantan Selatan. Beliau menyampaikan, “Ingat, bumi kita ini stagnan, dia tidak berubah, tidak akan bertambah luas. Tanah yang ada dimanfaatkan oleh warga bumi dan semakin berkurang karena populasi manusia yang selalu bertambah. Salah satu upaya untuk meminimalkannya, dengan melaksanakan program Keluarga Berencana.” (Beritasatu.com, 04/02/2019).

Logika ini terpengaruh sebuah teori yang dicetuskan oleh Malthus, seorang tokoh ekonomi aliran klasik dalam sistem ekonomi Kapitalisme. Malthus berpendapat bahwa pertumbuhan penduduk berdasarkan deret ukur, sedangkan pertumbuhan makanan (kekayaan) berdasarkan deret hitung.

Seakan kita lupa, bahwa Allah-lah Sang Pemberi rezeki pada setiap makhluk bernyawa. Sebagaimana firman Allah: “Dan tidak ada satupun makhluk yang berjalan di muka bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya.” (Huud 6).

Ayat di atas memberikan pemahaman kepada kita bahwa seberapa banyak jumlah penduduk suatu negeri tidak ada hubungannya dengan kemiskinan/kekurangan makanan yang melanda, sebagaimana teori Malthus. Tersebab Allah-lah yang menanggung rezeki dan makanan bagi setiap mahluk hidup termasuk manusia.

Hanya saja, situasi saat ini memaksa seorang Ayah untuk menelan pahit getir kehidupan, menyaksikan keluarganya dalam kondisi kekurangan. Hal ini tentu merupakan suasana yang tak diinginkan setiap kepala rumah tangga. Sang Ayah pasti mendambakan kehidupan sejahtera dan bahagia.

Problem kemiskinan ini sejatinya disebabkan karena tatanan kehidupan kita, termasuk perekonomian, mengacu pada aturan kapitalisme. Dimana segala interaksi yang ada berdasar pada manfaat semata, tanpa memperhatikan halal haram. Sumber daya alam melimpah, yang seharusnya haram dimiliki oleh segelintir orang, bisa berpindah tangan menjadi hak milik pribadi.

Inilah problem ekonomi menurut Islam, yaitu distribusi kekayaan yang tidak merata. Bukan kelangkaan pangan sebagaimana pandangan ekonomi Kapitalisme. Artinya, penduduk dengan jumlah sedikit maupun banyak, selama pendistribusian kekayaan buruk dan tidak merata, maka jumlah orang miskin (tidak mendapat makanan) akan tetap tinggi dan terus menigkat.

Yang kedua, harganas tahun ini kembali mengaruskan ide gender, dengan kedok pemberdayaan perempuan. Hal ini justru akan mengakibatkan lemahnya generasi. Karena ibu tak lagi menjadi lahan subur tempat bersemainya pembentukan generasi bangsa yang unggul.

Pemberdayaan perempuan justru semakin menjauhkan seorang ibu dari tugas utamanya. Ibu akan disibukkan pada pekerjaan di luar rumah. Anak dibiarkan bersandar pada teman, pengasuh, juga lingkungan yang tidak kondusif. Apalagi pada usia emas, tempat peletakan dasar-dasar akidah Islam.

Paradigma berpikir perempuan harus diluruskan kembali. Bahwa seorang perempuan akan berdaya manakala dia mampu menyempurnakan amanahnya sebagai seorang istri dan ibu. Demikian agungnya tugas seorang ibu, maka tak layak jika ikut arus dalam gerakan keluar rumah dengan dalih pemberdayaan perempuan.

Untuk itulah, menjadi tugas negara memberikan edukasi kepada para perempuan. Pendidikan boleh setinggi-tingginya. Namun ilmu yang didapat harus mampu memberikan kontribusi bagi keluarga dan umat. Tanpa menggerus fitrahnya sebagai seorang ibu, namun ada karya nyata yang dipersembahkan bagi peradaban ini, yakni terciptanya generasi yang siap menjadi pengisi peradaban dunia.

[Ita Mumtaz]

Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button
Close
Close