OPINI

Budaya TikTok dan Wanita

Kadang saya bertanya, apa sih untungnya TikTok utama, belaga kayak orang kesurupan dan joget lupa pada aurat yang terlajur dipublikasi. Tak kenal tempat dan kondisi hati, jiwa, maupun kesempatan.

Wanita yang terjerumus dalam belitan itu rela meluangkan jiwanya dan banyak waktunya hanya untuk dipuji bahwa dirinya memang cantik, pintar juga menarik.

Tiga kombinasi yang selalu diburu, karena tanpa itu banyak orang yang rela tak bisa bernafas. Mati walau nafas masih terasa. Pamer bagian tak terpisahkan.

Budaya TikTok apa negatif?

Tergantung siapa pelakunya. Tapi kalau kita meruntut dari fakta yang ada, layaknya kita bertanya: lebih banyak manfaat apa mafsadat?

Sebab kita harus punya ukuran dalam hidup. Kalau ingin mengikuti kemajuan tanpa batas moral yang ada hidup bukan bahagia tapi dikungkung lingkaran setan.

Kebablasan tanpa nilai dan aturan sejatinya hanya siksaan. Beda kalau tahu batas aturan dan tahu tujuan akan langkah.

Kita tak tahu di balik wanita yang goyang dengan pakaian seronok, make-up tebal naudzubillah, lekuk tubuh indah nan mampesona tersimpan banyak masalah kejiwaan. Yaitu tanpa pamer semua yang dimiliki tak berarti apa-apa. Bisa jadi kumpulan anugerah itu hanya siksaan belaka. Iya atuh seonggok daging memiliki harga karena dijaga, coba kalau tak terjaga, mungkin banyak yang jijik lagi menghina.

Kata pakar psikologi, kita hari ini tengah terkena wabah kejiwaan. Dunia tengah dilanda penyakit cemas dan galau kepribadiaan. Sayangnya bayak yang tidak menyadari. Masih bisa tersenyum palsu akan realitas yang terjdi. Padahal jiwanya rapuh belaka. Hanya butuh waktu akan meledak di waktunya.

Seumpama burung di sangkar kita bisa berkicau tiap saat, tiap waktu, tiap kesempatan hanya untuk mengabarkan kita bahagia dan damai hidupnya.

Padahal burung itu tak kemana-mana. Jangankan tahu, untuk makan saja tiap hari ia diberi. Di luar sana banyak burung yang bebas berkeliaran, bisa singgah di mana saja. Sesekali singgah di kandang, selebihnya terbang ke mana yang dia mau.

Bisa jadi dia tahu burung mana saja yang pura-pura senang akan kungkungan peradaban. Dia tertawa akan nasib mereka yang belum juga peka bahwa hidup itu sementara. Kecantikan dan kemolekan tubuh hanya jadi komoditas modernitas. Dikurangi nilai dan hampa makna.

Kalau toh disalahkan biasanya ada pembenaran, “itu hak. Kenapa kamu yang nyinyir juga sibuk julid!”

Padahal efek negatifnya amat banyak dan tak korban yang warung, apakah itu juga apakah itu juga julid? Kalo iya, dalam konteks apa?

Baik adanya wanita yang sudah terlanjur suka dengan tik-tok dan budaya pamer tanpa nilai mengaca pada kera yang telah jadi mesin pencari uang. Kera yang disebut topeng monyet sekalipun kita tertawa menanggung penderitaan.

Betapa dia diculik dari habitatnya. Dilatih agar punya keterampilan. Dipecut kalau tak menurut. Tak diberi makan kalau nakal. Ketika mahir dia jadi tontonan demi komoditas kekejaman manusia. Sifat kebintangannya diluluhkan demi hiburan manusia.

Siapa pun yang kini tenggelam di dunia maya tanpa arah dan tujuan yang jelas sejatinya terapung-apung oleh kemajuan tanpa sadar terpenjara oleh kepentingan semu. Entah sampai kapan menyadari betapa rugi sisa hidup hanya pamer tanpa eseni apa-apa. Kapan mikir untuk mampir di kampung abadi? Wallahu ‘lam. []

Pandeglang, 20/2/2021 10:23

Mahyu An-Nafi

Artikel Terkait

Back to top button