SUARA PEMBACA

Nasib Demokrat Usai Kena “Ghosting”

Sampai kini polemik perebutan paksa Partai Demokrat oleh KLB Deli Serdang masih belum menemukan titik terang.

Akan kemana buntut dari hadirnya seorang pucuk Istana di tengah eksalasi politik negeri yang tengah dicekik pandemik ini, kita masgul menunggu sambil melototin harga sembako yang naik-turun. Ya Allah, berat banget ini, setidanya bagi sebagian kita yang kantongnya sering lepet!

Pak SBY, dari berita yang saya baca nampak menyesal pernah menggolkan nama itu jadi panglima. Meminta maaf juga ampun pada Sang Pencipta atas keputusan di masa lalu.. ya, dalam hal ini Pak SBY baper.

Tentu ini masih dalam kategori wajar, walaupun ada yang menyayangkan atas sikap Presiden ke-6 Indonesia itu. Pasalnya PKB pun di masa Demokrat berkuasa itu juga jadi dualisme. Gus Dur masih hidup juga, pendiri dan tokoh sentralnya. Tapi tetap kisruh.

Lagian tak hanya Demokrat, partai lain pun pernah mengecap kisruh sesama kader. PDI-P tahu sendiri di masa Orba bagaimana jatuh bangun diteror kekuasaan. Masyumi tak ketinggalan di masa Orla sampai harus dibubarkan oleh Bung Karno karena pertimbangan kontroversi, tokohnya pun sampai dibekuk. Bukan di-ghosting lagi.

Deretan lainnya: Partai Golkar, PAN, PPP dan lainnya juga merasakan loh apa yang diraskan Demokrat sekarang. Jadi gak aneh, biasa sebenarnya. Cuma menariknya, kenapa harus seorang Moeldoko yang “disusupkan” ke tengah partai berlambang bintang mercy itu?

Ini yang masih teka-teki. Siapa dalang dan aktor utamanya. Kalau rajin mengikuti penuturan pakar politik, wuih macam kentut yang sudah dua abad tak dikeluarkan.. sedap-sedap pahit gitu.

Kenapa harus sosok Pak Mul, kan ada figur lain yang tidak duduk di kursi kekusaan, misalnya Abu Janda, bang Deny Siregar atau dosen komunikasi dari UI yang berkacamata itu loh, siapa namanya? Kok saya lupa ya. Biar gak vulgar. Jadi ramainya beda, terus pasti Pak SBY gak merasa partai yang dibesarkannya di-ghosting gitu.

Tapi okelah, semua sudah terjadi. Tak usah buat kita pusing, karena kita bukan bagian kader pastinya juga nampaklah beban hidup yang cukup numpuk, pusingkan mikirin hal demikian.

Saran sih, kalau ada yang mendengarkan, polemik begini ujungnya bisa gak mendongkrak pertumbuhan ekonomi?

Nasib Demokrat memang masih menggantung tapi yang diharapkan sekalian rakyat itu pasca pro-kontra demikian akankah berefek pada momentum persatuan dan baiknya kualits demokrasi? Jadi jelaskan ada kepentingan semua di sini, bukan cuma silih ganti kasus.

Kalau kata Pak JK, demokrasi kita mulai turun kualitasnya di bawah pemerintahan Pak Jokowi. Itu kata analisis dari luar setelah melihat dinamika sosial politik dunia. Kalau Presiden siap dikritik, kemarin-kemarin ke mana saja gampang “esmosi” dikritik?

Lihatlah di penjara, ayo siapa yang banyak kena pasal UU ITE?!

Ini loh dinamika politik, tak hanya di negeri tercinta. Di belahan dunia lainnya pun sama. Selalu punya warna dari intrik yang menarik diwacanakan.

Poin pentingnya, dengan hadirnya polemik ada perbaikan dengan kualitas kebijakan yang menjemukan. Kalau tetap sama, ya apa gunanya. Hasilnya tetap aja, konflik hanya manuver tanpa esensi. Serius, hayati lelah Bang?! Wallahu ‘alam. []

Pandeglang,13/3/2021

Mahyu An-Nafi

Artikel Terkait

Back to top button