NUIM HIDAYAT

Adil dalam Al-Qur’an

Adil adalah kata yang penting dalam Al-Qur’an. Puluhan ayat Al-Qur’an bicara tentang keadilan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adil bermakna sama berat, tidak berat sebelah, tidak memihak, berpihak kepada yang benar, berpegang pada kebenaran, sepatutnya, dan tidak sewenang-wenang.

Sementara itu Imam Al-Ghazali dalam kitab al-Mustashfa memberi definisi keadilan dalam riwayat dan pensaksian sebagai suatu ungkapan mengenai konsisten perjalanan hidup dalam agama. Hasilnya merujuk kepada suatu keadaan yang mantap dalam jiwa yang menjamin takwa dan mu’ruah (sikap jiwa) sehingga mencapai kepercayaan jiwa yang dibenarkan.

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata: “Yang dimaksud dengan adil ialah orang yg mempunyai sifat ketakwaan dan muru’ah”.

Kriteria adil menurut ahli hadits adalah orang yang muslim, merdeka, tidak melakukan dosa besar dan tidak terus menerus melakukan dosa kecil. Imam Syafi’i ditanya, “Siapakah adil itu?”, beliau menjawab,“Tidak ada orang yang selamat sama sekali dari maksiat. Namun jika seseorang tidak melakukan dosa besar dan kebanyakan amalnya baik, maka dia adil.

Adil lawannya batil, mungkar atau zalim. Bila keadilan mendapat `cahaya` dari Allah, maka batil atau zalim adalah hilangnya cahaya dari Allah. Sehingga ia berselimut dalam kegelapan. Orang yang mengerjakan kezaliman atau kebatilan ia terselubungi kegelapan syetan.

Dalam Al-Qur’an, konsep keadilan tidak semata-mata adil terhadap makhluk. Tapi juga adil dalam penghormatan terhadap Yang Maha Mencipta (Allah). Karena itu menyekutukan Allah –mengagung-agungkan harta, jabatan, pangkat, syetan dll- adalah kezaliman yang besar. “Sesungguhnya syirik itu adalah kezaliman yang besar` kata Al-Qur’an.” (lihat QS Luqman 13).

Adil adalah fitrah bagi manusia. Setiap manusia yang normal suka pada keadilan dan benci pada kezaliman. Mereka yang berbuat tidak adil/zalim, pasti dimusuhi manusia. Yang bersekutu dengan orang zalim adalah orang-orang zalim juga (dalam kegelapan).

Adil dimulai dengan adil dalam pemikiran. Yakni seorang Muslim bila menimbang sebuah pemikiran/gagasan ia harus mencari yang terbaik. Ia berani membandingkan pemikiran-pemikiran yang ada, dan kemudian mencari yang terbaik (dan benar). Firman Allah SWT:

“(yaitu) Mereka yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang terbaik. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah dan mereka itulah Ulil Albab (kaum terpelajar).” (QS az Zumar 18).

Berlaku adil tidak mudah. Nafsu manusia seringkali menyuruh manusia untuk berlaku zalim. Apalagi bagi pemimpin –apakah pemimpin organisasi atau pemimpin negara- orang-orang di sekitar pemimpin itu kadang-kadang memberikan informasi yang menguntungkan dirinya sendiri. Makanya tidak heran, bila Rasulullah Saw menempatkan pemimpin yang adil sebagai orang pertama yang mendapat perlindungan di hari kiamat.

1 2 3 4Laman berikutnya

Artikel Terkait

Back to top button