#Bebaskan PalestinaINTERNASIONAL

Lingkungan Saya di Gaza Telah Hilang, Tinggal Puing dan Kesunyian

Shujaiya dulu menyimpan rumah, kisah, dan kehidupan kami. Kini ia terhapus, bersama dengan sebagian dari siapa diri kami.

Oleh: Asem Alnabih, Juru Bicara Kota Gaza

Lingkungan saya di timur Gaza, Shujaiya, telah hilang! Hancur jadi puing, tak tersisa satu batu pun di atas yang lain. Jalan-jalan yang dulu dipenuhi tawa anak-anak, teriakan para pedagang, dan irama kehidupan sehari-hari, kini sunyi, tertutup debu dan kehancuran. Apa yang dulu sebuah komunitas penuh cerita dan kenangan kini terhapus dalam sekejap.

Beberapa hari lalu, saudara saya, Mohammed, kembali ke Shujaiya untuk memeriksa rumah keluarga kami. Saat kembali, ia mengatakan kepada ayah saya bahwa yang tersisa hanyalah dinding-dinding patah dan tiang-tiang berserakan. Beberapa jam kemudian, kami dikejutkan dengan kabar bahwa ayah saya sendiri nekat datang, menantang bahaya untuk melihat dengan matanya sendiri. Di tempat di mana setiap langkah bisa berarti kematian, ia memilih berjalan di antara reruntuhan masa lalu kami.

Rumah itu adalah rumah yang dibangun kakek dan ayah saya dengan kerja keras bertahun-tahun, rumah yang menyimpan mimpi ayah, penuh jejak keringat dan pengorbanannya. Di sanalah ia membesarkan anak-anaknya, di sanalah kami merayakan pernikahan dan ulang tahun, di sanalah begitu banyak kenangan keluarga terukir. Dan kini, rumah itu hanya tinggal puing.

Namun kehilangan keluarga kami bukan hanya satu rumah ini. Rumah ayah saya yang hancur kini ditambah dengan apartemen saya yang terbakar, apartemen kakak perempuan saya, Nour, yang dibom, rumah kakak perempuan saya, Heba, yang dihancurkan, dan dua apartemen kakak perempuan saya, Somaia—satu jadi puing, satu lagi terbakar. Lalu ada pula gedung milik paman saya, Hassan, yang hancur, gedung milik paman Ziad, rumah paman Zahir, apartemen bibi saya, Umm Musab, apartemen bibi saya, Faten, serta rumah-rumah bibi saya—Sabah, Amal, dan Mona—yang semuanya musnah. Dan ini baru kerugian di lingkar keluarga inti kami. Di sekeliling kami, kerabat, sahabat, dan tetangga tak terhitung jumlahnya juga kehilangan rumah mereka, dengan kenangan-kenangan yang terkubur di bawah puing.

Ini bukan sekadar soal nilai materi yang luar biasa besar. Ya, rumah-rumah itu berisi perabot, barang pribadi, dan benda-benda berharga. Tapi kerusakan ini jauh lebih dalam dari sekadar benda. Yang dirampas dari kami adalah sesuatu yang tak tergantikan. Rumah bisa dibangun lagi, tapi rasa memiliki yang lahir dari melangkah di jalan-jalan yang akrab, dari hidup di lingkungan tempat keluargamu tumbuh turun-temurun—itu tidak bisa direkonstruksi dengan batu bata dan semen.

Shujayea lebih dari sekadar bangunan. Ia adalah sebuah komunitas yang terajut dari hubungan, sejarah bersama, dan kenangan kehidupan biasa. Di sanalah ada toko roti tempat kami membeli roti segar saat fajar, warung kecil di sudut tempat tetangga berkumpul bercerita, masjid tua Ibn Othman yang bergema doa-doa Ramadan. Itulah ruang-ruang tempat anak-anak bermain, keluarga merayakan, dan tetangga saling menopang di masa suka maupun duka.

Ketika sebuah lingkungan seperti Shujaiyaterhapus, bukan hanya dinding yang runtuh; sebuah cara hidup ikut lenyap. Kehancuran itu memutus ikatan antar tetangga, menceraiberaikan keluarga ke pengungsian dan kamp-kamp, meninggalkan luka yang tak mungkin benar-benar sembuh oleh proyek rekonstruksi apa pun. Rumah yang dibangun ulang mungkin punya empat dinding dan atap, tapi ia bukan lagi rumah yang dahulu menyimpan generasi kisah.

Rasa sakit ini bukan hanya milik keluarga saya. Di seluruh Gaza, lingkungan-lingkungan utuh rata dengan tanah. Setiap gundukan puing menyimpan sejarah sebuah keluarga, tawa anak-anak, kebijaksanaan para tetua, dan cinta komunitas yang dulu hidup di sana. Setiap rumah yang hancur adalah saksi bisu biaya kemanusiaan dari perang ini—biaya yang tak bisa diukur dengan uang atau laporan kerusakan.

Yang hilang dari kami bukan sekadar harta, melainkan identitas. Rumah adalah tempat hidup seseorang terjalin, tempat tonggak kehidupan dirayakan, duka dibagi, ikatan terbentuk. Melihat begitu banyak rumah musnah berarti melihat satu bangsa dicabut dari akar tempat yang membentuk mereka. Ini adalah penghapusan yang disengaja—bukan hanya nyawa, tapi juga memori, warisan, dan rasa memiliki.

Membangun kembali tidak akan mengembalikan yang dirampas. Bangunan baru, jika pun nanti berdiri, hanya akan berdiri di atas kuburan kenangan kami. Ia tidak akan mengembalikan tahun-tahun kerja keras ayah saya, tidak akan mengembalikan rasa nyaman dan aman yang dulu hadir dengan memiliki rumah. Ia tidak akan membangkitkan kembali lingkungan yang kami kenal—yang penuh kehangatan, keakraban, dan kehidupan.

Kehancuran Shujaiya adalah luka yang akan tetap terbuka lintas generasi. Ini bukan semata urusan bantuan kemanusiaan atau dana rekonstruksi. Ini tentang pembongkaran yang disengaja atas hati dan jiwa sebuah komunitas. Tak ada beton yang bisa membangun kembali kepercayaan, menghidupkan kembali kenangan, atau mengembalikan tetangga yang terbunuh.

Shujaiya telah hilang. Bersamanya, sebagian dari diri kami ikut terkubur. Namun bahkan saat kami berduka, kami tetap menggenggam kisah-kisah, cinta yang dulu memenuhi rumah-rumah kami, dan harapan bahwa suatu hari keadilan akan datang. Sebab meski rumah kami bisa dihancurkan, ikatan yang kami bawa dalam hati tidak bisa dimusnahkan, begitu pula kenangan yang takkan pernah bisa dihapus buldoser atau bom apa pun. []

Sumber: Al Jazeera

Artikel Terkait

Back to top button