RESONANSI

Anies Penumpas Oligarki

Tidak seperti ketika Jokowi di-endoorsment cuan sokongan oleh oligarki terpilih kembali menjadi Presiden di 2019, euforianya sangat luar biasa dari para pendukungnya, baik dari partai oligarki, LSM underbouw-nya, sampai rakyat swingvoters yang sesungguhnya telah mereka bodohi: hanya dengan sekantung sembako dan cuan recehan.

Bukan karena rakyat gak mau peduli politik, cuman sebagian besar pendukungnya yang wong cilik berasal dari partai banteng moncong putih itu karena terpaksa dan dipaksa.

Yang membuat rakyat gak tersadar, ketiadaan perubahan dari pemiskinan dan kemiskinan itu sendiri yang tak terjamah, sebenarnya tanggung jawab negara, quasi-pemerintahnya yang menjalankan yang telah dipilihnya sendiri. Jadi, bagaimana pun jangan coba-coba menyalahkan wong cilik itu.

Sekarang dua tahun menjelang 2024, singgasana mereka sudah terasa sunyi. Sebagian, sudah menarik diri, sambil berharap-harap cemas.

Jokowi yang sudah dipastikan lengser dan diganti karena perintah UUD 1945, dan masih berharap bermimpin indah tiga periode, terkaburkan dan terkuburkan, sudah ditelan betapa besarnya kekuatan euforia kedaulatan rakyat, didulum oleh gelombang dahsyat gerakan aksi nyata komunitas relawan politik dan partisipasi publik lainnya:

Menandai datangnya sang Pemimpin baru yang digadang-gadang membawa tiga energi berkemajuan membangun Jakarta: energi kesataraan dan keadilan, energi hijau, dan energi terbarukan: Anies Baswedan.

Seperti Jokowi yang sudah berkemas lebih dini dari Istana ke Solo, demikian juga koalisi oligarki korporasi, bedanya mereka menghitung dulu berapa keuntungan telah dikantongi. Sudah amankah laba bersih itu mereka taruh di Singapura dan atau di negara-negara lain yang kerjaannya selalu memberi suaka atas segala uang kejahatan itu?

Kok ada ya negara-negara yang cari cuan kesejahteraan rakyatnya dari pajak-pajak para koruptor, mafioso dan perampok negara lain?

Sayangnya, tidak seperti sudah adanya Makhamah Hukum HAM Internasional, masih tak adanya lembaga Makhmamah Ekonomi Internasional, para oligarki-koruptor dan mafioso-penyelundup lainnya masih bisa berlenggang-lenggang kangkung, beruncang-uncang kaki di kursi empuk istananya.

Tetapi, ketika ada persoalan UAS dideportasi dari Singapura tanpa alasan hukum rasional yang jelas, UAS telah memercikkan api terasa pedih dan menyengat panas di kepala mereka.

1 2 3Laman berikutnya

Artikel Terkait

Back to top button