Dewan Da’wah Kota Bogor Luncurkan Program Penanganan Narkoba Berbasis Masjid

Ia juga menekankan pentingnya spiritualitas dalam proses pemulihan, termasuk mendorong mantan pecandu untuk istiqomah salat malam dan mengikuti program hijrah pasca-rehabilitasi.
Menurutnya, pendekatan yang dilakukan bahkan telah terbukti mengurangi angka kambuh hingga 40% pada beberapa wilayah dampingan.
“Kami pernah temukan kasus seorang santri masjid yang akhirnya bunuh diri karena tidak kuat menghadapi kecanduan narkoba. Ini panggilan serius bagi kita semua untuk bertindak lebih awal,” tegasnya.
Program ini diluncurkan sebagai langkah awal untuk menciptakan sinergi antara masyarakat dan pemerintah dalam membendung arus narkoba yang telah mencapai titik mengkhawatirkan. Data menyebutkan ada sekitar enam juta pengguna narkoba di Indonesia, dan kemampuan rehabilitasi negara hanya sekitar 18 ribu orang per tahun jauh dari cukup.
Namun program ini tidak lepas dari tantangan, mulai dari keterbatasan dana, tenaga ahli, hingga perlunya pelatihan SDM masjid.
“Kami siap wakafkan tenaga dan ilmu. Tapi ini bukan hanya tugas Dewan Da’wah. Negara pun harus hadir dalam logistik dan dukungan program,” ujar Abdul Khalim dalam penutupan acara.
Acara ini diakhiri dengan deklarasi simbolis peluncuran program dan seruan kepada seluruh masjid di Kota Bogor untuk siap menjadi bagian dari gerakan nasional ini. Dewan Da’wah menargetkan dalam waktu dekat akan digelar pelatihan untuk para DKM yang siap terlibat dalam penanganan langsung ataupun penyuluhan.
“Masjid jangan hanya teriak narkoba haram, tapi hadir sebagai tempat penyembuhan,” tukas Dr. Ferdinand.
Pihaknya berharap, dalam situasi darurat narkoba yang menyebar dari kota hingga desa, program ini menjadi langkah baru yang penting. Bukan lagi hanya mengandalkan tindakan tegas dari pemerintah, tapi melibatkan masjid dan masyarakat untuk bekerja sama berdasarkan nilai agama dan kepedulian. Ketika pemerintah kewalahan, masjid dan umat hadir ikut andil dalam menjaga moral bangsa.
rep: fahmi
red: adhila