IBRAH

Hikmah Peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw

Setiap datangnya bulan Rabiul Awal, umat Islam di berbagai penjuru dunia menyambutnya dengan perayaan Maulid Nabi. Ada yang memperingatinya dengan shalawat, zikir, pembacaan sirah, hingga tabligh akbar. Pertanyaannya mengapa kita merayakan Maulid Nabi?

Jawaban singkatnya adalah karena kita mencintai beliau. Perayaan Maulid Nabi bukan sekadar tradisi, melainkan ekspresi kerinduan dan rasa syukur atas nikmat terbesar dari Allah, yaitu diutusnya Nabi Muhammad Saw sebagai rahmat bagi semesta.

Allah SWT berfirman: “Katakanlah (Muhammad): Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.” (QS. Yunus: 58)

Banyak ulama menafsirkan ayat ini sebagai anjuran untuk bergembira dengan nikmat terbesar, yakni diutusnya Rasulullah . Merayakan Maulid berarti mengekspresikan rasa syukur kita kepada Allah atas kelahiran beliau.

Aisyah r.a. pernah bertanya kepada Rasulullah ketika beliau shalat malam hingga kakinya bengkak: “Wahai Rasulullah, bukankah Allah telah mengampuni dosamu yang telah lalu dan yang akan datang?” Beliau menjawab: “Wahai Aisyah, tidakkah aku ingin menjadi hamba yang bersyukur?” (HR. Bukhari dan Muslim)

Jika Nabi Muhammad Saw yang maksum saja tidak pernah berhenti bersyukur, maka kita yang penuh dosa tentu lebih layak untuk memperbanyak syukur. Salah satu bentuk syukur itu adalah bergembira dengan kelahiran beliau, sosok yang membawa cahaya keimanan kepada kita.

Perayaan Maulid bukanlah tujuan, melainkan sarana untuk menghidupkan kembali teladan Nabi Muhammad Saw dalam kehidupan. Dari Maulid, kita mendapat tiga hikmah besar:

  1. Menguatkan cinta kepada Nabi Muhammad Saw. Setiap lantunan shalawat, setiap kisah perjuangan beliau, membuat hati kita terikat semakin erat dengan Rasulullah ﷺ.
  2. Membangkitkan semangat meneladani akhlak. Dengan mengenang kehidupan Nabi, kita terdorong untuk meniru kesederhanaan, kejujuran, dan kasih sayangnya.
  3. Menyatukan umat. Maulid menjadi momentum berkumpulnya umat dalam kebaikan, memperkuat ukhuwah, dan menebarkan energi positif dalam masyarakat.

Namun Maulid bukan sekadar pesta lahiriah. Ia seharusnya menjadi momentum untuk meneteskan air mata rindu. Sebab, bagaimana mungkin kita tidak terharu ketika mendengar bahwa Nabi Muhammad Saw sepanjang hidupnya selalu memikirkan kita.

Di malam-malam tahajudnya, beliau memohon ampun untuk umatnya. Di akhir hayatnya, beliau masih mengucapkan, “Ummati… ummati…”. Maka, merayakan Maulid adalah cara kita menjawab cinta itu: dengan cinta yang tulus, dengan rindu yang dalam, dengan usaha untuk meneladani beliau.

Merayakan Maulid Nabi Muhammad Saw bukan sekadar acara tahunan, melainkan sarana untuk menghidupkan hati yang sering lalai. Jika perayaan itu mampu membuat kita semakin cinta kepada Nabi, semakin rajin bershalawat, semakin berakhlak mulia, maka Maulid telah mencapai tujuannya.

Biarlah setiap lantunan shalawat menjadi bukti cinta kita. Biarlah setiap air mata yang menetes saat mendengar kisah beliau menjadi saksi kerinduan kita. Sebab kelak, di hari kiamat, kita berharap Rasulullah Saw mengenali kita dan berkata, “Mereka inilah umatku.” []

Fakhurrazi Al Kadrie, S.H.I., M.Pd., Penyuluh Agama Islam Kementerian Agama Kota Pontianak.

Artikel Terkait

Back to top button