OASE

Kebohongan adalah Perkara Besar

Wahai Orang-orang Beriman Tepatilah Janji-janji [005.001]

Sabda Nabi SaW yang paling popular tentang tanda-tanda munafik antara lain yang diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, beliau berkata, Nabi SaW bersabda, “Tiga hal siapa yang berada padanya maka ia adalah munafik, sekali pun shaum, shalat dan mengaku Muslim. Apabila berbicara Berdusta. Apabila Berjanji Mengingkari. Apabila diberi Amanat Khianat”. (H.R. Bukhari dan Muslim).

Ketiga perbuatan ini merupakan Tanda-tanda Munafik yang menonjol yang harus diketahui oleh setiap orang Islam dan wajib dihindari. Bahkan ini menjadi pelajaran yang paling elementer dalam Pelajaran Akhlak menyangkut pergaulan dalam bermasyarakat, berbangsa bahkan dalam bernegara, sama dengan Thaharah dalam Pelajaran Fikih.

Ibnu Mas’ud RA tidak pernah memberikan janji kecuali dengan mengatakan ‘Insya Allah’. Ini lebih utama. Kemudian jika hal itu dipahami sebagai kepastian janji maka harus ditepati kecuali berhalangan. Jika pada saat memberikan janji sudah bermaksud untuk tidak menepati maka hal itu adalah Nifak (Munafik). Allah AwJ memperingatkan, “Wahai orang-orang Beriman! Tepatilah Janji-janji”. (QS VI, al-Maidah [5]. 1).

Janji-janji sebagai hamba Allah AwJ tentu untuk melaksanakan Syahadat Tauhid dan Syahadat Rasul yang telah diikrarkan. Syahadat Tauhid adalah berjanji untuk melaksanakan Ayat-ayat Suci (Qur’an). Syahadat Rasul berjanji untuk melaksanakan Sunnah Rasul yang Nyata. Dan tentu saja perjanjian luhur adalah kesepakatan yang dibuat dalam pergaulan berbangsa dan bernegara yang tersurat dalam Ayat-ayat Konstitusi yang diawali dengan kesepakatan dalam Piagam Jakarta yang ditanda-tangani oleh Sembilan Orang Bapak Pendiri Bangsa. Tidak mau menepati janji-janji dalam Ayat-ayat Suci berarti ‘Ingkar Janji’ dan tidak mau melaksanakan kesepakatan dalam Ayat-ayat Konstitusi berarti ‘Khianat’. Nah, inilah biangnya kemunafikan yang ancamannya tentu sangat berat.

Berbohong padanannya adalah berdusta. Berbedanya antara yang lahir dan yang batin, antara perkataan dan perbuatan. Berbeda antara yang telah diutarakan dengan fakta di lapangan. Berbeda antara yang di luar dan yang di dalam adalah termasuk Nifak atau Munafik. Dan ini termasuk dosa yang amat buruk serta aib yang keji. Sahabat Abu Bakar Shiddiq RA berkhutbah setelah Nabi SaW wafat.

Beliau berkata, “Rasulullah SaW pernah berdiri di tempatku ini pada tahun pertama”. Kemudian Abu Bakar menangis dan berkata, Rasul SaW bersabda, “Sesungguhnya dusta membawa kedurhakaan. Sedangkan kedurhakaan menyeret ke Neraka. Dan sesungguhnya seseorang berdusta hingga ditulis di sisi Allah sebagai Pendusta”. (H.R. Bukhari dan Muslim).

Abdullah bin Amir berkata, Nabi SaW datang ke rumah kami sedangkan aku seorang anak kecil, kemudian aku pergi untuk bermain lalu ibuku berkata, “Wahai Abdullah, kemarilah! Aku ingin memberimu”. Kemudian Nabi SaW bertanya, “Apa yang ingin engkau berikan kepadanya?” Ibuku menjawab, “Kurma!” Nabi SaW bersabda, “Jika kamu tidak memberinya niscaya kamu ditulis satu kedustaan atas dirimu”. (H.R. Abu Daud).

Dalam sebuah riwayat Nabi SaW bersabda dalam keadaan bersandar, “Maukah aku beritahukan kepada kalian tentang dosa-dosa besar yang paling besar? Yaitu menyekutukan Allah dan durhaka kepada kedua orangtua”. Kemudian Nabi SaW duduk yang tadinya bersandar serta melanjutkan sabdanya, “Ketahuilah dan berkata Dusta”. (H.R. Bukhari dan Muslim).

Dalam riwayat lain tentang Tanda-tanda Munafik ada tambahan hingga menjadi empat. Abdullah bin Amr RA berkata, Nabi SaW bersabda, “Empat hal siapa yang berada padanya maka ia adalah munafik dan siapa yang salah satu sifat tersebut ada padanya maka pada dirinya ada salah satu sifat nifak hingga ditinggalkannya. Apabila berkata berdusta, apabila berjanji mengingkari, apabila membuat kesepakatan berkhianat dan apabila bertengkar berlaku curang”. (H.R. Bukhari dan Muslim).

1 2 3Laman berikutnya

Artikel Terkait

Back to top button