OASE

Keutamaan Sepuluh Hari Awal Dzulhijjah

Dari Suhail bin Abi Shalih dari ayahnya dari ka’ab radhiyallahu ‘anhu ia berkata, Allah memilih masa tertentu, dan masa yang paling dicintai oleh Allah adalah bulan-bulan haram, dan bulan-bulan haram yang paling dicintai oleh Allah adalah Dzulhijjah, dan hari-hari bulan Dzulhijjah yang paling dicintai oleh Allah adalah sepuluh hari pertama.”

Keutamaan lainnya, pada sepuluh hari awal Dzulhijjah ini terdapat hari ‘Arafah yang merupakan hari yang paling utama dalam setahun. Ini menunjuklan keutamaan sepuluh hari awal Zhulhijjah.

Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallahu ‘alahi wasalam bersabda, “Hari yang paling utama adalah hari ‘Arafah.” (HR. Abu ‘Awanah dan Ibnu Hibban).

Dari Jabir radhilyallahu ‘anhu, dari Nabi shallahu ‘alahi wasalam bersabda, “Dan tidak ada satupun yang lebih utama dari hari ‘Arafah.” (HR. Abu Musa Al-Madini).

Imam Ibnu Rajab berkata, “Dan juga (keutamaan lainnya) sepuluh hari awal Zhulhijjah mencakup hari ‘Arafah, dan telah diriwayatkan bahwa ia adalah hari yang paling utama dari hari-hari dunia sebagaimana telah datang dari hadits Jabir yang telah kami sebutkan.” (Lathaif Al-Ma’arif: 344).

Imam Ibnu Hajar juga berkata, “Semua ini menunjukkan bahwa sepuluh hari awal Zhulhijjah lebih utama dari hari-hari di bulan lainnya tanpa ada pengecualian, ini dalam hari-harinya.” (Lathaif Al-Ma’arif: 344).

Menurut imam Ibnu Rajab, malam-malam sepuluh hari awal Zhulhijjah lebih utama dari malam-malam sepuluh Ramadhan. Beliau membantah pendapat ulama yang mengatakan bahwa sepuluh Ramadhan lebih utama dari sepuluh hari awal Zhulhijjah.

Imam Ibnu Rajab berkata, “Adapun pada malam-malamnya, sebahagian ulama mutaakhirin mengklaim bahwa malam-malam sepuluh Ramadhan lebih utama dari malam-malamnya, karena terdapat padanya malam Lailatul Qadar, ini (pendapat) yang sangat jauh (dari kebenaran. Kalau hadits Abu Hurairah “Menghidupkan semua malam-malam darinya (sama) dengan menghidupkan malam Lailatul Qadar” itu shahih, maka hadits ini dengan jelas menunjukkan keutamaan malam-malam sepuluh hari awal Dzhulhijjah dari malama-malam sepuluh Ramadhan, karena sepuluh hari Ramadhan memiliki keutamaan dengan satu malam darinya, dan ini (sepuluh hari awal Zhulhijjah) semua malamnya sama keutama’an dengan malam Lailatul Qadar dalam menghidupkan malamnya dengan ibadah menurut hadits ini, akan tetapi hadits Jabir yang diriwayatkan oleh Abu Musa (Al-Madini) jelas menunjukkan keutamaan hari-harinya seperti malam-malamnya juga. Dan jika di katakan hari-hari, maka sudah termasuk ke dalamnya malam-malamnya secara otomatis, dan demikian pula malam-malam masuk dalam hari-harinya. secara otomatis. Dan Allah ta’ala telah bersumpah dengan malam-malamnya, Dia berfirman, ” Demi Far. Dan demi malam yang sepuluh.” (Al-Fajr: 1-2). Ini juga menunjukkan keutamaan malam-malamnya (sepuluh hari awal Zhulhijjah). Akan tetapi, tidak ada satupun hadits shahih bahwa malam-malamnya dan tidak pula satu malam darinya sebanding dengan malam Lailatul Qadar.” (Lathaif Al-Ma’arif: 344).

Selanjutnya beliau berkata, “Yang benar setelah dikaji masalah ini adalah pendapat beberapa ulama muta’akhirin yang berpendapat bahwa keseluruhan sepuluh hari awal Zhulhijjah ini lebih utama dari keseluruhan sepuluh Ramadhan, meskipun pada sepuluh Ramadhan ini terdapat satu malam yang tidak ada lebih utama dari malam itu.” (Lathaif Ma’arif: 345).

Keutamaan lainnya, bulan Zhulhijjah merupakan bulan yang paling utama dari bulan-bulan haram.

Imam Ibnu Rajab berkata, “Dan apa telah berlu perkataan Ka’ab menunjuikan bahwa bulan Zhulhijjah lebih utama dari bulan-bulan haram. Begitu pula Sa’id bin Jubair pera hadits ini dari Ibnu Abbas, “Tidak ada bulan-bulan yang paling besar keharamannya melainkan bulan Zhulhijjah.”. Di dalam musnad Al-Bazzar, dari Abu Sa’id Al-Khudhuri, dari Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam, “Penghulu segala bulan adalah Ramadhan, dan yang paling besar keharamannya adalah Zhulhijjah.” Pada sanadnya ada perawi dhaif. Di dalam Musnad Imam Ahmad, dari Abu Sa’id Al-Khudhuri juga, bahwa Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda pada haji wada’ dalam khutbahnya pada hari Nahr (Hari Raya Kurban), “Ketahuilah ! Sesungguhnya hari-hari yang besar keharamanmya adalah hari-hari kalian ini. Ketahuilah ! Sesungguhnya bulan-bulan yang paling besar keharamannya adalah bulan kalian ini. Dan ketahuilah ! Sesungguhnya negeri yang paling besar keharamannya adalah negeri kalian ini.” Dan diriwayatkan demikian juga dari Jabir, wabishah bin Ma’bad, Nayyith bin Syarith, dan lainnya, dari Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam. Semua ini menunjukkan bahwa bulan Zhulhijjah adalah bulan yang paling utama dari bulan-bulam haram lainnya, di mana ia paling besar keharamannya.” (Lathaif Al-Ma’arif: 345)

Di antara keutamaanya, bulan Zhulhijjah merupakan penutup bulan-bulan yang ditentukan yaitu bulan-bulan haji yang Allah berfirman padanya, “(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi,” (Al-Baqarah: 197) yaitu Syawal, Zhulqa’dah dan sepuluh hari awal Zhulhijjah. Diriwayatkan demikian dari Umar, anaknya Abdullah, ‘Ali, Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Ibnu Az-Zubair, dan lainnya dari para sahabat. Inilah pentapat kebanyakan para ulama tabi’in, mazhab Asy-fi’i, Ahmad, Abu Hanifah, Abu Yusuf, Abu Tsaur, dan lainnya. Akan tetapi Asy-fi’i dan sekelompok ulama lainnya mengeluarkan hari Nahr darinya, namun kebanyakan ulama memasukkannya, karena ia haji akbar, dan padanya ada terjadi kebanyakan perbuatan manasik haji. Sebahagian ulama berkata, “Zhulhijjah semuanya termasuk bulan-bulan haji. Ini pendapat Malik, Asy-Syafi’i dalam qaul qadim, dan satu riwayat dari Ibnu Umar juga, serta diriwayatkan oleh sekelompok ulama salaf, padanya ada hadits marfu’ yang diriwayatkan oleh Ath-Thabrani, namun tidak shahih,. (Lathaif Al-Ma’arif: 348).

Di antara keutamaannya, sepuluh hari awal Zhulhijjah merupakan hari-hari yang Allah yang sudah ditentukan oleh Allah untuk berzikir padanya atas rezeki dari Allah berupa hewan. Allah ta’ala berfirman, “Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, atau mengendarai setiap unta yang kurus, mereka datang dari segenap penjuru yang jauh. Agar mereka menyaksikan berbagai manfaat untuk mereka dan agar mereka menyebut nama Allah pada beberapa hari yang telah ditentukan atas rezeki yang diberikan Dia kepada mereka berupa hewan ternak.” (Al-Hajjj: 27-28).

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5Laman berikutnya

Artikel Terkait

Back to top button