OPINI

Membangkitkan Peradaban Islam

Tidak hanya kaum muslim menikmati hidup di bawah keagungan Islam, juga non muslim. Bukan cuma manusia yang sejahtera, hewan dan alam pun dalam pengaturannya. Hanya saja, fakta kemilau kejayaan Islam, ditutupi dari benak kaum muslim. Sehingga, umat pun lupa akan keindahan hidup dalam naungan kepemimpinan yang berlandaskan takwa.

Padahal umat telah mencapai banyak hal, mencakup perkara akidah, perundang-undangan, akhlak, bahasa, sastra, seni, juga pembangunan dalam bidang teknik, militer, industri dan lain sebagainya. Sejak masa Rasulullah hingga para khalifah sesudahnya masyarakat maju dan berjaya. Hak-hak umat dijaga, masyarakat hidup makmur dan sejahtera.

Jika disandingkan masa pemerintahan Islam dengan Eropa, akan tampak jelas perbedaannya. Sebuah surat kabar di Kota Koln Jerman pada 28 Maret 1819, “Kolnische Zeitung” mencela proyek penerangan jalan, ‘Gelapnya malam sebagai aturan Tuhan dan seharusnya manusia haram mengubahnya’.

Eropa gelap di malam hari, jalan-jalan belum diperkeras, kotoran manusia dan sampah berserakan di mana-mana. Kerendahan berpikir tampak pada masyarakat yang tidak menggunakan Islam sebagai asas mengatur tingkah lakunya. Kerusakan terjadi, masyarakat tidak mendapat solusi bagi seluruh persoalan kehidupan.

Sementara jauh sebelum itu, di tahun 950, jalan-jalan di Cordoba sudah diperkeras, sanitasi dan drainase teratur dengan baik, lingkungan bersih dan malam diterangi dengan lampu minyak. Ratusan masjid, pemandian, sekolah umum, rumah sakit, dan perpustakaan pun menjadikannya kota kelas dunia.

Tak hanya itu, kemudahan mendapat pendidikan bermutu, menjadikan umat cinta ilmu. Mereka mendatangi majelis ilmu berbondong-bondong, bak cendawan di musim penghujan. Hasil dari pendidikan kala itu, banyak dijumpai adanya polymath, yaitu seseorang yang menguasai banyak ilmu.

Perekonomian pun luar biasa majunya. Umar bin Abdul Aziz mencetak rekor, menjadikan masyarakat berkecukupan. Alhasil, sulit mencari mustahik, pada masa pemerintahannya yang hanya 2 tahun 8 bulan. Kekuasaannya sangat luas, meliputi Hijaz, Syam, Mesir, Yaman, dan Bahrain. Saat ini, tidak ada satupun pemimpin negara mampu menandingi kapasitasnya.

Jika sekarang sulit mencapai peradaban yang bernilai tinggi, sebab sekularisme dijadikan sebagai asas pengurusan umat. Sekularisme mengganti aturan Allah dengan aturan buatan manusia sebagai acuan dan panduan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Oleh karenanya wajar, jika tidak menghasilkan kebangkitan sebagaimana layaknya masa kehilafahan dahulu.

Maka jelas, umat harus menanggalkan sekularisme dan kembali pada ajaran Islam. Jumlah muslim terbanyak bisa menjadi aset untuk bangkit, sebab telah memiliki modal dasar berupa akidah yang dibawa sejak lahir. Potensi ini tidak boleh tenggelam terlibas opini yang justru menjadikan umat sebagai pecundang. Sangat berbahaya, sebab menjadikan mereka asing terhadap jati diri yang sebenarnya yakni khoiru ummah atau umat terbaik.

Karenanya, bagi umat yang merindukan kebangkitan peradaban, dakwah yang menyeru pada kemurnian Islam adalah dakwah yang tepat. Dakwah pada Islam ideologis. menjadikan akal manusia berpijak di atas pemikiran yang sahih. Dari pemikiran ini, terbentuk pemahaman yang utuh tentang Islam, yang akan menggerakkan umat untuk mengguncang dunia, memperjuangkan agamanya tegak kafah di muka bumi. Wallahu’alam.

Lulu Nugroho
Muslimah Penulis dari Cirebon

Laman sebelumnya 1 2

Artikel Terkait

Back to top button