NUIM HIDAYAT

Menghidupkan Budaya Islam atau Budaya Penjajah?

Maka seharusnya pemerintah Indonesia tidak hanya membanggakan peninggalan candi-candi tapi juga membawa ke dunia internasional peninggalan-peninggalan ilmu (kitab/buku) yang diwariskan para ulama di tanah air. Misalnya karya Nuruddin ar Raniri, Hamzah Fansyuri, Abdussamad al Palimbani, Raja Ali Haji, Hasyim Asy’ari dan lain-lain. Mereka menulis karya yang menarik baik dalam masalah teologi, fiqh, tasawuf, bahasa, sejarah dan lain-lain.

Maka membaca berita kemarin (25/3) tentang rencana Walikota Depok untuk membuat museum dan tempat wisata Depok Belanda jadi mengelus dada. Langkah ini nampaknya serius, karena walikota sudah minta bantuan pada Kedutaan Besar Belanda di Jakarta.

Yang menjadi pertanyaan, mengapa walikota dalam langkah-langkah awalnya tidak mencoba membangun budaya Betawi Islam Depok dan menjadikan wisata Islam yang menarik untuk mengundang orang berkunjung ke daerahnya. Padahal umat Islam di Depok jumlahnya 93 persen.

Walhasil, kadang kita juga heran. Sementara di bandara-bandara (dan kantor pemerintah) banyak dibangun patung-patung dan dikatakan itu peradaban universal. Di sisi lain kita belum menemukan bandara-banda di tanah air, terdapat lukisan-lukisan kaligrafi indah Al-Qur’an.

Mereka mengatakan patung universal, sedangkan kaligrafi Al-Qur’an adalah sektarian. Padahal masyarakat Indonesia sekitar 84 persen Islam dan akrab dengan Al-Qur’an. Mungkin banyaknya patung itu untuk menyenangkan masyarakat asing, sedangkan masyarakat sendiri dibiarkan merana budayanya.

Sebuah bangsa menjadi besar bila mampu menampung aspirasi mayoritas rakyatnya. Bila tidak, bangsa itu menjadi bangsa yang kerdil. Wallahu azizun hakim.[]

Nuim Hidayat, Direktur Forum Studi Sosial Politik.

Laman sebelumnya 1 2

Artikel Terkait

Back to top button