Mengubah Negara

Demonstrasi kini marak di tanah air. Baik dari ojek online –akibat salah satu demonstran wafat- maupun dari kalangan buruh atau mahasiswa. Mereka sebenarnya ingin mengubah negara ini menjadi lebih baik. Di tulisan ini, saya ingin menuliskan kisahku yang berupaya ‘kecil-kecilan’ untuk ikut serta mengubah negara ini menjadi lebih baik (lebih Islami).
Ketika mahasiswa, aku ikut sebuah organisasi Islam. Aku cukup aktif di dalamnya. Aku membantu penerjemahan buku-buku bahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia. Ustadz-ustadz yang senior yang menerjemahkannya dan aku menuliskannya serta menyebarkan ke teman-teman.
Aku sering mendatangi ustadz-ustadz yang mengajariku dengan teman-teman. Aku mendatangi rumahnya dan berdiskusi tentang berbagai hal. Ada lebih dari empat ustadz yang sering aku datangi dan berdiskusi.
Karena ‘perebutan kepemimpinan organisasi’, maka organisasi itu kemudian mengalami tragedi. Beberapa orang senior, aku dan beberapa orang temanku keluar dari organisasi itu.
Sebelum aku keluar, sebenarnya aku membuat surat yang kutujukan kepada pimpinan organisasi itu. Tapi entah mengapa surat itu kemudian tidak jadi kukirimkan. Padahal surat itu penting menyibak permasahan yang terjadi dalam organisasi itu, dan mengingatkan adanya kesalahan pimpinan dalam melihat permasalahan yang ada.
Selesai kuliah dari IPB, aku bergelut dalam dunia kewartawanan. Aku merasa idealismeku akan tertampung di sana. Kebetulan aku mengenal baik seorang wartawan senior. Ia adalah (alm) ASA, wartawan senior di Majalah Media Dakwah, majalah resmi Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII).
Wartawan ini bukan main baiknya sama aku. Selain aku dilayani berdiskusi di rumahnya, juga sering diajak untuk bersilaturahmi dengan tokoh-tokoh Dewan Dakwah (Masyumi). Seperti: Anwar Harjono, Hartono Mardjono, Cholil Badawi, Ahmad Soemargono, Hussein Umar, KH Cholil Ridwan dan lain-lain. Berhadapan dengan tokoh-tokoh itu aku banyak mendengar, sesekali bertanya. Semuanya sudah wafat, kecuali KH Cholil Ridwan.
Tapi sebagai wartawan, aku pernah mewawancarai tokoh-tokoh itu untuk dimuat di Majalah Media Dakwah. Bahkan dengan Bang Hussein Umar aku cukup akrab. Ia terakhir menjabat sebagai Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia.
Aku pernah diajak ngobrol berdua di Gedung Nusantara V DPR RI. Bang Hussein waktu itu menceritakan pengalamannya sebagai Anggota DPR dalam memperjuangkan asas Islam di DPR. Ia mengeluhkan banyak anggota DPR dari Partai Islam yang kurang cerdas dan kurang berani dalam menyampaikan aspirasi Islam. Selain itu ia juga bercerita tentang berbagai hal di Dewan Dakwah.
Hussein Umar ini dikenal sebagai ‘singa podium’. Bila ia berceramah menggetarkan. Ia pandai menyusun kalimat dan membuat hadirin terpana dengan pidato-pidatonya. Data-data dari koran atau majalah, sering ia kliping dan ia gunakan dalam ceramahnya. Ketika muda, Hussein Umar adalah tokoh PII (Pemuda Islam Indonesia) di Sumatera Utara.
Sayang ketika di aktif di Majalah Media Dakwah, saya tidak mengenal Buya Mohammad Natsir. Karena saya terlibat dalam majalah itu sekitar tahun 1996, sedangkan Pak Natsir meninggal 1993. Saya melihat wajah Pak Natsir hanya sekali. Yaitu ketika ia ceramah meresmikan Pesantren Ulil Albab (1987) di Masjid al Hijri Bogor. Saat itu saya tahun pertama menjadi mahasiswa di Institut Pertanian Bogor.
Majalah Media Dakwah adalah majalah yang dilahirkan Pak Natsir dan kawan-kawan untuk menjadi suara umat dan tokoh-tokoh Islam. Majalah ini pertama kali dikawal oleh Mohammad Roem sebagai pemimpin redaksinya. Selain Media Dakwah, di Kramat Raya 45 –markas Partai Masyumi yang kemudian menjadi markas Dewan Dakwah- juga terdapat majalah Kiblat, Mimbar Jumat, Sahabat, Buletin Dewan Dakwah dan lain-lain.