Mengubah Negara

Dari situlah saya kemudian mengenal banyak tokoh dan pemikiran Masyumi. Bila dulu ketika mahasiswa idealisme Islam itu masih mengawang-ngawang, di markas Masyumi itu saya melihat ide-ide Islam itu diupayakan terwujud dalam bumi Nusantara dan dunia. Untuk mengenang tokoh-tokoh Masyumi itu saya menulis buku: “Tokoh-Tokoh Islam yang Melukis Indonesia.”
Pengalaman yang tak kalah menariknya adalah ketika saya menjadi wartawan berpolitik.com. Saat itu baru ramai-ramainya internet marak di Indonesia (tahun 2000). Banyak website-website baru bermunculan. Ada satunet.com, hukum-online.com dan lain-lain. Detik.com sudah muncul sebelumnya.
Seorang pengusaha ternama di tanah air (SJ), kemudian membentuk website bernama: www.berpolitik.com. Markasnya di dekat Pancoran, Jakarta Selatan. Saya ditarik menjadi wartawan di situ, sebagai reporter sekaligus redaksi. Saya harus meliput di lapangan, tapi saya boleh juga langsung mengupload tulisan langsung ke website.
Tiap hari dari pagi sampai sore saya nongkrong di Gedung DPR MPR. Saya membuat tiga atau empat liputan tulisan. Saya merasakan waktu itu ‘ini dunia saya’. Bila banyak reporter datang ke gedung DPR tanpa bahan pertanyaan, saya datang ke DPR sudah dengan beberapa pertanyaan di kepala.
Karena gaji saya lumayan, saya bisa berlangganan dua atau tiga koran. Tiap pagi saya baca beberapa koran, kemudian muncul ide saya harus bertanya ini ini. Sehingga waktu itu, saya termasuk wartawan yang aktif bertanya kepada narasumber. Banyak wartawan yang datang ke nara sumber cuma menodongkan alat perekam saja. Kadang mereka kurang berani bertanya, kadang kalah cepat bertanya dengan wartawan lain.
Para reporter biasanya diberi bahan-bahan pertanyaan dari redaksinya (atasannya). Karena saya reporter merangkap redaksi, maka pertanyaan itu harus saya kreasi sendiri. Dan saya suka diberi kebebasan oleh pemimpin redaksi seperti itu.
Saingan saya waktu itu reporter dari koran Kompas. Kalau saya bertanya tentang X, misalnya maka reporter Kompas itu akan bertanya tentang Y. Isi artikel reportase Koran Kompas seputar politik di DPR saat itu, sering bertentangan dengan artikel website yang saya tangani, berpolitik.com.
Bila Kompas selalu mendukung Presiden Gus Dur, maka media kita selalu mengkritisinya. Dan semestinya begitulah yang dilalukan media. Ia mesti menjadi ‘watchdog’ pemerintah atau lembaga-lembaga milik pemerintah. Ia kritis kepada pemerintah agar pemerintah berjalan di atas kebenaran. Bukan menjadi humas pemerintah dan menjdi anak manis negara. Maka sering dikatakan, media massa adalah pilar keempat demokrasi.
Sayangnya website itu tidak berlangsung lama. Sekitar satu tahun enam bulan. Seiring dengan pergantian Gus Dur ke Megawati, website saya dibubarkan oleh pengusaha itu. Semua wartawan saat itu mendapat pesangon yang lumayan.
Begitulah sedikit pengalaman hidup saya, yang mencoba ikut serta dalam mengubah negara ini menjadi lebih baik. Lebih Islami, sesuai dengan aspirasi mayoritas penduduk di negeri ini.
إِنْ أُرِيدُ إِلَّا ٱلْإِصْلَـٰحَ مَا ٱسْتَطَعْتُ ۚ وَمَا تَوْفِيقِيٓ إِلَّا بِٱللَّهِ ۚ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ
“Aku hanya bermaksud (mengadakan) perbaikan selama aku mampu. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada-Nya aku bertawakal dan hanya kepada-Nya aku kembali.” (QS. Hud : 88). Wallahu alimun hakim. (bersambung). []
Nuim Hidayat, Direktur Forum Studi Sosial Politik.