NUIM HIDAYAT

Perempuan Bingung Itu Bernama Kumaila

“Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian taqwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.” (QS Al-A’raf :26)

Hikmahnya adalah Allah mendidik perempuan agar perempuan membanggakan diri menampilkan fikiran dan akhlaknya daripada fisiknya. Karena perempuan cenderung memamerkan fisiknya daripada laki-laki. Kebanyakan perempuan jauh lama berdandannya daripada laki-laki bila diundang suatu acara.

Maka jangan heran artis-artis yang terkenal baik di Indonesia maupun di Barat, bila mereka manggung, bukan hanya pamer rambutnya, tapi pamer pahanya, perutnya dan maaf kadang pamer payudaranya.

Begitu juga Kumaila. Setelah ia membuka jilbabnya, kini ia memamerkan rambutnya, lehernya dan juga kadang ‘sebagian payudaranya’.

Memang kalau kita menuruti syahwat kita, maka perempuan yang tidak berjilbab mungkin lebih menarik. Tapi Al-Qur’an mendidik kita untuk menggunakan akal daripada syahwat. Al-Qur’an mendidik kita menjaga pandangan mata yang bisa ‘merusak akal’.


Fenomena Kumaila ini sebenarnya seperti fenomena Ulil Abshar Abdalla di tahun 2000-an. Saat itu Ulil dan kawan-kawannya begitu gencar mempromosikan Islam Liberal di tanah air. Merasa bahwa ia adalah anaknya kiai, menguasai bahasa Arab dan pemikiran Islam, ia dengan semangat membara membentuk Jaringan Islam Liberal (JIL). Ia kumpulkan ilmuwan Islam di dalam negeri dan luar negeri untuk mendukung pemikiran Islam Liberal. Ratusan artikel ditulis di media massa, buku-buku dibuat dan workshop-wrokshop diadakan. Ulil menyatakan gagasannya ini adalah melanjutkan pemikiran Nurchlish Madjid dan Gus Dur.

Rupanya kampanye Islam Liberal Ulil Abshar ini waktu itu mendapat tantangan keras dari ilmuwan-ilmuwan muda Islam yang belajar di ISTAC Malaysia. Para ilmuwan Islam yang tergabung dalam INSISTS ini waktu itu selain meluncurkan majalah Islamia juga mengadakan workshop-workshop di berbagai perguruan tinggi dan pesantren. Selain itu juga diluncurkan berbagai tulisan dan buku yang menelanjangi kelemahan pemikiran Islam Liberal.

Kini Ulil sudah banyak berubah. Bila 24 tahun lalu ia aktif menggugat kodifikasi Al-Qur’an, membuat buku pentingnya Islam Liberal, membuat tulisan tidak ada Hukum Tuhan dan lain-lain kini ia lebih banyak mengajar kitab-kitab Imam al Ghazali. Ia mengajar kitab Ihya’ Ulumiddin, tafsir Imam Ghazali dan lain-lain. Ia tidak terlihat lagi menggugat hal-hal yang mendasar dalam Al-Qur’an.

Kumaila jauh keilmuannya dari Ulil. Ia hanya pintar bicara dan keilmuannya dangkal. Ia kini ‘hanya’ didukung Cokro TV dan Ade Armando. Tidak ada kelompok ilmuwan Islam yang mendukungnya.

Meski demikian, tentu harus ada dari kalangan umat Islam yang melemahkan pemikiran Kumaila. Bila tidak, maka puluhan ribu penggemar Kumaila akan merasa yakin dengan kebenaran pemikiran Kumaila. Apalagi di zaman medsos ini bila pemikirannya tidak dilawan, maka akan semakin membesar penggemarnya. Pemikiran harus dilawan dengan pemikiran. Ini adalah ghazwul fikri bagi kita.

Mudah-mudahan Kumaila mengikuti jejak Ulil Abshar Abdalla yang ‘tobat’. Wallahu alimun hakim. []

Nuim Hidayat, Direktur Forum Studi Sosial Politik.

Laman sebelumnya 1 2 3

Artikel Terkait

Back to top button