NUIM HIDAYAT

Politik Nama Jalan

Natsir membantah pemikiran Soekarno itu. Natsir menyatakan,”Kalau kita terangkan bahwa agama dan negara harus bersatu, terbayang sudah di mata seorang bahlul (bloody fool) duduk di atas singgasana, dikelilingi oleh haremnya menonton tari dayang-dayang. Terbayang olehnya yang duduk mengepalai kementrian kerajaan beberapa orang tua bangka memegang hoga. Sebab memang beginilah gambaran pemerintahan Islam yang digambarkan dalam kitab-kitab Eropah yang mereka baca dan diterangkan oleh guru-guru bangsa Barat selama ini. Sebab umumnya (kecuali amat sedikit) bagi orang Eropa: Chalifah=Harem; Islam=poligami.”

Natsir juga menyorot tentang akhlak mulia yang harus dipunyai kepala negara. Ia tidak mengharuskan kepala negara dengan titel Khalifah. Yang menjadi syarat kepala negara adalah agamanya, sifat dan tabiatnya, akhlak dan kecakapannya untuk memegang kekuasaan yang diberikan kepadanya. Jadi bukanlah bangsa dan keturunannya ataupun semata-mata inteleknya saja.

Natsir menyatakan terhadap penguasa negara terpilih, umat mempunyai kewajiban mengikutinya selama ia benar dalam menjalankan kekuasaannya. Bila menyimpang, umat berhak melakukan koreksi atau mengingkari penguasa negara. Dalam masalah ini Islam menekankan kewajiban musyawarah tentang hak dan kewajiban antara penguasa dan yang dikuasai.

Ahmad Hasan, guru Mohammad Natsir lebih keras lagi mengritik Soekarno. (A Hasan sering menolong Soekarno ketika ditahan Belanda dengan mengirimi buku-buku Islam dan bantuan materi lainnya). Ahmad Hasan menyebut artikel Soekarno di Panji Islam yang berjudul “Memudakan Pengertian Islam”, sebagai “Membudakkan Pengertian Islam.”

A Hasan menyatakan bahwa tuan Ir Soekarno seolah-olah berkata, “Tinggalkanlah Al-Qur’an, kalau Qur’an tak mau turut kita.” A Hasan kemudian menyarankan Soekarno agar membaca buku Grey Wolf, An Intimate Study of a Dictator yang ditulis HC Armstrong.

Kata A Hassan,” Di dalam buku itu diterangkan tarikh Mustafa Kamal dari kecil sampai ia jadi diktator Turki. Di situ diceritakan kepandaiannya dan keberaniannya di dalam urusan perang, dengan pujian sepenuh-penuhnya. Diterangkan juga keras kepalanya dan maksudnya membuang raja dan agama, yang sudah ada padanya selagi ia muda. Disebut hal kesukaannya kepada minuman keras dan berjudi, hingga masa ia jadi diktator. Diriwayatkan ya kegemarannya pada perempuan-perempuan bibir merah, untuk memuaskan nafsunya semata-mata. Dikisahkan bagaimana ia ambil perempuan, buang perempuan, dengan jalan yang tidak halal , hingga seorang perempuan yang bernama Fikriyah mati bunuh diri, lantaran malu dan makan hati…Dihikayatkan bagaimana ia mengusir dan membunuh teman-temannya yang sama-sama dapatkan kemenangan, tidak lain melainkan lantaran mengadakan oposisi dan tidak mau menjadikan ia diktator.” (Lihat buku “Islam dan Kebangsaan”, A Hasan, Lajnah Penerbitan Pesantren Persis Bangil, 1984).

Walhasil masalah jalan ini, bila ditinjau dari perspektif Islam, maka kedua tokoh itu, Soekarno dan Attaturk, bukan tokoh yang memuliakan Islam, bahkan menghinakan Islam. Keduanya, bila dicermati perjalanan hidupnya, akhlaknya buruk dan tidak bisa dijadikan teladan dalam kehidupan bangsa Indonesia, yang mayoritas Islam.

Jadi harusnya bukan Soekarno nama jalan di Ankara dan Attaturk di Jakarta, tapi Mohammad Natsir di Ankara dan Mohammad Al Fatih di Jakarta. Wallahu azizun hakim. []

Nuim Hidayat, Dosen Akademi Dakwah Indonesia Depok dan Pengajar Pesantren At-Taqwa Depok.

Laman sebelumnya 1 2

Artikel Terkait

Back to top button