Rabiul Awal, Momentum Menghidupkan Kecintaan kepada Rasulullah Saw

Rabiul Awal bukan sekadar bulan dalam penanggalan hijriah. Ia adalah bulan penuh kenangan, bulan di mana Allah menurunkan hadiah teragung kepada manusia kelahiran Nabi Muhammad ﷺ. Bulan ini menjadi simbol cinta dan kerinduan. Cinta yang tidak sekadar dilafalkan dalam syair atau shalawat, tetapi cinta yang menggerakkan hati menuju perubahan.
Menghidupkan kecintaan kepada Rasulullah ﷺ berarti menghidupkan kembali cahaya dalam jiwa yang sering padam oleh dunia. Sebab, mencintai beliau adalah bagian dari iman. Rasulullah ﷺ bersabda: “Tidaklah beriman salah seorang di antara kalian, hingga aku lebih ia cintai daripada orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Para sahabat memahami betul makna cinta sejati kepada Nabi ﷺ. Dalam perang Uhud, ketika tubuh beliau terluka parah, sahabat Anas bin Nadhar berseru, “Demi Allah, aku mencium wangi surga di balik gunung Uhud ini.” Ia berlari membela Rasulullah hingga syahid.
Begitu pula kisah Bilal bin Rabah. Saat menjelang wafatnya, istrinya menangis sedih, “Wahai suamiku, betapa dukanya aku kehilanganmu.” Bilal malah menjawab dengan senyum, “Jangan bersedih, sebab esok aku akan bertemu kekasihku Muhammad dan para sahabatnya.”
Betapa cinta itu bukan sekadar kata, melainkan pengorbanan. Para sahabat mengajarkan bahwa mencintai Nabi ﷺ berarti siap mengorbankan nyawa, harta, bahkan diri sendiri demi menjaga risalah beliau.
Lalu, bagaimana kita membalas cinta itu, Bulan Rabiul Awal memberikan kesempatan untuk memperbarui cinta kita kepada Nabi ﷺ dengan cara yang nyata:
- Memperbanyak shalawat
Shalawat adalah jembatan cinta. Allah dan malaikat saja bershalawat kepada Nabi ﷺ, maka betapa malunya kita jika enggan melakukannya.
- Meneladani akhlak beliau
Rasulullah ﷺ adalah Al-Qur’an yang hidup. Menghidupkan cinta kepada beliau berarti menghidupkan akhlaknya dalam kehidupan: jujur, amanah, sabar, pemaaf.
- Mengajarkan cinta Nabi kepada generasi muda
Anak-anak kita harus mengenal Nabi sejak dini: kisahnya, akhlaknya, dan cintanya kepada umat. Sebab tanpa cinta kepada Nabi, iman kita tidak sempurna.
- Menjadikan beliau sebagai teladan utama
Di era modern penuh teladan palsu, hanya Rasulullah ﷺ yang layak dijadikan figur panutan sejati.
Rabiul Awal adalah bulan yang seharusnya membuat hati kita luluh. Saat lisan menyebut nama beliau, hati bergetar, dan air mata jatuh. Itulah tanda cinta yang hidup.
Imam Syafi’i pernah berkata: “Cinta kepada Nabi Muhammad ﷺ adalah wajib, dan siapa yang tidak mencintainya, maka tidak ada iman dalam hatinya.”
Maka mari jadikan Rabiul Awal sebagai momentum untuk memperbarui cinta. Bukan sekadar ucapan, tetapi cinta yang menghidupkan akhlak Rasulullah ﷺ dalam kehidupan sehari-hari. Agar kelak, ketika kita berdiri di Padang Mahsyar dengan wajah penuh dosa, Nabi ﷺ menyambut kita dengan senyum dan berkata, “Inilah umatku.”[]
Fakhurrazi Al Kadrie S.H.I, M.Pd., Penyuluh Agama Islam Kementerian Agama Kota Pontianak