NASIONAL

Tiga Tahun Tuhfanul Aqsha, Wakil Wantim MUI: Waspadai Rekayasa Zionis

Jakarta (Suaraislam.id) – Tiga tahun berlalu sejak Tuhfanul Aqsha pada 7 Oktober 2023. Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (Wantim MUI) KH Muhyiddin Junaidi menilai momentum tersebut tidak dapat dilepaskan dari pertarungan geopolitik di Timur Tengah, termasuk upaya normalisasi hubungan sejumlah negara Arab dengan Israel.

Kiai Muhyiddin mengatakan penentuan 7 Oktober 2023 sebagai waktu serangan Hamas terhadap Israel merupakan hasil pemikiran matang setelah melalui perdebatan yang hangat dan sengit.

Menurutnya, Hamas memperhitungkan waktu yang sangat krusial agar tidak tertinggal oleh kebijakan Arab Saudi terkait rencana penandatanganan Abraham Accords yang digagas Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

“Penentuan tanggal 7 Oktober 2023 sebagai waktu penyerangan Hamas ke Zionis Israel merupakan hasil dari pemikiran yang matang usai perdebatan hangat dan sengit,” kata Kiai Muhyiddin melalui keterangannya, Kamis (8/10/2026).

Ia menilai momentum tersebut berkaitan erat dengan dinamika normalisasi yang tengah didorong Amerika Serikat di kawasan. “Apalagi dua negara Arab, UAE dan Bahrain, dengan bangga sudah masuk perangkap Donald Trump dengan menandatangani Accords,” ujarnya.

Menurut Kiai Muhyiddin, Abraham Accords kemudian menjadi salah satu instrumen diplomasi yang terus didorong melalui kampanye besar-besaran. Ia menilai pihak yang menolak normalisasi berpotensi dilabeli sebagai kelompok anti-demokrasi dan antisemit.

Ia juga mengingatkan bahwa Indonesia tidak terlepas dari dinamika tersebut. Ia menilai sentimen keagamaan dan kesamaan dalam organisasi kerja sama dapat menjadi sarana pendekatan terhadap Indonesia.

“Indonesia termasuk dalam radar Donald Trump, di mana sentimen keagamaan dan kesamaan dalam organisasi kerja sama dijadikan sarana,” katanya.

Ia menyoroti semakin intensifnya pendekatan Uni Emirat Arab (UEA) terhadap organisasi masyarakat Islam dan pemerintah Indonesia. Dalam pandangannya, UEA merupakan negara Arab yang pro-Zionis dan memiliki kedekatan dengan jaringan Yahudi global.

Karena itu, ia mengingatkan agar berbagai pendekatan tersebut tidak dilepaskan dari kepentingan geopolitik yang lebih luas.

Di sisi lain, Kiai Muhyiddin memandang Tuhfanul Aqsha sebagai bukti keberanian dan kepahlawanan para pejuang Hamas dalam menghadapi militer Israel dan kesombongan yang selama ini melekat pada citra kekuatan Zionis.

Menurutnya, peristiwa tersebut juga membangkitkan semangat perlawanan di kalangan anak muda dan kelompok-kelompok yang selama ini termarjinalkan di negara-negara Islam.

“Tuhfanul Aqsha adalah bukti keberanian dan kepahlawanan para mujahidin Hamas menghadapi militer Zionis dan kesombongan mereka,” ujarnya.

Ketua Dewan Penasihat JATTI (Jaringan Alumni Timur Tengah Indonesia) itu menilai kampanye global melalui media arus utama yang selama ini menggambarkan militer Israel sebagai kekuatan dengan tingkat pelatihan tinggi dan persenjataan modern mendapat tantangan serius setelah peristiwa 7 Oktober.

“Kampanye global via media mainstream bahwa militer Zionis dunia adalah kekuatan yang sangat terlatih dengan persenjataan modern terbukti dipatahkan oleh Hamas,” katanya.

Menurut Kiai Muhyiddin, para pejuang Hamas memiliki keunggulan dalam strategi peperangan di medan tempur.

Ia mengatakan keberanian dan kemampuan Hamas bahkan mendapat banyak pujian dari berbagai negara. Ia mengibaratkan para pejuang Hamas sebagai penerus tradisi para komandan perang dalam sejarah Islam, termasuk Khalid bin Walid.

“Bahkan begitu banyak pujian dari mancanegara terhadap Hamas sebagai pejuang penerus komandan perang Khalid bin Walid,” tuturnya.

Menurutnya, apabila keunggulan komparatif tersebut dapat diwariskan kepada tentara negara-negara Organisasi Kerja Sama Islam (OIC), terutama negara-negara Liga Arab, maka kekuatan militer negara-negara tersebut dinilai akan mampu menghadapi Israel.

“Seandainya keunggulan komparatif tersebut bisa diwariskan kepada tentara negara OIC, terutama Liga Arab, maka dengan mudah kepongahan dan kebiadaban Israel terhadap bangsa Palestina bisa dihentikan,” ujarnya.

Pada akhirnya, Kiai Muhyiddin menempatkan keberanian Hamas sebagai gambaran perjuangan menghadapi ketidakadilan, kolonialisme, dan penindasan. “Keberanian Hamas adalah role model perjuangan melawan kezaliman, kolonialisme dan penindasan,” tegasnya. []

Back to top button