#Bebaskan PalestinaOPINI

Kata-Kata Telah Berubah, Pendudukan Tetap Berlanjut: Realitas Gencatan Senjata Gaza

Oleh: Ramzy Baroud

Mari kita perjelas satu hal sejak awal: apa yang disebut rencana Trump untuk Gaza—yang diumumkan pada 29 September 2025 dan mengarah pada gencatan senjata 10 Oktober—sempat menciptakan harapan luas bahwa diplomasi internasional akhirnya berhasil menghentikan kekerasan.

Namun hari ini, kenyataan di lapangan menuturkan kisah yang jauh berbeda. Terlepas dari dukungan global yang luar biasa terhadap rencana tersebut, bukti-bukti menunjukkan bahwa Israel memanfaatkan kesepakatan itu untuk mengendalikan tantangan militernya di Gaza, sembari mempertahankan penguasaan penuh atas wilayah yang terkepung tersebut.

Rencana tersebut tidak mengembalikan Gaza ke kondisi sebelum terjadinya genosida. Kekerasan sporadis Israel pada masa lalu kini berubah menjadi pembunuhan harian, sementara blokade lama kian mencekik warga yang bertahan hidup di antara reruntuhan kota dan kamp pengungsian.

Genosida di Bawah Kedok Gencatan Senjata

Sejak gencatan senjata dimulai pada 10 Oktober 2025, pasukan Israel telah membunuh sedikitnya 1.471 warga Palestina dan melukai 5.189 orang lainnya, menurut data Kementerian Kesehatan Gaza. Angka-angka ini belum mencakup mereka yang tewas akibat wabah penyakit, ketiadaan perawatan medis, serta dampak bencana kemanusiaan lainnya. Dalam konflik lain mana pun, jumlah korban sebanyak ini akan dicatat sebagai bukti perang yang berkecamuk, namun di Gaza, korban jiwa dicatat di bawah istilah menentramkan bernama “gencatan senjata.” Lebih memilukan lagi, korban tewas mencakup sedikitnya 327 anak-anak dan 547 anak-anak lainnya luka-luka.

Tidak ada satu pun rumah sakit di Gaza yang berfungsi penuh saat ini, menurut pernyataan bersama dari 100 lebih lembaga kemanusiaan dan HAM. Kamar jenazah terus menerima korban baru, bersandingan dengan ratusan jenazah yang baru diangkat dari puing-puing bangunan. Diperkirakan 10.000 warga Palestina masih tertimbun di bawah runtuhan gedung. Gencatan senjata macam apa yang memaksa Kementerian Kesehatan Gaza membuat catatan terpisah antara korban genosida dan korban “pasca-penghentian permusuhan”? Gencatan senjata jenis apa yang membiarkan pengeboman kembali terjadi tanpa peringatan, kendaraan sipil dihantam misil, rumah-rumah merobohi penghuninya, dan para keluarga terus menguburkan anak-anak mereka?

Janji yang Tak Terpenuhi dan Ruang Hidup yang Menyempit

Bahkan ketentuan kemantuan dalam kesepakatan tersebut sebagian besar tetap tak terealisasi. Rencana awal menjanjikan pengiriman bantuan sekitar 600 truk setiap hari. Namun evaluasi PBB menemukan bahwa pengiriman bantuan kemanusiaan hanya mencapai rerataan kurang dari 100 truk per hari selama 172 hari pertama kesepakatan. Di mana alat-alat berat yang dibutuhkan untuk membersihkan puing, mengevakuasi jenazah, dan mulai membangun kembali apa yang telah dihancurkan Israel?

Bicara soal reruntuhan, Gaza kini menampung sekitar 61 juta ton puing—sekitar 20 kali lipat dari volume puing yang dihasilkan oleh seluruh perang di dunia selama 18 tahun terakhir. Bahkan puing-puing bangunan ini kini mengancam nyawa warga Palestina. Bulan lalu, 21 orang, termasuk 12 anak-anak, tewas ketika sebuah bangunan yang rusak parah roboh tiba-tiba di Kota Gaza.

Sementara itu, ruang hidup bagi warga Palestina terus menyempit. Sejak gencatan senjata dimulai, kontrol militer Israel justru meluas dari sekitar 53 persen menjadi 63 persen wilayah Gaza (beberapa perkiraan mencatat hingga 70 persen), menurut Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA). Meskipun ada dukungan internasional yang kuat, para penjamin kesepakatan telah gagal total menghentikan penindasan Israel atau memaksakan kepatuhan terhadap klausul utama kesepakatan. Sebaliknya, diskusi politik justru berfokus pada pelucutan senjata perlawanan Palestina, seolah perlawanan itu sendiri yang menjadi akar dari kolonialisme, pendudukan militer, pengepungan, apartheid, dan genosida.

Meskipun digaungkan oleh pemerintahan Trump dan sekutunya sebagai solusi damai definitif, dalam praktiknya Israel menggunakan gencatan senjata untuk menyusun kembali kekuatan dan mencapai tujuan yang sebelumnya sulit diraih. Dalam skema ini, warga Palestina dituntut menahan diri dari aksi bersenjata, sementara operasi militer Israel, ekspansi wilayah, dan pembatasan pasokan pokok terus berlangsung.

Bahaya Status Quo Baru

Tanpa perlawanan yang berarti terhadap kebijakan Israel—baik oleh warga Palestina sendiri maupun melalui tekanan politik dan hukum internasional yang konsisten—bahayanya adalah Israel akan makin meningkatkan dorongannya untuk melakukan pembersihan etnis (ethnic cleansing) warga Palestina dari Gaza. Inilah mengapa Gaza harus tetap menjadi pusat perhatian internasional. Mobilisasi publik, tekanan politik, akuntabilitas hukum, dan solidaritas tidak boleh dihentikan hanya karena sebuah kesepakatan telah diberi label “gencatan senjata.”

Masyarakat internasional harus menolak premis bahwa genosida telah berakhir hanya karena bahasa yang digunakan untuk menggambarkan tindakan Israel telah diperhalus. Gencatan senjata tanpa penegakan aturan, akuntabilitas, atau penghentian pendudukan tidak akan pernah bisa menggantikan kemerdekaan sejati bagi rakyat Palestina.[]

Sumber: Anadolu Agency

Back to top button