SUARA PEMBACA

Tragedi KM 50: Tuan, Nyawa Kami Itu Mahal!

Bumi menangis menyaksikan kematian para syuhada. Jalan-jalan sepi dibungkam agar tak bersuara. Udara malam terdiam menahan amarah. Langit malam pun membisu menahan air mata.

Mata CCTV terpejam tak melihat. Mata CCTV mati kata si pendusta. Mata CCTV mati seiring matinya keadilan. Kini, fitnah semakin kejam. Kezaliman semakin pekat. Nyawa manusia semakin tak berharga. Entahlah. Sampai kapan nyawa seorang Muslim dihargai begitu murah?

Imam Besar Habib Muhammad Rizieq Syihab akhirnya angkat bicara terkait penembakan enam laskar FPI di KM 50 Tol Jakarta-Cikampek, yang dilakukan oleh personel Polda Metro Jaya. Dikutip dari tayangan YouTube Front TV, Rabu, 9/12/2020, HRS menuturkan bahwa sejak awal pihaknya tidak menaruh curiga dan enggan menuduh siapa pelaku penembakan tanpa ada bukti dan saksi yang memadai. Hal ini pun dicantumkan dalam keterangan press rilis dari DPP FPI pada Senin, 7/12/2020.

HRS juga menegaskan pihaknya akan menempuh seluruh jalur hukum secara prosedur. Mengejar siapa saja yang terlibat dalam pembantaian enam laskar FPI. Pihaknya tidak akan membiarkan pelaku tidur tenang bahkan sampai lari ke lubang semut pun pasti akan dikejar.

Tragedi KM 50 penembakan enam laskar FPI masih menjadi sorotan publik. Berbagai elemen masyarakat mendesak pemerintah Jokowi, untuk segera membentuk tim pencari fakta independen untuk menguak misteri penembakan ini. Sayangnya, hingga hari ini tidak terdengar respon bahkan ucapan bela sungkawa terucap dari penguasa tertinggi negeri.

Padahal jelas, tragedi KM 50 tidak hanya menyita perhatian masyarakat. Namun juga menyentuh akal dan hati nurani terdalam bagi siapa saja yang masih waras. Bagaimana masyarakat tidak dibuat miris dan pilu, rakyat sipil yang diduga tidak bersenjata, ditembak mati secara misterius?

Tragisnya lagi, dalam keterangan tertulis dari Ketua Umum Front Pembela Islam (FPI) Ahmad Shabri Lubis pada Rabu, 9/12/2020, menyebut bahwa berdasarkan keterangan ahli yang ikut memandikan jenazah, para laskar diduga ditembak dari jarak dekat. Masih menurut keterangan yang ditulisnya, di bagian tubuh para laskar yang tewas, juga terdapat lebam diduga bekas penyiksaan. (tempo.co, 9/12/2020).

Zalim. Manusia seperti apa yang berlaku brutal dan sadis layaknya hewan buas. Membunuh manusia dengan tega, bahkan meninggalkan bukti penyiksaan di jenazahnya. Andaipun keenam laskar ini membawa senjata, bukan berarti halal untuk ditumpahkan darahnya.

1 2Laman berikutnya

Artikel Terkait

Back to top button