SUARA PEMBACA

Tragedi KM 50: Tuan, Nyawa Kami Itu Mahal!

Sebab sungguh dunia dan seisinya lebih ringan di sisi Allah SWT. daripada hilangnya satu nyawa seorang Muslim, yang dibunuh tanpa haq. Satu nyawa saja begitu berat bagi Allah SWT, apatah lagi enam nyawa laskar FPI, sang penjaga zuriat Baginda Nabi Saw. Berat, sungguh berat pertanggungjawaban penguasa di hadapan Allah SWT. kelak.

Sebagaimana firman Allah SWT., “Dan barang siapa membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahanam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.” (TQS. An-Nisa [4]: 93).

Ironisnya hari ini, diamnya penguasa membuat tragedi ini kian suram. Fitnah semakin merebak seiring kebenaran yang kian kabur. Bandul kezaliman pun kian berayun kencang. Memukul siapa saja yang tidak sejalan dengan kepentingan tuan penguasa dan oligarki di sekitarnya. Alhasil, ini membahayakan umat. Hari ini nyawa enam laskar FPI begitu murah ditumpahkan. Hari nanti siapa saja dapat kehilangan nyawanya sebab kebrutalan para durjana.

Tragedi KM 50 menggambarkan betapa murahnya nyawa seorang Muslim dalam naungan sistem rusak nan merusak bernama demokrasi. Hilang jaminan penjagaan dan perlindungan nyawa manusia dalam naungan sistem ini. Sebaliknya narasi ala demokrasi, semakin mengokohkan opini bahwa darah seorang Muslim itu begitu murah dan halal ditumpahkan kapan saja. Cukuplah dengan melabeli seorang Muslim atau ormas Islam dengan ekstremis, radikal dan teroris. Maka, darah, nyawa dan kehormatan mereka dapat dikoyak kapan saja.

Diamnya penguasa terhadap tragedi KM 50 juga semakin menunjukkan neraca keadilan semakin berat sebelah. Matinya CCTV seolah menunjukkan matinya keadilan penguasa. Kampanye HAM yang lantang disuarakan oleh para punggawa demokrasi, juga mendadak tidak terdengar. Alhasil, keadilan atas nama HAM hanya omong kosong belaka, jika menyangkut kepentingan kaum Muslimin.

Maka, terbukti bahwa sistem demokrasi yang tegak atas negeri ini telah gagal total menjamin dan melindungi darah, nyawa dan kehormatan manusia. Sistem yang lahir dari rahim sekularisme ini justru menjadikan darah, nyawa dan kehormatan kaum Muslimin begitu murah tak berharga. Keadilan yang diimpikan pun hanya ilusi yang tak berkesudahan.

Sudah seharusnya kita mencampakkan sistem rusak ini. Saatnya negeri ini kembali ke pangkuan Islam secara kafah. Hanya Islam satu-satunya sistem yang mampu menjamin dan menjaga darah, nyawa dan kehormatan manusia. Menegakkan keadilan hingga raga tak bernyawa pun mendapatkannya. Jelas, hanya dalam naungan Islam darah, nyawa dan kehormatan manusia dihargai dengan sangat mahal!

“Kehancuran dunia ini lebih ringan di sisi Allah dibandingkan dengan pembunuhan seorang Muslim.” (HR. An-Nasa’i).

Jannatu Naflah
Praktisi Pendidikan dan Pegiat Literasi Islam

Laman sebelumnya 1 2

Artikel Terkait

Back to top button