SUARA PEMBACA

Tahun Baru 1 Muharram: Waktunya Hijrah Kuy

Tahun baru Islam 1 Muharam identik dengan momentum hijrah. Momentum yang tepat untuk muhasabah dan memperbaiki visi misi kehidupan dari level individu, masyarat serta negara. Terlebih momentum ini bertepatan dengan bulan kemerdekaan negara. Tepat bila kiranya momen ini digunakan untuk mengintrospeksi perjalanan bangsa. Sudahkan baik atau malah semakin mundur?

Tak dipungkiri, Indonesia sebagai negara merdeka selama 76 tahun masih saja mengalami kondisi yang karut marut. Apalagi di tengah gelombang kedua pandemi, di bidang kesehatan angka kasus positif Covid-19 dan angka kematian akibat Covid- 19 kian hari kian meninggi. Sudah banyak nakes dan orang biasa meninggal. Abainya negara untuk segera memutus rantai penularan Covid-19 dengan kebijakan lockdown telah membuat dunia kesehatan kewalahan dan koleps. Dengan berdalih memastikan ekonomi tetap berjalan dan agar rakyat dapat memenuhi kebutuhan nyatanya masih membuat ekonomi Indonesia lesu dilanda ketidakpastian.

Mirisnya kezaliman demi kezaliman terus dipertontonkan pejabat negara seperti korupsi dana bantuan sosial yang dilakukan disaat rakyat mengalami ujian pandemi senasional. Tak sampai disini, Indonesia yang gemah rimpah loh jinawi makin hari tenggelam dalam kubangan utang ribawi sedang SDA nya digadaikan demi kepentingan korporasi.

Di aspek moral, genernasi mudanya kehilangan jati diri. Segala bentuk kenakalan remaja masih saja bermunculan dikala pandemi. Kehidupan hedonis, liberal, prakmatis lagi apatis, miras, narkotika, seks bebas bahkan perilaku seks menyimpang  kini sudah jadi hal biasa dibenak mereka.

Begitu pun di bidang hukum, hukum kian hari tajam ke bawah namun tumpul ke atas. Hal ini terbukti dari berbagai kasus korupsi, kesekian kali para koruptor diberikan dispensasi hukum. Padahal telah nyata kerugian negara akibat keserakahan diri mereka. lebih parahnya eks koruptor diberi ruang untuk memimpin jabatan pengelolaan usaha negara seperti komisaris BUMN.

Wajar rasa aman dan keadilan semakin jauh dari harapan rakyat. Sebab landasannya yang tak dapat dijadikan pegangan kuat dan mudah diperjualbelikan. Tak bisa dielakan bahwa negeri kita negeri yang menerapkan sistem kapitalisme sekuler. Asas negara adalah memisahkan agama dari kehidupan. Agama tak lagi jadi pegangan dalam berkehidupan tak ayal aturan manusialah yang jadi pengatur. Padahal Indonesia dikenal sebagai negeri berpenduduk muslim terbesar di dunia namun merealisasi aturan sekuler.

Tidakkah kita ingat berabad-abad lalu, umat Islam telah memimpin peradaban cemerlang. Umat Islam menjadi mercusuar peradaban dunia pada saat itu ketika dunia Barat diliputi kegelapan. Seperti yang dikutip dalam buku The Story of Civilization karya Will Durant, seorang orientali Barat mengungkapkan bahwa “Peradaban Islam sejak tahun 81-597 H (700-1200 M) berada di puncak kejayaannya di bidang keilmuan dan seni. Ilmu eksakta baik kedokteran, kimia, fisika, geologi, biologi dan botani berada di puncaknya dan ilmuwan besar Islam di cabang ilmu ini aktif memberi kuliah, menulis dan melakukan riset. Mereka tak segan-segan mengajar dan membagikan ilmu ini ke negara tetangga dan para pencari ilmu dari berbagai penjuru dunia. Sementara Dunia Barat di era keemasan Islam tersebut tenggelam di ideologi abad pertengahan, kekejaman dan dikuasai pemikiran Gereja serta sepenuhnya jauh dari rasionalitas. Sebaliknya, di dunia Islam muncul ilmuwan besar seperti Ibnu Sina, Al Khawarizmi, Al Farabi, Mohammad bin Zakaria Razi, Abu Raihan Biruni, Hakim Omar Hayyam, Ibnu Khaldun dan lainnya yang menyebarkan ilmunya di dunia tanpa pembatasan.”

Allah Swt juga telah berfirman, “Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik. (QS. Ali Imron: 110)

Namun sayang predikat khairu ummah itu hanya tinggal kenangan. Umat semakin jauh dari Islam, mereka lupa akan jadi dirinya bahkan mengganti cara pandang Islam dengan cara pandang Barat. Lalu memadukan ajaran Islam agar sesuai dengan realita zaman dan ramah dengan nilai-nilai Barat. Disisi lain kaum munafik gencar menyerang pemahaman Islam ideologis, menuduh  mereka sebagai Islam radikal yang berbahaya. Mereka (Barat) yang benci Islam berupaya keras menjauhkan umat dari pemahaman Islam dengan memonsterisasi dan kriminalisasi ajaran Islam serta para pengusungnya. Sebab mereka tau, hadirnya Islam adalah penanda kematian bagi peradaban busuk mereka di atas dunia.

Momentum Muharam seharusnya menjadi modal bagi kaum muslim untuk menemukan jati diri mereka sabagai umat terbaik. Peristiwa hijrah Rasulullah Saw telah membawa pengaruh perubahan masyarakat dari kejahiliaan menuju kebangkitan Islam. peristiwa ini menyatukan umat dalam satu akidah dan kepemimpinan yang menjadi penanda tegaknya sistem Islam.

Sayangnya semangat hijrah hilang meski diperingati setiap tahun. Ini disebabkan karna peristiwa hijrah hanya dimaknai sebagai peristiwa sejarah dan maknanya telah direduksi hanya sekadar perubahan dari level individu semata. Sejalan dengan proyek dan propaganda moderasi beragama.

Oleh karna itu sudah menjadi tugas kita untuk kembali meluruskan dan mendakwahkan makna hijrah yang sesungguhnya. Bahwa hijrah bukan sekedar perpindahan keadaan individu akan tetapi hijrah adalah momentum kebangkitan Islam hakiki dengan jalan kembali mengambil Islam sebagai solusi problematika umat. Maka sudah selayaknya problem yang tak berkesudahan menjadikan umat untuk segera berhijrah. Waallahu ‘alam.

Azrina Fauziah, Aktivis Dakwah.

Artikel Terkait

Back to top button