NUIM HIDAYAT

Muhammadiyah dan Kepemimpinan Berpikir

Bila kita cermati, kepemimpinan dalam Islam, adalah kepemimpinan berpikir. Tidak menjadi soal dalam Islam, apakah yang menjadi pemimpin sipil atau militer, profesor atau kiai haji, sarjana atau orang biasa. Yang penting seorang pemimpin itu mempunyai kreativitas dalam memecahkan problematika organisasi dan anggota, masyarakat dan negaranya berdasar nilai-nilai Islam.

Alhamdulillah, Muhammadiyah kini adalah organisasi yang terbesar dalam dunia pendidikan. Dari data Republika, jumlah lembaga pendidikan yang dimiliki Muhammadiyah mencapai lebih dari 10 ribu, tepatnya 10.381. Terdiri dari TK, SD, SMP, SMA, pondok pesantren, dan perguruan tinggi.

Untuk TK atau PTQ berjumlah 4623, SD/MI 2.604, SMP/MTS 1772, SMA/SMK/MA 1143, Ponpes 67, dan perguruan tinggi 172. Keseluruhan amal usaha yang dimiliki Muhammadiyah dalam bidang pendidikan ini tersebar di seluruh wilayah Indonesia dari Aceh hingga Papua.

Pertanyannya, dari jumlah ribuan fasilitas pendidikan yang dimiliki, telahkah Muhammadiyah menjadi pemimpin dalam pemikiran Islam? Apakah pemikiran-pemikiran tokoh-tokoh Muhammadiyah saat ini menjadi panduan berpikir bagi kalangan cendekiawan Islam? Apakah gerakan Muhammadiyah mewarnai lembaga-lembaga dakwah kampus di tanah air selain di kampusnya sendiri? Dan seterusnya.

Ini adalah pertanyaan renungan untuk evaluasi gerakan Muhammadiyah ke depan. Bila dulu tokoh-tokoh Muhammadiyah mewarnai tanah air dan kampus, maka saat ini nampak ‘mulai berkurang’. Lihatlah dulu peranan KH Ahmad Dahlan, Mr. Kasman Singodimedjo, Buya Hamka, KH Mas Mansur, dan lain-lain.

Tokoh-tokoh itu hingga kini pemikirannya terus bergema dan menjadi panduan umat Islam di tanah air. Mereka tidak mencoba bermanis muka dengan kelompok sekuler atau non Islam dan mengikuti ‘gendang yang ditabuh mereka’. Kelompok sekuler atau non Islam, tentu tidak harus dibunuh semena-mena atau dizalimi. Tapi sebagai muslim kita harus hati-hati. Karena mereka juga ingin mewarnai kita. Mereka juga mempunyai misi dan mereka juga ingin menjadi pemimpin di negeri ini. Di sinilah terjadinya ‘benturan pemikiran’ itu.

Maka disinilah makna surat al Baqarah 120. “Dan orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan rela kepadamu (Muhammad) sebelum engkau mengikuti agama mereka. Katakanlah, “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya).” Dan jika engkau mengikuti keinginan mereka setelah ilmu (kebenaran) sampai kepadamu, tidak akan ada bagimu pelindung dan penolong dari Allah.”

Kita bisa berkaca pada teladan Kiai Ahmad Dahlan dalam berhubungan dengan orang-orang non-Islam. Selain membina umatnya, Kiai Dahlan juga tidak segan-segan berdiskusi dengan tokoh-tokoh agama lain. Ia pernah mengadakan pertemuan dengan tokoh Protestan bernama Domine Bakker dan berdebat soal kebenaran agama. Pertemuan itu diadakan di Jetis, Yogyakarta dan berlangsung beberapa kali. Setelah terjadi diskusi yang cukup lama, Domine berbelit-belit dan tidak mau mengakui kekalahannya, maka Kiai Dahlan mengajukan tantangan sebagai berikut:

“Marilah kita sama-sama keluar dulu dari agama, kemudian mencari agama mana yang benar dengan cara membandingkan kitab suci masing-masing. Kalau ternyata kemudian agama Protestan yang benar, saya sanggup masuk agama Protestan. Namun sebaliknya, jika agama Islam yang benar, maka Domme pun harus masuk agama Islam. Bagaimana?” tanya Kiai Dahlan.

Domine Bakker ternyata tidak berani menerima tantangan ini. Bahkan tidak berapa lama kemudian, ia mohon diri pulang kembali ke negara Belanda. Dalam beberapa kali pertemuan itu, akhirnya ada dua orang pengikut Domine Bekker yang masuk Islam setelah mendengarkan pembicaraan keduanya.

1 2 3Laman berikutnya

Artikel Terkait

Back to top button