PARENTING

Ada Ayah di Balik Suksesnya Muhammad Al Fatih

Muhammad Al-Fatih kecil tertawa. Tentu saat itu dia masih dipanggil Mehmed, karena gelar Muhammad Al-Fatih didapat ketika ia telah berhasil menaklukkan Konstantinopel, Ibu Kota Imperium Bizantium, Romawi Timur pada usia ke-21.

Tertawanya Al-Fatih karena di awal pertemuan guru barunya Syeikh Ahmad bin Ismail Al-Kurani, seorang ulama kurdi, memegang sebilah kayu dan berkata kepada Al-Fatih kecil, “Ayahmu mengirim saya untuk mendidikmu, serta untuk meluruskanmu jika kamu menolak perintah saya.”

Al-Fatih pun berpikir, guru barunya itu tidak mungkin memukulnya, karena selama ini ia hidup senang dan keinginannya selalu dituruti oleh orang-orang sekitarnya. Namun, yang dia pikirkan tidak sesuai dengan kenyataannya. Seketika itu Syeikh Ahmad memukul Al-Fatih dengan keras. Al-Fatih terkejut mendapat pukulan tersebut. Ia tidak menyangka guru barunya benar-benar memukulnya. Ketegasan Syeikh Ahmad al Kurani ini membuat Al-Fatih tidak bisa lagi berkutik dan mulai mau untuk belajar dan mentaati gurunya. Dalam waktu singkat ia pun berhasil menghatamkan Al-Qur’an sebelum usianya mencapai 8 tahun.

Waktu itu Al-Fatih kecil dikenal sebagai anak yang bandel, tidak taat atas perintah guru, guru-guru sebelumnya banyak yang mengalah tidak mau melanjutkan mengajari Al-Fatih. Maka, salah satu cara Sultan Murad II (ayahnya Al-Fatih) dengan menghadirkan guru yang tegas yakni Syeikh Ahmad Al-Kurani.

Syeikh Al-Kurani lah yang mengajari ilmu-ilmu keislaman yang menjadi pegangan mayoritas ulama pengajar pada waktu itu. Kepada beliau, Al-Fatih mempelajari berbagai kitab sejarah. Sejak kecil, ia telah menguasai bahasa Turki, Persia dan Arab; baik untuk kemampuan membaca, menulis, berbicara dan menerjemahkan. Di masa remajanya ia mempelajari bahasa Yunani, Serbia, Italia dan Latin. Al-Fatih pun menguasai berbagai ilmu Al-Qur’an, hadits Nabi, fikih dan usul fikih serta ushuluddin. Ia juga menonjol dalam ilmu sejarah, geografi dan mantiq. Tak ketinggalan ilmu-ilmu pasti seperti matematika dan falak, serta politik syariah dia kuasai.

Tak hanya itu, Sultan Murad II juga memerintahkan seorang guru lain untuk mengajar putranya, yaitu Syekh Asy-Syarif Muhammad bin Hamzah Ad-Dimasyqi, yang digelari “Aaq Syamsuddin”. Beliau adalah guru spiritualnya Al-Fatih. Bersama dengan Al-Kurani, beliau terlibat dalam pembinaan dan pendidikan Muhammad Al-Fatih, serta menanamkan dalam dirinya sejak kecil bahwa dialah Sang pemimpin mujahid yang dimaksudkan dalam hadits Nabi yang ada dalam Musnad Imam Ahmad: “Sesungguhnya Kontantinopel itu akan ditaklukkan. Maka sungguh panglima (pasukan penakluk itu) adalah sebaik-baik pemimpin, dan sungguh pasukan (penakluk itu) adalah pasukan terbaik.”

Itulah cara Sultan Murad II dalam mendidik putranya. Beliau melakukan itu semua karena mempunyai mimpi yang sangat besar yakni menaklukkan konstantinopel dan mimpinya itu diwariskan pada anaknya dan juga untuk membuktikan bisyarah dari Sang Nabi Saw.

Murad II merupakan sultan keenam Utsmaniyah. Beliau lahir di Amasya (Sebuah provinsi di Turki) pada 1404. Beliau memerintah setelah ayahnya wafat dari tahun 1421-1452 M. Selama pemerintahannya, Murad II mampu meredam semua gerakan separatis dalam negeri yang dilakukan oleh pamannya sendiri yang bernama Mushtafa, yang didukung musuh-musuh pemerintahan Utsmani. Dia juga dikenal di kalangan rakyat sebagai sosok yang memiliki sifat takwa, adil dan kasih sayang. Ia sangat mencintai bahasa Arab, bahkan dianggap sebagai sultan pertama yang mempelajari dan melakoni seni kaligrafi Arab di antara para sultan Utsmani. Ia juga pandai menggubah syair Arab dan sangat menguasainya.

Selain itu, Murad II juga adalah sosok yang sangat bersahabat dengan putranya. Beliau sering mengajak Al-Fatih kecil, sehabis shalat Subuh berjalan-jalan dan bercengkerama. Kedekatan antara ayah dan anak begitu terasa. Beliau juga adalah sosok yang selalu menyemangati dan memotivasi, membuat Al-Fatih sangat percaya diri.

Murad II selalu mengajak anaknya duduk di puncak menara masjid yang tertinggi, lalu menunjuk tangannya jauh di sebuah cakrawala dan berkata, “Mehmed, lihatlah! Di depan, jauh di depan sana, di sanalah Konstantinopel. Kota itu adalah salah satu pusat dari kekufuran. Ibu kota Romawi Timur yang sangat kuat. Kota itu akan jatuh ke dalam kekuasaan Islam. Dan engkaulah, insyaallah, yang akan menaklukkannya kelak.”

Selain peran dari kedua guru yang selalu membimbingnya, satu lagi penyemangat Al-Fatih kecil dalam merealisasikan bisyarah Nabi SAW adalah perkataan dari sang ayah. Bekal ilmu yang mumpuni dan semangat dari sang ayahlah menjadi cambuk buat Al-Fatih agar mimpi Murad II dapat terealisasi yakni melaklukkan Konstantinopel, Imperium Romawi Timur.

Maka, Muhammad Al-Fatih pun bersungguh-sungguh mengerahkan berbagai strategi menjemput bisyarah Nabi Saw. Dengan izin Allah, benteng yang berdiri kokoh selama 1.123 tahun pun dapat ditaklukkan oleh Al-Fatih dan para pasukannya. []

Siti Aisyah
Koordinator Kepenulisan Komunitas Muslimah Menulis (KMM), tinggal di Depok

Tags

Artikel Terkait

Back to top button
Close
Close