INTERNASIONAL

Alami Krisis Anggaran, Militer Israel Terganggu Kesiapan

Tel Aviv (Suaraislam.id) – Krisis keuangan yang dihadapi tentara pendudukan Israel mulai berubah menjadi krisis kesiapan operasional. Tentara memutuskan menghentikan sementara operasi sejumlah batalion tank karena kekurangan suku cadang. Pada saat yang sama, industri militer menghadapi risiko penghentian sejumlah lini produksi penting, sementara dampak kekurangan anggaran juga mulai dirasakan Direktorat Intelijen.

Lembaga penyiaran Israel, Kan, melaporkan Kamis pagi (3/9) bahwa kekurangan suku cadang mendorong tentara untuk mengeluarkan beberapa batalion tank dari layanan sementara. Pada saat yang sama, lembaga militer belum mampu mengembalikan ratusan kendaraan “Hummer” yang rusak selama pertempuran di Lebanon ke kondisi siap pakai.

Kondisi tersebut terjadi di tengah krisis pendanaan yang serius. Kementerian Keuangan Israel hingga kini belum mentransfer pembayaran pertama dari tambahan anggaran yang disetujui Perdana Menteri Benjamin Netanyahu untuk anggaran pertahanan sebesar 40 miliar shekel. Hal ini mendorong tentara memperingatkan bahwa berlanjutnya kesenjangan pendanaan mulai secara langsung memengaruhi kemampuannya mempertahankan kesiapan dan menjalankan perang di banyak front.

Tank dan Produksi Menghadapi Krisis Bersamaan

Krisis tidak hanya menyangkut persediaan dan suku cadang. Lembaga keamanan Israel memperingatkan kemungkinan perusahaan Elbit terpaksa menghentikan produksi peluru tank Merkava dalam beberapa hari mendatang, menurut Kan.

Lini produksi peluru artileri diperkirakan ditutup pada Oktober mendatang, sedangkan lini produksi mortir diperkirakan ditutup pada November.

Perkembangan tersebut memiliki arti lebih besar daripada sekadar kekurangan amunisi dalam waktu dekat. Lembaga keamanan khawatir penutupan lini produksi akan menyebabkan hilangnya pekerja, insinyur, mesin, dan keahlian profesional yang telah terakumulasi selama bertahun-tahun. Kondisi tersebut akan membuat pengoperasian kembali lini produksi di kemudian hari menjadi lebih mahal dan sulit.

Dengan demikian, negara pendudukan menghadapi dua persoalan sekaligus: tentara membutuhkan jumlah suku cadang dan amunisi yang semakin besar setelah bertahun-tahun melakukan agresi dan perang, sementara industri militer membutuhkan pendanaan berkelanjutan untuk mempertahankan kemampuan produksinya.

Ratusan Kendaraan Tidak Beroperasi

Dalam bidang logistik, ratusan kendaraan Hummer yang rusak selama pertempuran di Lebanon hingga kini belum dikembalikan ke kondisi siap pakai, menurut data Israel.

Hal tersebut menyebabkan kekurangan kendaraan yang digunakan untuk mengangkut tentara dan berdampak pada kemampuan pasukan bergerak di wilayah operasi.

Masalah ini menjadi sangat penting bagi tentara yang menjalankan agresi dan perang di lebih dari satu medan. Kesiapan militer tidak hanya bergantung pada ketersediaan tank, pesawat, dan senjata berat, tetapi juga kendaraan, suku cadang, alat transportasi, dan fasilitas pemeliharaan yang memungkinkan pasukan bergerak, memperoleh pasokan, dan terus bertempur.

Seorang pejabat militer, seperti dikutip Kan, mengatakan: “Kami memiliki utang lebih dari 15 miliar shekel kepada industri pertahanan.” Ia menambahkan bahwa batalion tank mengalami kekurangan suku cadang dan ratusan kendaraan yang rusak di Lebanon belum diperbaiki.

Pejabat tersebut mengungkapkan bahwa tentara tidak memiliki kemampuan yang cukup untuk mengangkut pasukan. Hal ini menunjukkan bahwa krisis mulai melampaui persoalan keuangan dan telah menyentuh struktur operasional pasukan.

1 2 3Laman berikutnya
Back to top button