Apa yang Dibawa Warga Palestina ketika Mereka Mengungsi setelah 7 Oktober?
Huda Helassa membawa kaus bertanda tangan
Ketika Huda Helassa, 20 tahun, meninggalkan rumahnya di Tal al-Hawa, Gaza selatan, pada jam-jam pertama perang, ia membawa sebuah kaus yang telah ditandatangani teman-teman sekelasnya dari Access Microscholarship Program, sebuah program yang didanai Amerika Serikat untuk memberikan pendidikan bahasa Inggris dan kebudayaan kepada kaum muda.
Teman-teman sekelasnya menandatangani kaus tersebut pada 15 September 2023, dalam kelas terakhir mereka, dua tahun sebelum Huda lulus pada 27 September.
“Ketika kami meninggalkan rumah pada hari pertama perang, kaus itu adalah salah satu hal pertama yang terlintas dalam pikiran saya,” kata Huda.
Ia memasukkannya ke dalam tas hampir secara naluriah, karena ingin mempertahankan sesuatu dari bagian hidupnya yang baru berakhir beberapa hari sebelumnya.
Huda dan keluarganya pertama-tama pindah ke rumah neneknya di Kota Gaza, kemudian mengungsi ke selatan, berjalan kaki untuk sebagian perjalanan, dan akhirnya mencapai Rafah di selatan wilayah Palestina.
Pada Mei 2024, mereka kembali mengungsi, kali ini ke Khan Younis. Ketika kembali ke Gaza pada Januari 2025, mereka mendapati rumah mereka telah terbakar seluruhnya.
“Tidak ada yang tersisa dari kehidupan yang kami miliki di sana,” katanya. “Tidak ada barang-barang, tidak ada foto, tidak ada kenangan yang bisa kami pegang, hanya dinding-dinding yang menghitam.”
Mereka kembali mengungsi pada April 2025, pindah ke Remal dan kemudian Tal al-Hawa, sebelum pindah ke az-Zawayda pada September dan kembali ke Gaza pada Oktober. Saat ini mereka berada di Tal al-Hawa.
Bagi Huda, kaus itu tetap menjadi penghubung dengan kehidupan yang ia jalani sebelum perang—masa belajar, persahabatan dan pengalaman yang membentuk dirinya.
Mahmoud Hussein membawa mainannya
Ketika Mahmoud Hussein, 8 tahun, dan keluarganya terpaksa meninggalkan rumah mereka dari Kota Gaza menuju Nuseirat di Gaza tengah, ia bersikeras membawa tas berisi mainannya.
Ibunya mengatakan keluarga tersebut mengungsi sekitar tujuh kali, dan setiap kali Mahmoud menolak pergi tanpa membawa mainannya, bahkan ketika ibunya berusaha membujuknya untuk meninggalkannya.
Selama masa gencatan senjata, keluarga tersebut kembali ke rumah dan mendapati rumah itu sebagian telah hancur.
Kamar Mahmoud hancur, termasuk tempat tidur, lemari pakaian dan sebagian besar mainannya.
“Ia sangat terpukul oleh apa yang terjadi pada kamarnya,” kata ibunya. Ia masih mengingat mainan yang hilang dan kamar yang pernah dimilikinya.
Mahmoud memiliki kondisi neurologis yang menyebabkan aktivitas listrik abnormal di otak dan telah mengonsumsi obat setiap hari selama dua tahun. Ia menghentikan pengobatannya dua hari sebelum perang dan seharusnya memulai pengobatan baru, tetapi perang mengganggu perawatannya.
Ia juga membutuhkan pemeriksaan neurologis setiap bulan yang saat ini tidak tersedia di Gaza.
Ibunya mengatakan mainan Mahmoud menjadi “tempat aman” baginya selama perang. Karena ketakutan, stres dan kesedihan dapat memicu kejangnya, bermain dan membuat cerita dengan mainan-mainannya membantunya melarikan diri sejenak dari suasana perang dan tetap tenang. []
Maram Humaid dan Abdelhakim Abu Riash
Sumber: Al Jazeera






