EDU-PARENTS

Ayah Selalu Ada di Balik Diamnya

Oleh: Imam Nur Suharno (Pembina Forum Ayah Kuningan, Jawa Barat)

Di antara deru mesin dan peluh yang jatuh diam-diam, ada doa yang tak pernah tercatat di slip gaji, yakni doa seorang ayah. Islam telah lebih dulu menempatkan ayah sebagai imam, penafkah, dan perisai keluarganya dari api neraka. Ia bukan sekadar tulang punggung yang menopang atap rumah, tetapi juga kompas yang menunjuk ke arah surga.

Sebelum membaca refleksi ini lebih jauh, pejamkan mata sejenak dan tanyakan pada hati: kapan terakhir kali kita mencium tangannya, mendoakannya, dan memastikan rida telah kita genggam dari tangannya sebelum Allah Swt. memanggilnya pulang?

Ayah adalah sosok yang menjadi tulang punggung keluarga. Dengan tanggung jawab yang besar, seorang ayah bekerja keras dengan penuh keikhlasan untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan memberikan yang terbaik bagi orang-orang yang dicintainya. Namun, peran ayah tidak hanya berhenti di situ, ia juga merupakan sosok yang memberikan perlindungan, kasih sayang, dan keteladanan bagi anak-anaknya.

Ayah memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk karakter dan kepribadian anak-anaknya. Melalui kasih sayang dan kesabaran, ayah dapat menempa anak-anaknya menjadi pribadi yang kuat, mandiri, dan berakhlak mulia. Ayah juga menjadi contoh konkret bagi anak-anaknya dalam berbagai aspek kehidupan, seperti kejujuran, kerja keras, dan tanggung jawab.

Dalam Islam, ayah memiliki peran yang sangat penting dan mulia di dalam keluarga serta masyarakat. Ayah adalah pemimpin (qawwam) yang bertanggung jawab untuk memimpin dan mengarahkan anggota keluarganya menuju jalan yang benar.

Selain sebagai pemberi nafkah yang wajib mencukupi kebutuhan istri dan anak-anaknya, ayah juga harus menjadi teladan (uswah) yang baik dalam segala aspek kehidupan, termasuk akhlak, perilaku, dan ibadah. Ayah juga bertindak sebagai pendidik yang menanamkan pemahaman agama, moral, dan nilai-nilai kehidupan. Sebagai pengayom, ia wajib menjadi pelindung yang memberikan rasa aman dan nyaman bagi keluarganya.

Dalam Al-Qur’an dan hadis, Allah Swt. dan Rasulullah saw. menekankan pentingnya berbakti kepada orang tua, termasuk ayah. Allah Swt. berfirman dalam surah Al-Isra’ ayat 23-24:

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (Q.S. Al-Isra’: 23)

Peringatan serupa juga disampaikan dalam surah Luqman ayat 14:

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (Q.S. Luqman: 14)

Nabi Muhammad saw. juga bersabda:

رِضَا اللَّهِ فِي رِضَا الْوَالِدَيْنِ وَسَخَطُ اللَّهِ فِي سَخَطِ الْوَالِدَيْنِ

“Rida Allah tergantung pada rida kedua orang tua dan murka Allah tergantung pada murka kedua orang tua.” (H.R. Tirmidzi)

1 2Laman berikutnya
Back to top button