SURAT PEMBACA

Begitu Sigap Polisi Kalau Mau Cari Kesalahan Anies

Menurut hasil survei Indo Barometer yang dilansir pada 23 Februari 2020 lalu, Anies Baswedan adalah Calon Presiden terkuat kedua untuk Pilpres 2024 setelah Prabowo Subianto. Jika dibandingkan dengan persentase kepala-kepala daerah, maka Anies pemenangnya. Ridwan Kamil, Ganjar Pranowo, Khofifah Indar Parawansa, ketiga nama gubernur di Pula Jawa itu kalah jauh.

Karena itu tak heran, bila Partai Solidaritas Indonesia (PSI) terang-terangan mengajak masyarakat untuk menjegal Anies maju dalam Pilpres 2024 nanti.

PSI merecoki Anies, itu sudah bukan barang baru. Partai ini memang spesialis pengritik Anies. Apapun terkait Anies tak ada yang benar. Suaranya lantang. Namun, saat yang bersamaan muncul kasus Jiwasraya, Asabri dan sejenisnya, mereka diam seribu bahasa. Seolah tak ada apa-apa.

Hal yang sama nampaknya juga terjadi di tubuh penegak hukum. Kekalahan Ahok pada Pilkada 2017 lalu, nampaknya hingga sekarang belum berhasil membuat banyak kalangan ‘move on’. Apalagi sekarang terbukti Anies makin perkasa untuk ‘pindah’ dari Medan Merdeka Selatan ke Medan Merdeka Utara.

Sekecil apapun kesalahan Anies pasti dicari. Ke lubang semut pun akan dikejar. Ibaratnya, gajah di pelupuk mata tak tampak, tapi virus di seberang lautan tampak. Laporan selemah dan sekecil apapun tentang Anies, pasti ditindaklanjuti.

Situs berita Tempo.co, pada Selasa 10 Maret 2020 tiba-tiba memberitakan penyelidikan polisi atas dugaan korupsi tanah runah DP Rp0. Rumah DP0 adalah salah satu program kampanye Anies-Sandi dalam Pilkada 2017 lalu yang cukup inovatif. Dicibir, tapi ternyata terbukti.

Tempo menulis, Mabes Polri kini tengah menyelidiki kasus dugaan korupsi pembelian tanah oleh PD Sarana Jaya, Badan Usaha Milik Daerah DKI Jakarta. Sumbernya Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri Brigadir Jenderal Argo Yuwono. Argo sebelumnya adalah Kabid Humas Polda Metro Jaya.

Polisi, kata Argo, telah melayangkan surat panggilan kepada PD Sarana Jaya. Dalam surat panggilan, tertulis pemeriksaan kasus korupsi dan tindak pidana pencucian uang (TPPU) terkait pembelian aset yang dilakukan PD Sarana Jaya pada 2018-2020. Kasus ini, kata Argo, masih dalam tahap penyelidikan, belum ada tersangka yang ditetapkan.

Model-model seperti inilah yang bakal menjadi bahan gorengan lawan-lawan politik Anies. Termasuk kubu liberal, yang disebut Geisz Chalifah sebagai #LiberalUdikOtakDikit.

Lain Anies, lain Ahok. Walaupun, istilah Jawanya, sudah ‘cetho welo-welo’ dugaan tindak pidana korupsinya, Ahok aman. Bahkan dilindungi. Istimewa. Baru saja ditunjuk sebagai Komut Pertamina, malah sudah dipromosikan sebagai kandidat Kepala Badan Otorita Ibu Kota baru.

Aktivis sekaligus mantan Anggota DPD asal Jakarta, Marwan Batubara, telah menulis buku “Usut Tuntas Dugaan Korupsi Ahok: Menuntut Keadilan untuk Rakyat”. Menurut Marwan, seperti yang juga ditulis dalam artikelnya di RMOL.id, 14 November 2019 lalu, ada delapan kasus dugaan korupsi yang dilakukan Ahok. Nilainya bukan receh.

Kedelapan kasus itu adalah Kasus RS Sumber Waras, Kasus Lahan Taman BMW, Kasus Lahan Cengkareng Barat, Kasus Dana CSR, Kasus Korupsi di Belitung Timur, Kasus Reklamasi, Kasus Dana Non-Budgeter, dan Kasus Penggusuran Brutal oleh Ahok.

Lalu, di mana Pak Polisi dan KPK?

Fahmi Ahmad
Warga Jakarta Selatan

Artikel Terkait

Back to top button