SUARA PEMBACA

Berempatilah! Jangan Tolak Jenazah Korban COVID-19

Membaca perkembangan berita pandemi Covid-19 di tanah air semakin membuat sesak di dada. Betapa tidak, semakin hari perbandingan jumlah pasien positif Covid-19 dengan yang sembuh sangat jauh berbeda. Wallahu’alam, apakah kita semua akan mampu bertahan sampai akhir.

Mereka yang meninggal karena tertular virus SARSCov-2 ini tidak hanya dari masyarakat, petugas medis yang berada di garda terdepan dengan alat pelindung diri seadanya (Menggunakan jas hujan dari kantong plastik seharga sepuluh ribuan) juga turut menjadi korban. Yang paling mengiris hati, jenazah petugas medis pun ditolak oleh masyarakat untuk dimakamkan di pemakaman sekitar.

Adalah Ibu Nuria Kurniasih, perawat berusia 38 tahun di RSUP dr. Kariadi Semarang gugur pada Kamis, 9 April 2020 karena terinveksi Covid-19 saat sedang mengemban tugas. Belum lagi usai kesedihan yang menimpa keluarga karena kehilangan istri dan ibu bagi anak-anaknya, jenazah Ibu Nuria Kurniasih ditolak warga karena takut tertular virus. Padahal sudah dilakukan penanganan jenazah Covid-19 sesuai prosedur yang berlaku.

Innalillahi wa innailaihi roajiuun… Sepatutnya kita menaruh bela sungkawa yang sedalam-dalamnya pada beliau dan keluarga, juga penghormatan atas komitmen dan dedikasi tinggi yang telah beliau berikan. Respon berlebihan dari masyarakat di lokasi pemakaman tentu tidak akan terjadi bila memang pemerintah sekitar melakukan edukasi terkait Covid-19.

Kita semua kiranya wajib memahami bahwa jenazah korban Covid-19 yang telah ditangani sesuai prosedur khusus tidak akan menularkan virus kepada yang masih hidup. Justru dengan menguburkan jenazah tersebut secepat mungkin akan membantu memutus rantai penularan, sebab virus tidak akan bisa hidup dan menyebar melalui tanah apalagi melalui udara.

Islam sebagai agama yang mulia telah mengajarkan kita untuk memuliakan jenazah dengan pelaksanaan syariat fardhu kifayah jenazah. Bila jenazah korban Covid-19 ditolak untuk dimakamkan, lalu bagaimana kita akan menghadap Allah nanti di hari pertanggungjawaban karena melalaikan kewajiban mulia ini?

Semoga rasa takut dan khawatir berlebihan yang menghinggapi hati tidak membuat kita kehilangan kepedulian, empati dan kasih sayang. Juga tidak membuat kita kehilangan kejernihan akal untuk berpikir waras. Jangan lagi ada penolakan pemakaman jenazah korban Covid-19, apalagi penolakan jenazah para pahlawan medis yang telah berjuang untuk merawat dan mengobati di tengah perang melawan virus corona.

Cukup suster Nuria Kurniasih yang mengalami penolakan. Berempatilah! Jangan tolak korban Covid-19. Mari dukung para pahlawan medis, mulai dari dokter, perawat, apoteker, cleaning service, pegawai administrasi di rumah sakit, sampai tukang gali kubur. Dukung mereka dengan mengurangi beban berat sebagai petugas medis, sehingga kita bisa saling bahu-membahu dan saling menguatkan satu sama lain. Wallahu’alam. []

Fatmah Ramadhani
Ibu Rumah Tangga, tinggal di Depok

Artikel Terkait

Back to top button