OASE

Bergantung Hanya kepada Allah

Mengapa kita bersandar kepada manusia sedangkan manusia itu bisa berubah? Mungkin dulu cinta sekarang benci, dulu memuji sekarang membenci. Hal ini mengingatkan kita kepada kisah seorang sahabat Rasul yaitu Abdullah bin Salaam.

Sebelum masuk Islam, beliau dicintai dan ditokohkan oleh orang Yahudi. Namun ketika beliau masuk Islam maka orang-orang Yahudi langsung membenci dan mencaci makinya. Demikian juga di zaman ini, ketika ada orang yang mengamalkan ajaran agama terkadang terjadi perubahan drastis pada diri sebagian orang. Pujian jadi cacian, cinta jadi benci sebagaimana perangai orang yahudi. Na’udzu billahi min dzalik.

Fudhail bin Iyyadh rahimahullah berkata:

والله، لو يئست من الخلق حتى لا تريد منهم شيئا، لأعطاك الله مولاك كل ما تريد.

“Demi Allah, seandainya engkau benar-benar putus asa dari makhluk hingga engkau tidak berharap sedikitpun dari mereka, niscaya Allah akan memberimu semua yang engkau inginkan.” (Jami’ul Ulum wal Hikam, hlm. 264)

Selayaknya manusia selalu mengantungkan harapan, cita-cita serta kebutuhannya kepada Allah Ta’ala. Terlebih kita mengetahui diantara nama Allah adalah Ash-Shomad. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullahu berkata : Ash-Shomad adalah Dzat yang sempurna sifat-sifat-Nya yang semua makhluk selalu membutuhkanNya.

Mengapa kita bergantung kepada manusia sedangkan mereka terkadang hanya berteman dikala suka dan lari dikala duka? Sebagian orang mendekat dikala ada kebutuhan tapi setelah selesai maka dia berkata: Selamat tinggal sobat. Sebagian orang bersahabat ketika seseorang itu memiliki banyak harta dan kedudukan. Tapi menjauh dikala harta dan kedudukan itu mulai menjauh. Ada gula ada semut, air susu dibalas air tuba, mungkin inilah peribahasa yang sesuai dengan mereka. Dan sungguh indah ungkapan seorang penyair arab,

إذا قل مالي فلا خل يصاحبني وفي الزيادة كل الناس خلاني
كم من عدو لأجل المال صادقني وكم من صديق لفقد المال عاداني

Apabila sedikit hartaku tidak ada yang berteman denganku
Namun ketika bertambah banyak hartaku semua orang berteman denganku
Berapa banyak musuh karena harta mau berteman denganku
Dan berapa banyak teman karena harta memusuhiku

Tidak semua kebaikanmu akan dibalas dan diapresiasi oleh manusia. Manusia cepat lupa dan melupakan. Akan tetapi berharaplah hanya kepada Allah, Allah pasti membalasnya, Allah tidak akan menyia-nyiakan kebaikan seorang mukmin.

Wallahu a’lam

Abu Miqdam
Komunitas Akhlaq Mulia

Artikel Terkait

Back to top button