SUARA PEMBACA

Bloody Friday : Antara Islamophobia dan Dendam Ideologis

Bloody Friday, Jumat Berdarah, tragedi yang akan dicatat dengan tinta hitam bagi kaum Muslim New Zealand. Serangan brutal empat orang bersenjata, telah menewaskan 50 jamaah shalat Jumat di dua masjid di wilayah Christchurch, New Zealand. (detik.com, 17/3/2019).

Berbagai respon datang dari seluruh dunia menanggapi tragedi berdarah tersebut. Mulai dari kecaman dan kutukan hingga dukungan dan doa. Tak terkecuali dari perdana menteri Negeri Kiwi tersebut. Perdana Menteri (PM) Selandia Baru, Jacinda Ardern, mengecam keras penembakan brutal di dua masjid yang ada di Christchurch. Dia menyebut aksi ini sebagai serangan teroris dan pelaku merupakan ekstremis anti-islam.

Adalah Brenton Tarrant, salah satu yang diduga menjadi pelaku penembakan. Ia bahkan sempat menyiarkan secara langsung aksi brutalnya selama 17 menit di akun FBnya. Diketahui sebelum penembakan brutal tersebut. Pria yang diidentifikasi sebagai warga negara Australia itu, mempublikasi sebuah manifesto berjudul “The Great Replacement’, setebal 73 halaman (okezone.com, 15/3/2019). Sayangnya manifesto tersebut alih alih berisi tentang kajian ilmiah. Justru berisi keluhan dan kebencian terhadap Islam.

Dari video yang beredar. Senjata pelaku menjadi pusat perhatian publik. Sebab dari gambar yang beredar di linimasa, pelaku melukis senjatanya dengan nama-nama idolanya dan kronologi kemenangan Euro Christianity melawan Muslim, Turki dan Kekhalifahan Utsmani.

Tarrant juga menghiasi senjatanya dengan huruf dan angka dari bahasa Latin, Sirilik dan Georgia (Mkhedruli), kata-kata dan tanggal yang berkaitan dengan tempat, orang dan pertempuran yang terkait dengan konflik kekerasan sepanjang sejarah antara Kristen dan Islam. Tak sampai di situ dalam laras senjata yang dipakai Brenton Tarrant untuk menembak 50 muslim juga tertulis sangat besar dalam cat putih yaitu “Refugees Welcome to Hell” yang artinya adalah ‘pengungsi, selamat datang di neraka’. (suara-islam.com, 17/3/2019).

Sangat tampak kebencian dan dendam Tarrant kepada Islam. Hingga menimbulkan aksi brutal dan biadab kepada kaum muslimin yang sedang menunaikan shalat Jumat. Aksi yang diluar kewajaran manusia. Dan mirisnya, aksi ini jelas sudah direncanakan jauh-jauh hari.

Ya, Islamophobia akibat label terorisme yang disematkan Barat kepada Islam. Telah memunculkan berbagai reaksi brutal kepada kaum Muslimin di dunia. Tak hanya menimbulkan ketakutan di tengah kaum Muslimin sendiri. Tapi juga berimbas Islamophobia akut di tengah dunia, baik di Barat maupun di Timur.

Masjid Al-Noor, Christchuch, New Zealand menjadi saksi berdarah imbas isu terorisme yang digagas Barat. Label terorisme sejatinya tak hanya sebuah fitnah tapi juga menjadikan kaum Muslimin menjadi tumbal. 50 syuhada menjadi saksi dihadapan Allah Ta’ala kelak. Bagaimana fitnah Barat terhadap Islam telah menelan banyak korban.

Di sisi lain, dendam ideologis Brenton Tarrant tentulah dicetak bukan secara instan. Tapi dari rangkaian propaganda kebencian terhadap Islam. Lewat berbagai dukungan baik penguasa maupun media massa sekuler, secara sadar maupun tidak sadar.

1 2Laman berikutnya

Artikel Terkait

Back to top button