#Wabah CoronaSURAT PEMBACA

Bukan Sekadar Angka

Dunia melihat kita. Negeri zamrut khatulistiwa yang kaya akan beragam sumber daya alam dan manusianya, tampak diperhitungkan dunia. Setelah sebelumnya rilis pada 4 Juni 2020, Indonesia berada di urutan 97 melalui survey Deep Knowledge Group, terhadap 100 negara yang dianggap paling aman dari infeksi Covid-19. (Republika.co.id, 9/6/2020)

Kali ini Universitas tua di Inggris yaitu Oxford University mencoba mengukur sejauh mana ketanggapan pemerintah di berbagai negara dalam mengatasi krisis corona. Oxford memberikan nilai index 43,91 bagi Indonesia. Nilai dibawah 50, berarti masih kurang atau setara nilai D. (Health.grid.id, 28/7/2020)

Nilai ini menempatkan Indonesia pada urutan terendah di antara negara Asean, bahkan kalah jauh dari Kamboja. Tak berbeda jauh dengan urutan buncit hasil survey Deep Knowledge Group, menunjukkan bahwa tanah air yang kita cintai ini sebagai negeri yang sangat tidak aman dari infeksi Covid-19.

Di samping itu, kabar terbaru dari situs resmi Kementerian Kesehatan RI didapati jumlah kasus per Senin 27 Juli 2020 pukul 15.19 telah mencapai 100.303 orang. Indonesia akhirnya menjadi negara Asia Tenggara pertama yang menembus 100.000 kasus positif corona. (Pikiranrakyat.com, 27/7/2020). Tentu ini bukan prestasi. Akan tetapi fakta penunjang dari ‘penghargaan’ dunia terhadap bumi pertiwi.

Tambahan lagi kabar buruknya adalah, pandemi Covid-19 di Indonesia belum mencapai puncak, demikian disampaikan oleh beberapa Pakar Epidemiologi. Menurut Pakar Keamanan Kesehatan Global dan Pandemi Universitas Griffith Dicky Budiman bahwa, Indonesia saat ini memang tengah menuju puncak, tapi belum akan mencapainya pada waktu dekat. Bahkan sepertinya puncaknya masih sangat jauh. (Cnnindonesia, 27/7/2020)

Ia mengatakan saat ini episenter penyebaran virus corona masih terjadi di Jawa. Sejalan dengan itu, baru-baru ini terjadi di Kabupaten Cirebon yang memecahkan rekor penambahan 21 kasus Covid-19 dalam sehari. Hal serupa juga dialami Kabupaten Majalengka dan Indramayu. Angkanya pun terhitung signifikan. Majalengka naik enam kasus, sementara Indramayu lima kasus baru terkonfirmasi positif. (Radarcirebon, 28/7/2020)

Sangat mengerikan. Ini bukan sekadar angka. Ada manusia yang sakit dan kemungkinan besar akan meregang nyawa, sebab buruknya penanganan pemerintah mengatasi pandemi. Saat ini siapapun bisa terpapar virus. Kebijakan penjagaan ala kadarnya yang membiarkan masyarakat hidup dalam kondisi normal gaya baru, bukanlah keadaan yang didambakan.

Maka tak heran, Indonesia mendapat nila D. Tanpa remedial, atau ujian susulan untuk perbaikan. Nilai buruk di mata dunia, bukan main-main. Taruhannya nyawa manusia. Inilah yang terjadi selama sekularisme menjadi nafas di setiap aturan di negeri ini. Masyarakat tak lebih dari hitungan angka semata, seperti dilaporkan Gugus Tugas Covid setiap harinya. Tidak lebih dari itu.

Padahal ini bukanlah perkara sederhana. Krisis multi dimensi terjadi akibat pola pengurusan umat yang keliru. Persoalan yang terkait satu dengan lainnya, menunjukkan kerusakan sistemik yang sangat pelik dan rumit. Dari mulai masalah kesehatan, ekonomi, sosial, pendidikan, keluarga dan lainnya. Ditambah pandemi, semakin nyata benang ruwet permasalahan di tengah umat.

Nilai D di mata dunia, masih tidak seberapa dibanding penilaian di hadapan Allah. Di saat matahari hanya sejengkal jaraknya, tatkala manusia berdiri di hadapan mahkamah akhirat. Kelak para pemimpin pun akan diminta pertanggungjawabannya oleh Allah terhadap pengelolaan urusan umat.

Berbeda dalam Islam. Allah berfirman: “Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.” (QS. Al Maidah: 32)

Ada banyak cara untuk mengatasi pandemi. Rasulullah telah mencontohkan tatkala terjadi wabah penyakit, yaitu memisahkan orang yang sakit dari yang sehat. Karantina wilayah, hingga di sekelilingnya dibangun tembok pembatas agar tidak bercampur manusia satu dengan lainnya.

Perawatan orang sakit pun tidak menarik biaya dari masyarakat, sebab negara memiliki Baitul Maal untuk mencukupi seluruh kebutuhan masyarakat. Pemeliharaan kesehatan dari sejak preventif hingga kuratif, dijamin oleh negara. Begitupun kebutuhan dasar lainnya seperti pangan, sandang dan papan. Masyarakat tidak dibebani kewajiban memutar roda perekonomian.

Sehingga tak perlu terpaksa ke luar rumah dan beresiko terkena penularan sebab negara tidak mampu menjamin kebutuhan ekonomi. Dari sini tampak bahwa sekularisme gagal menyelamatkan masyarakat dari pandemi. Jumlah masyarakat terdampak semakin banyak. Angka kemiskinan pun terus naik. Negara abai terhadap persoalan umat.

Penjagaan Khalifah terhadap masyarakat pun sangat tinggi. Dari al-Barra’ bin Azib radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibandingnya terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak.” (HR. Nasai 3987, Turmudzi 1455, dan dishahihkan al-Albani).

Dalam buku ‘The Great Leader Umar bin Khaththab’ Ketika terjadi krisis, Khalifah Umar ra. langsung memerintahkan untuk membuat posko-posko bantuan. Diriwayatkan dari Aslam:

Pada tahun kelabu (masa krisis), bangsa Arab dari berbagai penjuru datang ke Madinah. Khalifah Umar ra. menugaskan beberapa orang (jajarannya) untuk menangani mereka. Suatu malam, saya mendengar beliau berkata, “Hitunglah jumlah orang yang makan malam bersama kita.”

Orang-orang yang ditugaskan pun menghitung orang-orang yang datang. (Ternyata) berjumlah tujuh puluh ribu orang. Jumlah orang-orang sakit dan yang memerlukan bantuan sebanyak empat ribu orang. Selang beberapa hari, jumlah orang yang datang dan yang memerlukan bantuan mencapai enam puluh ribu orang.

Tidak berapa lama kemudian, Allah mengirim awan. Saat hujan turun, saya melihat Khalifah Umar ra. menugaskan orang-orang untuk mengantarkan mereka ke perkampungan dan memberi mereka makanan dan pakaian ke perkampungan.Banyak terjadi kematian di tengah-tengah mereka. Saya melihat sepertiga mereka mati. Tungku-tungku Umar sudah dinyalakan para pekerja sejak sebelum subuh. Mereka menumbuk dan membuat bubur.

Khalifah Umar ra. memberi makanan kepada orang-orang badui dari Dar ad-Daqiq, sebuah lembaga perekonomian yang berada pada masa pemerintahan Umar. Lembaga ini bertugas membagi tepung, mentega, kurma, dan anggur yang berada di gudang kepada orang-orang yang datang ke Madinah sebelum bantuan dari Mesir, Syam dan Irak datang.

Dar ad-Daqiq kian diperbesar agar bisa membagi makanan kepada puluhan ribu orang yang datang ke Madinah selama sembilan bulan, sebelum hujan tiba dan memberi penghidupan.

Musibah yang melanda, juga membuat Khalifah semakin mendekatkan diri kepada Allah, meminta pertolongan Allah subhanahu wa ta’ala Pemilik alam seisinya.

Suatu ketika Khalifah Umar ra. mengimami salat isya bersama para jamaah yang lalu pulang, sementara ia terus salat hingga di penghujung malam. Setelah itu, Umar keluar rumah mendatangi perkampungan dan meronda. Abdullah bin Umar ra. meriwayatkan, ia berkata, “Pada suatu malam di waktu sahur saya mendengar ia berdoa, “Ya Allah, janganlah Kau binasakan umat Muhammad saat saya menjadi pemimpin mereka.”

Ia pun berdoa, “Ya Allah, janganlah Kau binasakan kami dengan kemarau dan lenyapkanlah musibah dari kami.” Ia mengulang-ulang kata-kata tersebut.

Para pemimpin yang mengemban sekularisme, tidak akan sanggup mengelola urusan umat seperti layaknya Umar bin Khaththab, terlalu berat. Karenanya sekularisme tidak mampu mengatasi pandemi. Dengan model penguasa yang berlepas tangan dari urusan umat dan hanya melempangkan jalan para kapital, maka tidak terbentuk nilai kebaikan di sana.

Oleh sebab itu, sangat dekat bagi Islam kepada waktu yang dijanjikan, untuk naik ke pentas dunia dan menunjukkan jati dirinya. Sebagai sebuah tatanan dunia baru yang akan menerapkan aturan Allah secara keseluruhan dalam kancah kehidupan. Tsumma takuunu khilafatan ala minjahin nubuwwah.

Lulu Nugroho
Muslimah Pengemban Dakwah dari Cirebon

Artikel Terkait

Back to top button