Cahaya Kenabian: Hikmah di Balik Kelahiran Nabi Muhammad Saw

Kelahiran Nabi Muhammad ﷺ bukan sekadar kehadiran seorang bayi di dunia, melainkan lahirnya cahaya kenabian yang akan menerangi seluruh alam. Al-Qur’an menggambarkan beliau sebagai “sirajan munira” (lampu yang memberi cahaya terang) (QS. Al-Ahzab: 46). Artinya, sejak kelahiran beliau, Allah telah menyiapkan seorang hamba pilihan yang akan membawa manusia dari gelapnya jahiliyah menuju terang benderangnya tauhid.
Rabiul Awal, bulan kelahiran Rasulullah ﷺ, menjadi simbol munculnya harapan. Saat dunia terpuruk dalam krisis moral dan spiritual, Allah menghadirkan seorang Nabi yang akan membangun kembali pondasi kemanusiaan dengan akhlak, kasih sayang, dan risalah ilahi.
Riwayat sejarah menyebutkan, pada malam kelahiran Nabi ﷺ, berbagai peristiwa luar biasa terjadi api penyembahan Majusi yang telah menyala ribuan tahun padam, dan istana Kisra yang megah berguncang. Peristiwa ini bukan kebetulan ia adalah simbol bahwa cahaya kenabian akan menghancurkan kesyirikan dan kesombongan manusia.
Dunia jahiliyah yang penuh dengan kegelapan moral, kezaliman, dan kesewenang-wenangan seakan diberi tanda era baru akan dimulai. Era di mana kemanusiaan kembali dimuliakan, keadilan ditegakkan, dan Allah disembah dengan tauhid yang murni.
Apa yang dapat kita pelajari dari peristiwa agung ini:
- Allah mengatur sejarah dengan penuh hikmah. Tidak ada yang kebetulan dalam kelahiran Nabi ﷺ. Semua tanda-tanda yang menyertai kelahirannya adalah bukti bahwa Allah sedang menyiapkan pemimpin akhir zaman.
- Kesabaran melahirkan kekuatan. Nabi ﷺ lahir sebagai yatim, tumbuh dalam kesulitan, namun dari kesabaran itu lahirlah kekuatan luar biasa untuk memimpin umat.
- Cahaya kebenaran pasti mengalahkan kegelapan. Betapa pekatnya jahiliyah kala itu, namun cahaya Islam berhasil menembusnya. Ini menjadi penghibur bagi umat Islam kini, bahwa kegelapan zaman modern pun bisa dikalahkan dengan cahaya iman.
Satu hal yang membuat air mata kita menetes adalah cinta Nabi ﷺ kepada umatnya. Beliau tidak hanya lahir untuk mendidik masyarakat Arab, tetapi juga untuk seluruh manusia, termasuk kita yang hidup berabad-abad setelah beliau wafat.
Dalam sebuah riwayat, Nabi ﷺ pernah berdoa di malam panjang dengan linangan air mata. Ketika malaikat Jibril datang menanyakan sebab beliau menangis, Nabi ﷺ menjawab, “Aku menangisi umatku.” Maka Allah menurunkan ayat: “Sesungguhnya Tuhanmu tidak akan meninggalkanmu dan tidak (pula) membencimu.” (QS. Adh-Dhuha: 3)
Betapa haru: beliau menangis bukan untuk dirinya, tetapi untuk kita. Tangisan seorang Nabi adalah bukti betapa besar cintanya kepada umat.
Jika kita merenungi kelahiran Nabi ﷺ dengan hati yang jernih, niscaya mata kita basah. Betapa kita rindu pada beliau, padahal kita belum pernah bertemu. Rindu pada senyum lembutnya, rindu pada suaranya yang menyejukkan, rindu pada pelukan kasih sayangnya.
Namun jangan khawatir, Rasulullah ﷺ sendiri telah berjanji: “Seseorang akan bersama dengan yang ia cintai.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Maka, jika cinta kita kepada beliau tulus, kelak kita akan bersama beliau di surga. Itulah harapan terbesar kita, itulah cahaya yang seharusnya kita jaga.[]
Fakhurrazi Al Kadrie, S.H.I., M.Pd., Penyuluh Agama Islam Kementerian Agama Kota Pontianak.