OPINI

Dinamika Perang Asimetris: Hamas vs IDF

Perang antara Hamas dan Pasukan Pertahanan Israel (IDF) merupakan contoh perang asimetris, yakni konflik antara kekuatan militer konvensional yang unggul secara material dan kelompok bersenjata yang mengandalkan taktik gerilya, penguasaan medan, serta ketahanan organisasi. Konflik ini memperlihatkan bahwa keunggulan persenjataan tidak selalu menjamin kemenangan strategis secara cepat.

  1. Misi Utama dan Strategi Memperpanjang Perang

Israel melancarkan operasi militer dengan tujuan menghancurkan kekuatan Hamas dan membebaskan sandera. Namun, perlawanan yang berlanjut menunjukkan bahwa serangan terhadap infrastruktur dan pimpinan lawan tidak otomatis mengakhiri kemampuan mereka untuk bertempur.

Melalui strategi war of attrition atau perang pengikisan, Hamas berusaha mempertahankan perlawanan dan meningkatkan biaya perang bagi Israel. Perang berkepanjangan membebani logistik, ekonomi, dan kesiapan personel Israel, sekaligus meningkatkan tekanan diplomatik serta kritik internasional. Dengan demikian, waktu menjadi faktor strategis: Israel harus mempertahankan operasi dengan biaya besar tanpa jaminan seluruh tujuannya tercapai.

  1. Komposisi Pasukan dan Penguasaan Medan

Israel mengandalkan pasukan reguler dan reservis (reservists) yang dipanggil dari kehidupan sipil. Mobilisasi berkepanjangan menimbulkan tuntutan terhadap kesiapan personel dan keberlangsungan ekonomi. Tantangan tersebut semakin besar dalam perang kota yang menuntut pemahaman medan dan kemampuan mengenali ancaman secara akurat.

Sebaliknya, pengalaman Hamas di Gaza, pengetahuan tentang lingkungan lokal, serta jaringan terowongan bawah tanah memberikan keuntungan dalam menghadapi pasukan konvensional. Taktik penyergapan, serangan mendadak, dan jebakan dapat mengurangi efektivitas persenjataan berat IDF. Keterbatasan penguasaan medan juga meningkatkan risiko ranjau, friendly fire, dan kesalahan identifikasi. Artinya, keunggulan teknologi tidak otomatis berarti penguasaan medan yang efektif.

  1. Kerugian Personel dan Tekanan terhadap IDF

Kerugian IDF tidak hanya berkaitan dengan kontak tembak langsung. Penggunaan alat peledak rakitan (IED) dan jebakan di bangunan maupun reruntuhan menjadi ancaman bagi infanteri dan kendaraan lapis baja, terutama ketika ancaman sulit dideteksi akibat kompleksitas medan.

Selain itu, gang sempit, jarak pandang terbatas, dan koordinasi yang sulit meningkatkan risiko friendly fire atau penembakan terhadap rekan sendiri. Hal ini memperlihatkan bahwa penguasaan medan menentukan bukan hanya efektivitas serangan, tetapi juga keselamatan pasukan.

Perang berkepanjangan turut menimbulkan tekanan psikologis akibat ancaman, kehilangan rekan, dan ketidakpastian. Gangguan kesehatan mental dan laporan insiden bunuh diri di lingkungan militer IDF menjadi bagian dari persoalan yang perlu diperhitungkan ketika menilai beban perang terhadap personel.

  1. Penembakan Warga Sipil dan Dilema Identifikasi

Hamas tidak selalu menggunakan seragam militer standar dan dapat menyamarkan pergerakannya di lingkungan perkotaan. Kondisi ini menyulitkan identifikasi kombatan, khususnya ketika pasukan IDF menghadapi keterbatasan dalam memahami medan dan situasi lokal.

Kesulitan membedakan kombatan dari warga sipil berkaitan erat dengan penguasaan medan. Ketidakpastian identitas dapat berujung pada kesalahan penembakan, termasuk insiden ketika tentara Israel menembak sandera Israel sendiri. Peristiwa semacam ini menunjukkan bahwa keunggulan persenjataan tidak menghilangkan risiko kesalahan identifikasi. Namun, kesulitan operasional tetap tidak menghapus kewajiban membedakan kombatan dan warga sipil berdasarkan hukum humaniter internasional.

  1. Pergeseran Opini Publik Amerika Serikat

Perang berkepanjangan juga meningkatkan tekanan politik terhadap Israel di negara sekutunya. Survei Pew Research Center dan Gallup menjadi rujukan untuk menilai perubahan pandangan masyarakat Amerika Serikat terhadap Israel dan operasi militernya. Sejumlah pengukuran menunjukkan peningkatan pandangan negatif atau kritik yang melampaui 50–60% pada kelompok dan indikator tertentu.

Pergeseran ini dipengaruhi oleh penyebaran dokumentasi perang melalui media sosial, kritik terhadap penggunaan uang pembayar pajak untuk bantuan militer, serta meningkatnya ketidakpuasan terhadap pemerintahan Benjamin Netanyahu. Kritik di kalangan Demokrat dan independen turut memperlihatkan bahwa konflik tersebut tidak hanya berdampak di medan tempur, tetapi juga menimbulkan biaya politik dan diplomatik.

  1. Doktrin Operasional dan Ketahanan Sistemik Hamas

Ketahanan organisasi Hamas juga berkaitan dengan komunikasi, standar personel, dan struktur komando. Penggunaan ungkapan atau potongan ayat Al-Qur’an sebagai kode komunikasi disebut sebagai bagian dari upaya menjaga kerahasiaan. Sementara itu, pembinaan personel mencakup aspek fisik, kedisiplinan, dan spiritual, termasuk standar hafalan Al-Qur’an 30 juz bagi personel tertentu.

Di samping itu, struktur organisasi yang tidak sepenuhnya bergantung pada satu figur dapat membantu mempertahankan sebagian aktivitas ketika pimpinan gugur. Dengan demikian, ketahanan Hamas perlu dilihat bukan hanya dari keberadaan pemimpin, melainkan juga dari sistem organisasi dan kemampuan mempertahankan koordinasi.

Kesimpulan

Perang Hamas–Israel memperlihatkan paradoks perang asimetris: keunggulan material tidak selalu menghasilkan kemenangan strategis. Penguasaan medan, taktik gerilya, kerugian personel, tekanan psikologis, ketahanan organisasi, dan perubahan opini publik turut menentukan dinamika konflik.

Israel unggul secara konvensional, tetapi kemampuan Hamas mempertahankan perlawanan membuat tujuan militer Israel lebih sulit dicapai. Persoalan utamanya bukan kesetaraan kekuatan material, melainkan kemampuan mengubah keunggulan militer menjadi kemenangan strategis yang benar-benar mengakhiri perlawanan lawan.

Rifqi Muhamad Abyan
Mahasiswa Akademi Dakwah Indonesia (ADI) Kota Bogor

Back to top button