SURAT PEMBACA

Dinar Dirham: Solusi Mengakar Gantikan Dolar

Pemandangan yang begitu kontras. Di saat wacana menurunkan volume speaker kumandang adzan, di saat itu pula kurs dolar menaik tajam. Sementara posisi rupiah kian hari kian terkapar.

Pada Jumat (31/8/2018) pukul 12:00 WIB, US$1 ditransaksikan pada Rp 14.725 di pasar spot. Rupiah melemah 0,27% dibandingkan penutupan perdagangan kemarin.

Sementara itu, harga jual dolar AS di salah satu bank nasional telah menembus di atas Rp 14.900/US$. Ini merupakan harga jual dolar ke nasabahnya dengan menggunakan kurs Jual. Berikut data kurs dolar AS hingga pukul 11:50 WIB (cnbcindonesia.com/31/08/2018). Tentulah kenaikan kurs dolar ini akan berimbas pada kenaikan harga di nusantara. Krisis ekonomi pun tampak mengancam di depan mata.

Pandangan Islam

Islam merupakan agama sekaligus pandangan hidup yang paripurna. Adanya dicipta sebagai solusi dari segala permasalahan yang dihadapi dalam kehidupan manusia. Bukan hanya yang berkaitan dengan hubungan hamba dan Sang Pencipta. Namun, juga mengentaskan segala problematika yang melanda hubungan sesama hamba.

Adapun permasalahan nilai kurs dolar yang terus meroket tajam sehingga mengakibatkan nilai rupiah kian terkapar. Islam memiliki analisis dan solusi menyikapinya.

Sebenarnya asal mula terjadi krisis moneter itu justru terjadi setelah dunia melepaskan diri dari standar emas dan perak. Hal itu disertai berpindahnya dinar dirham yang berbasis emas perak ke sistem uang kertas (fiat money), yaitu mata uang yang berlaku semata karena dekrit pemerintah. Adanya uang kertas tersebut tidak ditopang oleh logam mulia seperti emas dan perak.

Dalam sistem Bretton Woods yang berlaku sejak 1944, dolar masih dikaitkan dengan emas, yaitu uang $35 dolar AS dapat ditukar dengan 1 ounce emas (31 gram). Namun pada 15 Agustus 1971, karena faktor ekonomi, militer, dan politik, Presiden AS Richard Nixon akhirnya menghentikan sistem Bretton Woods itu dan dolar tak boleh lagi ditukar dengan emas. (Hasan, 2005).

Dari era tersebut, nilai tukar mengambang global yang mengundang begitu banyak masalah. Dolar semakin terjangkit penyakit inflasi. Pada tahun 1971 harga resmi emas adalah $38 dolar AS per ounce. Namun pada tahun 1979 harganya sudah melonjak jadi $450 dolar AS per ounce. (El-Diwany, 2003).

Begitulah cara Barat membuat penjajahannya menjadi paripurna. Gayanya dibuat segenap daya upaya agar kaum Muslimin kian jatuh tak berdaya. Termasuk menyingkirkan dinar dirham dalam perdagangan sehingga menghantarkan pada krisis moneter berkepanjangan.

Sejatinya, problematik moneter seperti itu hanya dapat diatasi oleh mata uang dinar dan dirham yang bersandar pada emas dan perak. Hal tersebut disebabkan emas dan perak mempunyai banyak keunggulan.

Pertama, dinar dirham kebal terhadap krisis moneter. Ketika nilai mata uang Rupiah (Rp) merosot drastis terhadap dolar, nilai emas tetap tinggi terhadap dolar. Hal ini dikarenakan karena bahan dasar dinar adalah emas murni (24 karat) yang bernilai tinggi dan berharga.

Kedua, stabil dan tahan inflasi. Nilai dari dinar dan dirham tidak akan mengalami penyusutan. Seiring dengan pertambahan waktu kenaikan harga dinar dan dirham selalu melebihi inflasi karena kestabilan Dinar. Percontohan mudah, harga 1 ekor kambing di zaman Rasulullah Saw. adalah 1 Dinar, sekarang 14 abad kemudian pun harganya masih tetap 1 Dinar setara dengan 2,4 jutaan.

Ketiga, memiliki nilai intrinsik. Bahan pembuat dinar adalah emas sementara dirham adalah perak. Sehingga pembuatannya senantiasa disandarkan pada kesediaan emas perak yang dimiliki negara. Tidak seperti uang kertas yang dapat dicetak semaunya.

Sistem emas dan perak akan memelihara kekayaan emas dan perak yang dimiliki oleh setiap negara. Jadi emas dan perak tidak akan lari dari satu negeri ke negeri lain. Negara mana pun tidak memerlukan pengawasan untuk menjaga emas dan peraknya. Ini karena emas dan perak itu tidak akan berpindah secara percuma atau ilegal.

Emas dan perak tidak akan berpindah kecuali menjadi harga bagi barang atau jasa yang memang hal ini dibolehkan syara’. (Zallum, 2004:227; An-Nabhani, 2004:277). Contohnya : untuk mengimpor bahan pangan, alat-alat berat, persenjataan, atau untuk membayar tenaga ahli dari berbagai bidang dari luar negeri yang diperlukan untuk membangun negara Khilafah. Dengan kata lain, tidak akan ada keuntungan investasi asing yang dapat diterjemahkan sebagai kerugian mata uang dalam negeri. (El-Diwany, 2003:98).

Sudah saatnya dinar dirham yang bersandar kepada emas dan perak menjadi solusi mengakar menggantikan dolar yang menjadi alat penjajahan Barat di negeri kaum Muslim. Memberlakukan dinar dirham tentulah mesti direalisasikan dengan menerapkan syariat Islam secara kaffah. Seperti yang telah dicontohkan Rasulullah saw. Saat kali pertama hijrah ke Madinah. Rasulullah menegakkan institusi daulah Islamiyah untuk menerapkan aturan yang bersumber dari kitabullah dan sunah Rasulullah. Rakyat makmur sentosa karena naungan berkah ketaatan kepada Allah subhanahu wata’ala. Wallahu’alam bishowab.

Ammylia Rostikasari, S.S.
(Aktivis Akademi Menulis Kreatif)

Back to top button