NUIM HIDAYAT

Hancurnya Nilai-Nilai Amerika

“Hancurnya suatu bangsa bukan hanya karena diserang bangsa lain. Tapi bila bangsa itu telah kehilangan nilai, kehilangan moral, maka bangsa itu sebenarnya telah hancur.” (Anonim)

Bangsa yang telah hancur nilai-nilainya, maka ia akan membebek pada nilai-nilai bangsa lain. Artinya ia tidak menjadi pemimpin lagi. Ia menjadi ‘pak turut’ bangsa lain yang diikutinya itu.

Amerika kini telah hancur nilai-nilainya. Nilai kebebasan yang dipegang teguh Amerika kini dipertanyakan banyak orang. Karena banyak bangsa atau masyarakat yang mengikuti ideologi kebebasan Amerika, bangsa itu malah menjadi rusak.

Filipina yang mengikut penuh ideologi kebebasan Amerika, sampai kini tidak menjadi bangsa yang maju. Filipina kini repot dengan bangsanya yang dilanda pornografi dan narkoba.

Ideologi kebebasan yang dipegang teguh Amerika, kini membuat mereka bingung mau kemana. Negara adidaya ini bingung mengatur persenjataan api di negerinya, bingung mengatasi minuman keras yang banyak melanda rumah tangga, bingung mengatasi pornografi yang jelas-jelas merusak moral dan otak warganya, bingung mengatasi penyebaran narkoba dan seterusnya.

Suatu kali cendekiawan Islam, Dr Musthafa as Sibai bertemu dengan Prof Abu Bakar, cendekiawan mualaf Inggris yang menjadi guru besar Bahasa Inggris di Universitas Fuad, Kairo. Suatu ketika Abu Bakar menjelaskan sebab-sebab yang membuatnya masuk Islam. Katanya,”Sesungguhnya peradaban Barat telah kehilangan kemuliaan dan keindahan.” Maka as Sibai berkata kepadanya,”Saya sependapat dengan Anda bahwa peradaban Barat kehilangan kemuliaan. Tetapi mana mungkin ia kehilangan keindahan? Bukankah orang-orang melihatnya sebagai peradaban yang paling menakjubkan karena sangat memperhatikan keindahan. Entah itu keindahan alam, keindahan pakaian, keindahan kota-kota, keindahan rumah, juga keindahan wanita.” Mendengar perkataan kawannya itu, Abu Bakar menjawab,”Peradaban Barat telah kehilangan keindahan jiwa, keindahan rasa fitri dan keindahan moral.” (Lihat buku Peradaban Islam, Dulu, Kini dan Esok, Musthafa as Sibai, GIP, 1993).

Mustafa as Sibai juga mengutip seorang pendapat salah seorang ‘Muslim Eropa’ : “Wahai saudara-saudaraku, kami lari dari peradaban Barat menuju Islam karena peradaban barat telah membunuh urat-urat saraf kami dengan peperangan-peperangan dan senjata-senjatanya. Peradaban Barat membuat kami kehilangan kemanusiaan ketika ia mematikan jiwa-jiwa kami dan menghidupkan nafsu-nafsu kami dengan materialismenya. Maka bicaralah kepada kami mengenai rohaniah Islam yang di dalamnya Kami bisa memperoleh kemuliaan kemanusiaan dan ketenangan jiwa.”

Ya, Barat khususnya Amerika memang telah kehilangan nilainya. Kehilangan moral dan pedoman hidup. Bagaimana bangsa yang pemikirannya maju tapi moralnya rendah. Lihatlah di sana sekarang bingung mengatasi penyimpangan seksual LBGT. Lihatlah masyarakat di sana bingung kenapa pemerintahnya sejak tahun 2003 mengirim ribuan tentaranya ke Irak, untuk sebuah perang yang misinya menguasai ladang-ladang minyak negara lain (Irak). Masyarakat di sana bingung ideologi kebebasan –bebas dari campur tangan agama/Tuhan—menjadikan masyarakat di sana seperti sebuah pabrik/mesin. Masyarakat dihargai hanya karena materi: jabatan dan uang.

Sistem kapitalisme yang diterapkan juga membuat ekonomi Amerika kebingungan. Mereka mendasarkan diri pada pajak, bunga bank dan persaingan total sehingga perusahaan-perusahan memakan perusahaan-perusahaan kecil. Beda dengan ekonomi Islam yang mendasarkan diri pada ketulusan: zakat, infaq, wakaf dan saling tolong menolong.

Dalam budaya, mereka juga mengalami kekeringan. Sehingga yang tampil menjadi pahlawan adalah tokoh-tokoh khayalan belaka: Spiderman, Wonderwoman dan lain-lain. Mereka nyaris tidak mempunyai tokoh-rokoh yang hebat, seperti dalam Islam: Khulafaur Rasyidin dan lain-lain. Dan yang paling parah mereka tidak mempunyai tokoh panutan yang sempurna manusia yaitu Rasulullah Muhammad Saw.

Sehingga siklus kehidupan mereka coba-coba dan tidak tentu arah. Kadang mereka menyerukan agar tidak diterapkan hukuman mati bagi terpidana. Tapi di sisi lain mereka membolehkan jutaan orang dibunuh, karena untuk melanggengkan kekuasaan di dunia dan seterusnya.

1 2Laman berikutnya

Artikel Terkait

Back to top button