SURAT PEMBACA

Hari Guru: Tak Sekadar Peringatan, Butuh Kesejahteraan

Tanggal 25 November menjadi momentum peringatan Hari Guru Nasional. Peringatan ini diselenggarakan untuk mengapresiasi pahlawan pendidikan yang berjuang untuk mencerdaskan anak bangsa. Sebab dari tangan guru lah lahir generasi cerdas disertai iman dan taqwa.

Peringatan ini sekaligus menjadi refleksi akan pendidikan di negeri ini. Guru sebagai tokoh utama yang berjasa dalam pendidikan mengemban amanah yang berat untuk mengantarkan siswanya menjadi generasi yang berprestasi, berkarakter dan menjadi orang yang berguna bagi orang lain di masa depan. Dengan tugas berat inilah, guru harus dihargai dan dimuliakan atas jasa serta pengabdiannya.

Tapi, tidak semua guru mendapatkan kesejahteraan terutama guru honorer atau guru yang mengabdi untuk mengajar di daerah terpencil.

Mengutip dari Pekanbaru.tribunnews.com, menyatakan bahwa guru belum sejahtera, tugas guru berat, guru di Riau perlu perhatian, terutama di kesejahteraan dan kemampuan serta moralnya itu kondisi dalam Sempena Hari Guru Nasional 2018 ini.

Hal inilah yang seharusnya menjadi refleksi dalam dunia pendidikan. Apresiasi tak sekedar ucapan tapi seharusnya memberi hak yang layak kepada guru yang telah memberikan pengabdiannya serta kerja kerasnya untuk memperbaiki moral generasi di negeri ini.

Tak Butuh Janji Tapi Realisasi

Guru yang sudah berjasa dan mengabdi dalam dunia pendidikan tampaknya masih di hargai rendah oleh penguasa. Pasalnya mereka yang sudah mengajar selama bertahun – tahun hanya mendapatkan imbalan sebesar 400 ribu – 500 ribu atas keringat mereka. Hal ini sungguh tidak sebanding dengan jasa mereka dalam mendidik generasi. Namun penguasa mengabaikan hal itu. Sebab untuk memberikan kesejahteraan kepada guru, penguasa harus memutar otak untuk mendapatkan dana demi menyejahterakan mereka. Janji menaikkan status menjadi pegawai negeri dengan jaminan kesejahteraan, hanya sekedar basa – basi tak kunjung terealisasi. Inilah sistem Kapitalis, dimana tak ada jaminan kesejahteraan ataupun keadilan. Dimana penguasa bergerak hanya untuk kepentingan segelintir elit. Jika penguasa terus mengabaikan permasalahan seperti ini, maka akan semakin banyak guru yang tak ikhlas dalam mengajar bahkan mundur dari tugasnya. Akibatnya generasi terpengaruh oleh invasi pemikiran dan budaya Barat yang merusak tanpa ada yang mengarahkan dan membimbing. Maka generasi yang lahir hanya akan menjadi generasi rusak dan tak memiliki jati diri. Bisa disimpulkan bahwa penguasa tak mampu mengurusi permasalahan pendidikan negeri ini.

Islam Menyejahterakan Guru

Posisi guru sangat penting dalam kacamata Islam. Guru mengemban tugas yang mulia dengan menyampaikan ilmunya dan Allah Swt meningkatkan derajatnya.

“…niscaya Allah akan meninggikan orang – orang beriman diantara kamu dan orang – orang yang diberi ilmu bebeerapa derajat….” (QS. Al-Mujaadilah: 11)

Dari tangan gurulah lahir generasi yang cerdas, berjiwa pemimpin, terdepan, dan berkepribadian islam sehingga mampu memberikan kontribusinya untuk kemaslahatan umat. Tak cukup itu, guru juga mengajarkan adab kepada muridnya untuk taat kepada Allah sehingga mendapatkan mahkota tertinggi yaitu takwa.

Begitu berat tugas guru sehingga Islam sangat menghargai jasa guru dengan menjamin kesejahateraan atas jasanya dalam mendidik. Pada masa kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab setiap guru mendapatkan gaji yang luar biasa besar sekitar 15 dinar/bulan setara dengan 30 juta per bulan. Gaji ini diambil kholifah dari kas Baitul Maal. Sehingga guru pun mengemban tanggung jawab dalam pendidikan dengan serius sekaligus bernilai ibadah. Kesejahteraan guru ini dapat terwujud dalam sistem Islam.

Oleh karena itu, peringatan Hari Guru Nasional ini seharusnya menjadi refleksi untuk memperbaiki kesejahteraan guru yang telah berjasa dalam pendidikan. Atas kerja kerasnya dalam mendidik generasi, guru harus disejahterakan dan dimuliakan bukan hanya dicekoki janji manis beracun. Kesejahteraan guru hanya di dapat dalam sistem Islam dan inilah yang harus diperjuangkan. Wallahualam Bisshowaab.

Ekky Marita, S.Pd
(Pendidik)

Artikel Terkait

Back to top button