SURAT PEMBACA

Hitam Putih Internet Masuk Desa

Indonesia bergerak menuju revolusi industri 4.0. Sebuah kondisi tatkala teknologi informasi dan komunikasi melesat di berbagai bidang. Perkembangan ini tidak bisa dihindari. Manusia bergerak mengikutinya. Masuk ke dalam era digital dengan tetap memainkan peran sebagai aktor perubahan.

Sejalan dengan hal tersebut, Pemkab Cirebon pun menargetkan sambungan jaringan fiber optik di seluruh desa dan kelurahan se-Kabupaten Cirebon pada September 2020. (Ayocirebon, 1/8/2020). Secara bertahap, nantinya akan menjadi desa digital di awal 2021. Bahkan saat ini sudah tersambung sekitar 270 desa, jumlah ini masih akan terus bertambah.

Kabupaten Cirebon diharapkan sebagai daerah pertama di Indonesia yang seluruh desanya tersambung fiber optik. Menjelang dilaksanakannya program tersebut, Asisten Daerah 1 Bidang Pemerintahan, Hilmy Riva’i meminta kepada seluruh kuwu untuk mempersiapkan perangkat desa agar menguasai IT. (Radarcirebon, 23/7/2020)

Hal ini merupakan kelanjutan dari prestasi yang didapat setahun lalu, yaitu Jawa Barat menerima penghargaan ‘Recognition of Excellence 2019’ untuk kategori Insiatif Desa Digital dari organisasi OpenGov, dalam ajang Indonesia OpenGov Leadership Forum 2019 di Hotel JW Marriot, Kuningan, Jakarta pada 18 Juli. (Radarcirebon, 23/7/2019).

Emil menegaskan, penerapan teknologi digital di desa-desa menjadi hal menarik dan unik saat ini. Pasalnya, belum semua tempat di dunia melakukan hal tersebut. Desa Digital, kata dia, merupakan program pemberdayaan masyarakat melalui pemanfaatan teknologi digital dan internet dalam pengembangan potensi desa, pemasaran dan percepatan akses serta pelayanan informasi.

Lebih lanjut Desa Digital di Jawa Barat bisa menjadi contoh bagaimana ekosistem digital mampu meningkatkan perekonomian warga desa. “Semoga, apabila desanya maju, urbanisasi ke kota bukan lagi satu-satunya pilihan meningkatkan taraf kehidupan”, kata Ridwan Kamil Gubernur Jawa Barat. (Republika.co.id, 10/6/2020)

Pembangunan desa pun menuju digitalisasi, demi meningkatkan pelayanan publik. Dengan adanya internet desa maka pemerintah desa bisa dengan mudah menyebarkan informasi kepada seluruh warga, seperti pengumuman, regulasi baru, atau peringatan dini kepada warganya, serta komunikasi antar desa.

Di samping itu, Sistem Informasi Desa Online menyajikan data desa yang selalu baru, serta dapat diakses dengan cepat oleh Pemda dan Pemerintah Pusat. Menjadikan birokrasi dan transparansi pemerintah desa menjadi lebih baik, sebab kecepatan dalam memberikan data terbaru seperti penggunaan anggaran dan warga pun bisa memantau realisasi anggaran tersebut.

Terbuka peluang investasi dan jualan online bagi desa yang bersangkutan. Produk desa yang dijual dapat berupa hasil ternak, kebun, kerajinan atau produk berciri khas lainnya, obyek wisata, dan lain sebagainya. Biasanya terbatas secara geografi, kini akan menembus batas hingga ke seluruh dunia.

Pada akhirnya, diharapkan desa menjadi sumber dan akses ekonomi yang sangat besar, kreativitas warga lebih terasah, pendidikan menjadi lebih baik. Sehingga dapat menggali potensi desa lebih maksimal. Terutama di kala pandemi, ketika seluruh aktivitas banyak menggunakan media sosial.

Hanya saja, sekalipun internet menjadi salah-satu unsur perubahan paling cepat dalam sejarah peradaban manusia. Sayangnya, tidak hanya menyajikan solusi, tapi juga masalah. Sebagai sebuah saluran yang bebas, internet dapat digunakan untuk apa saja. Baik itu pemikiran baik, atau buruk.

Hal ini tentu masuk akal. Teknologi sebagai produk madaniyah, selalunya bagai dua sisi mata uang. Di tangan akidah sahih, akan bermanfaat. Sementara tatkala dikendalikan oleh sekularisme, justru tidak akan mendatangkan kebaikan sama sekali bagi masyarakat. Sebab selain Islam, menjauhkan peran Allah dalam pengaturan urusan umat.

Karenanya penting untuk menjaga akidah umat. Agar tidak keliru menggunakannya dalam tatanan hidup bermasyarakat. Sebab akidah mendasari manusia bertingkah laku, menjadikannya sebagai asas berpikir. Sehingga seluruh keputusan yang dihasilkan, akan menggerakkannya pada level manusia mulia.

Masuknya ide kebebasan, tanpa kontrol akidah, akan membanjiri ruang pemikiran masyarakat. Gaya hidup bebas yang berkiblat ke barat, tentu akan mempengaruhi masyarakat desa. Akan menjadi persoalan ketika masyarakat desa menyerap hal baru. Di sinilah pentingnya pendidikan berbasis akidah yang sahih, yang akan menangkal ide-ide rusak.

Di samping itu, pemanfaatan teknologi informasi membuat semua layanan berbasis internet, seperti e-commerce, e-money, e-education, e-goverment dan lain sebagainya. Bernilai positif dalam memangkas birokrasi, tapi juga mengurangi tangan manusia. Maka perkembangan IT tanpa diimbangi sumber daya manusia (SDM) akan mengakibatkan berkurangnya kesempatan kerja. Sebab pekerjaan manusia diambil alih oleh mesin.

Persoalan lain muncul ketika balai desa yang dijadikan pusat akses internet masyarakat desa. Anak-anak yang tidak memiliki internet, dapat mengikuti kegiatan belajar di sana. Internet desa menjadi solusi bagi warga yang membutuhkan internet. Namun mereka pun perlu pendampingan, sebab internet di tangan manusia tanpa ilmu, hanya akan mendatangkan petaka.

Lulu Nugroho
Pengemban dakwah dan penulis dari Cirebon

Back to top button