#Pemilu 2019OPINI

Inilah Prestasi Demokrasi

Sejumlah media internasional menyoroti pelaksanaan pemilihan umum (Pemilu) yang dilakukan di Indonesia pada Rabu (17/4) lalu. Kantor berita asal Qatar, Al Jazeera dan media asing lainnya seperti Bloomberg, Agence France-Presse (AFP) asal Perancis, juga mewartakan hal serupa. Majalah The Economist juga melaporkan bahwa Indonesia menghadapi pemilihan umum terbesar dalam sejarah dunia dalam satu waktu.

Akan tetapi, tak seperti layaknya sebuah pesta yang membuat gembira. Pesta demokrasi yang digadang-gadang terbesar dalam sejarah ini, ternyata menyisakan duka mendalam. Meninggalnya ratusan petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) tak pelak menjadi perhatian dunia. Tidak hanya menyita perhatian publik nasional tapi juga media asing.

Situs berita Amerika Serikat (AS), CNN, turut menurunkan laporan terkait meninggalnya ratusan anggota KPPS. Dengan judul ‘Indonesian election: More than 300 election workers dead’ yang diartikan Pemilu Indonesia: Lebih dari 300 Pekerja Pemilu Tewas, CNN menyoroti faktor kelelahan yang menjadi penyebab meninggalnya petugas KPPS.

Dalam laporannya hingga Senin, menurut CNN mengutip dari Komisi Pemilihan Umum (KPU), 311 pejabat pemilu telah meninggal dan 2.232 orang lainnya jatuh sakit setelah pemilu. Sebanyak 810.0329 tempat pemungutan suara akan dibuka dan dijaga oleh 7,2 juta panitia pemilu. Disinyalir jumlah panitia tersebut melebihi penduduk Singapura yang hanya 5,6 juta. (Sindonews, 30/4/2019).

Pemilu yang dilaksanakan serentak ini untuk memilih presiden dan wakil presiden, anggota DPR RI, anggota DPRD provinsi, anggota DPRD kabupaten/ kota dan anggota DPD. Proses pemilu serentak ini merupakan yang pertama kali dilakukan di Indonesia. Sebanyak 192,8 juta warga negara akan menggunakan hak pilihnya.

Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK UI) Ari Fahrial Syam mengatakan, ada sejumlah hal yang diduga menjadi penyebab banyaknya KPPS yang meninggal dunia dan jatuh sakit saat bertugas.

“Pertama yang saya amati adalah waktu kerja yang sudah melewati jam biologis manusia. Mereka bekerja bahkan sampai 24 jam. Kemudian kita juga melihat pemeriksaan kesehatan mereka. Artinya mereka sebagian ada yang sehat ada yang tidak,” ujar Ari kepada wartawan di Kantor KPU, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (29/4).

Ketiga, faktor stres dan tekanan psikologis yang tinggi. Hal ini menjadi pemicu KPPS meninggal. “Jadi jam kerja, kemudian kondisi sebelum dalam kegiatan ini dan juga tingkat stres menjadi pemicu,” katanya.

Selain itu, kata ia, juga kondisi lingkungan kerja. Karena mereka berada di tenda-tenda dengan penerangan yang terbatas serta udara terbuka. Jadi kondisi lingkungan, kondisi fisik dan kondisi waktu kerja yang berlebihan ini jadi satu hal yang akhirnya mereka jatuh sakit dan bahkan menyebabkan kematian. (Republika.co.id, 29/4/2019)

Ari mengungkapkan, FKUI nantinya akan melakukan kajian ilmiah terhadap penyebab meninggalnya KPPS ini. FKUI akan terjun ke lapangan untuk melakukan penelitian, sehingga targetnya nanti adalah publikasi dalam jurnal nasional dan internasional.

1 2Laman berikutnya

Artikel Terkait

Back to top button